Kamis, 30 April 2026

Rumah Adat Babel Ditelan Modernisasi

Mengintip 3 Rumah Tradisional di Desa Ranggung, Beda Wujud Satu Warisan Kuat

Tiga rumah adat berusia ratusan tahun di Desa Ranggung menjadi saksi bisu ketangguhan material serta kearifan konstruksi masa lalu.

Tayang:
Penulis: Erlangga | Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Erlangga
RUMAH TRADISIONAL - Rumah tradisional yang dihuni Rosmili di Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Foto diambil pada Jumat (24/4/2026). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Desa Ranggung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, masih menyimpan jejak masa lalu yang bertahan dalam diam.

Tiga rumah adat berusia ratusan tahun tetap berdiri kokoh dan dihuni, menjadi saksi bisu ketangguhan material serta kearifan konstruksi masyarakat terdahulu.

Ketiga rumah itu dibangun dalam periode yang berdekatan.

Baca juga: Jejak Sejarah di Desa Ranggung, Rumah Ada Berbahan Kayu Berusia Ratusan Tahun Masih Berdiri Kokoh

Meski memiliki bentuk berbeda, semuanya menggunakan kayu nyatoh sebagai bahan utama serta menerapkan teknik sambungan tradisional pelideh, metode kunci antar papan tanpa paku yang membuat struktur rapat dan kuat.

Lokasinya pun tidak berjauhan. Tiga rumah itu hingga saat ini masih ditempati masing-masing ahli waris dari keluarga yang berbeda-beda.

Ada Amrullah, Rosmili, dan Li. Di antara ketiganya, rumah yang ditempati Amrullah bisa dikatakan yang paling terawat keasliannya.

Baca juga: Minim Penetapan Cagar Budaya, Rumah Adat Bangka Belitung Banyak yang Hancur dan Berubah Bentuk

Amrullah juga yang paling tua dibanding dua pemilik rumah lainnya.

Satu hal yang pasti, ketiga rumah itu memiliki tampilan serupa yaitu dindin papan memanjang dan atap limas berbahan genteng tanah liat. 

Sedikit perbedaannya, rumah Rosmili tidak memiliki teras depan dan ukurannya relatif lebih pendek.

Beberapa penyesuaian dilakukan tanpa mengubah bentuk utama. Di sisi kanan bangunan, misalnya, telah ditambahkan garasi berbahan baja ringan yang menyatu dengan struktur lama.

“Untuk rumah ini tidak memiliki teras karena masing-masing pemilik punya selera berbeda, menyesuaikan kebutuhan dan fungsi,” ujar tokoh adat setempat, Zainuddin, Jumat (27/4/2026).

Rumah lainnya terletak sekitar dua menit perjalanan dari lokasi tersebut. Hunian milik Li ini memiliki ciri yang sedikit berbeda.

Bagian depan dilengkapi teras memanjang, sementara beberapa tiang penopang telah diganti dengan beton, khususnya di bagian depan hingga tengah bangunan.

Meski begitu, bagian belakang masih mempertahankan konstruksi kayu dengan sistem pasak tradisional.

Sejumlah bagian bangunan mulai menunjukkan tanda usia—atap genteng yang retak dan papan dinding yang perlahan lapuk.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved