Rabu, 13 Mei 2026

Pengrajin Kapal Bertahan Melawan Zaman

Bangka Kota Dulu Jadi Pusat Peradaban Maritim Nusantara

Bangka Kota dulu menjadi pusat peradaban kuno di Pulau Bangka yang memiliki peran Jejak Peradaban Maritim penting dalam jalur perdagangan Nusantara

Tayang:
Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
PERAJIN KAPAL - Musri (49) seorang pengrajin kapal ketika tengah membuat kapal di tepi sungai Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin (11/5/2026). Kini sejumlah pengrajin kapal sudah mulai berkurang karena tidak adanya regenerasi. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, menegaskan bahwa Bangka Kota bukan sekadar kampung pesisir biasa.

Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat peradaban kuno di Pulau Bangka yang memiliki peran Jejak Peradaban Maritim penting dalam jalur perdagangan Nusantara sejak abad ke-17.

“Bangka Kota didirikan setelah jatuhnya Malaka ke tangan Belanda tahun 1641. Kawasan ini menjadi kota pertahanan sekaligus pelabuhan penting di pesisir barat Bangka,” ujar Elvian kepada Bangkapos.com, Senin (11/5/2026).

Baca juga: Senjakala Pengrajin Kapal Bangka Kota, Tradisi yang Perlahan Hilang Ditelan Zaman

Menurutnya, posisi Bangka Kota yang berada di muara sungai menjadikannya titik strategis penghubung perdagangan regional. 

lihat fotoGrafis jejak perajin kapal di Desa Bangka Kota Kecamatan Simpangrimba Kabupaten Bangka Selatan.
Grafis jejak perajin kapal di Desa Bangka Kota Kecamatan Simpangrimba Kabupaten Bangka Selatan.

Berbagai hasil bumi dan hasil hutan dari pedalaman Bangka diangkut melalui jalur sungai menggunakan perahu kecil menuju Bangka Kota sebelum dibawa menggunakan kapal kayu berukuran besar ke pelabuhan utama seperti Palembang dan Batavia.

Baca juga: 25 Titik Usaha Pembuatan Kapal Kayu Masih Bertahan di Pesisir Babel, Fokus Pembinaan

Komoditas yang diperdagangkan kala itu sangat beragam, mulai dari lada atau sahang, rotan, damar, madu, gaharu, hingga hasil tambang timah dan besi.

Aktivitas perdagangan tersebut melahirkan tradisi maritim yang kuat, termasuk teknologi pembuatan kapal kayu yang berkembang di kawasan itu.

Dalam catatan sejarah, Bangkakota bukan hanya dikenal sebagai pelabuhan dagang, tetapi juga pusat teknologi perkapalan tradisional.

Kapal-kapal besar bertiang layar diproduksi untuk kebutuhan perdagangan antarpulau, sementara perahuperahu kecil dibuat untuk transportasi sungai di dalam Pulau Bangka.

Elvian menjelaskan, kemampuan masyarakat Bangka Kota dalam membuat kapal tidak lahir begitu saja.

Teknologi itu terbentuk dari pertemuan budaya maritim sejumlah kerajaan besar yang pernah berpengaruh di kawasan tersebut, seperti Johor, Minangkabau, Banten, Palembang Darussalam, hingga Makassar.

“Keahlian pembuatan kapal diperoleh dari pertemuan antar kerajaan maritim yang pernah berkuasa di Bangkakota,” katanya.

Catatan VOC dalam Dagh-Register tertanggal 13 Februari 1682 bahkan menyebut Pangeran Arya, putra Sultan Abdurrahman dari Kesultanan Palembang, mendirikan benteng pertahanan di Bangka Kota dengan dukungan pasukan Makassar.

Dari kawasan ini pula diproduksi kapal perang jenis penjajab dan schooner Bangka untuk kepentingan pertahanan dan perdagangan.

Bagi masyarakat pesisir Bangka kala itu, kapal bukan sekadar alat transportasi. Kapal adalah simbol kekuatan ekonomi, identitas budaya, sekaligus penanda kejayaan maritim Pulau Bangka di jalur perdagangan dunia.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved