Rabu, 29 April 2026

Berita Bangka Selatan

DPRD Bangka Selatan Desak Hilirisasi Sawit, Nilai Tambah Ekonomi Daerah

DPRD Bangka Selatan mendesak pemerintah daerah segera mewacanakan hilirisasi Crude Palm Oil (CPO) sebagai langkah meningkatkan ekonomi daerah

Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Anggota DPRD Kabupaten Bangka Selatan dari Fraksi PKB, Kurniawan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA  – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bangka Selatan mendesak pemerintah daerah untuk segera mewacanakan hilirisasi Crude Palm Oil (CPO) sebagai langkah strategis meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.

Selama ini, komoditas sawit yang menjadi andalan masih didominasi penjualan dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut dinilai membuat potensi keuntungan besar justru mengalir ke luar daerah. Situasi ini memperlihatkan perlunya perubahan arah kebijakan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Anggota DPRD Kabupaten Bangka Selatan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kurniawan mengatakan Kabupaten Bangka Selatan saat ini masih berada pada posisi sebagai daerah penghasil, bukan pengolah komoditas sawit.

Perbandingan dengan daerah lain seperti Pulau Belitung disebut menjadi contoh bagaimana industri pengolahan mampu memberikan nilai tambah lebih besar. Padahal, jumlah pabrik pengolahan CPO di Pulau Bangka dinilai lebih banyak dibandingkan wilayah tersebut.

“Hari ini kita hanya menjadi daerah penghasil, bukan daerah pengolah,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, kondisi ini berdampak langsung terhadap kebocoran nilai tambah ekonomi yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat Kabupaten Bangka Selatan.

Potensi besar dari sektor perkebunan sawit belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya, daerah hanya memperoleh manfaat terbatas dari aktivitas produksi bahan mentah. Sementara nilai tambah ekonomi justru keluar dari dalam daerah.

Berdasarkan data yang dihimpun DPRD menunjukkan luas perkebunan sawit di Bangka Selatan mencapai sekitar 40.000 hektare milik masyarakat dan sekitar 58.132 hektare dalam izin perusahaan pada tahun 2025.

Dengan total luasan mendekati 100.000 hektare, produksi sawit diperkirakan mencapai puluhan ribu ton per tahun. Angka tersebut dinilai cukup besar untuk mendukung pengembangan industri pengolahan.

“Dengan luas lebih dari 90 ribu hektare, tidak ada alasan kita tetap hanya menjadi penghasil bahan mentah,” tegas Kurniawan.

Ia menilai hilirisasi CPO melalui pembangunan industri pengolahan seperti refinery dan produk turunan sawit merupakan solusi konkret.

Langkah ini diyakini mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperkuat struktur ekonomi lokal. Selain itu, keberadaan industri hilir juga dinilai akan menciptakan efek berganda bagi sektor lain.

Anggota Komisi III ini turut memberikan atensi terhadap posisi strategis Kabupaten Bangka Selatan yang berada di koridor ekonomi Sumatera bagian selatan serta dekat dengan jalur pelayaran nasional dan internasional di sekitar Selat Bangka.

Letak geografis tersebut dinilai menjadi keunggulan kompetitif dalam menarik investasi industri. Peluang ini, menurutnya, harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah daerah.

“Bangka Selatan sangat kompetitif untuk menjadi pusat industri sawit baru,” katanya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved