Rabu, 13 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Desa Bangka Kota Selama 3 Dekade Bertahan Jadi Kampung Transmigran Berkembang

Pada awal kedatangan, kehidupan warga transmigrasi sangat sederhana. Rumah-rumah papan berdiri berjauhan di tengah lahan yang belum

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Hendra
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Kawasan Transmigrasi – Kawasan pemukiman padat penduduk di wilayah transmigrasi Desa Bangka Kota, Rabu (13/5/2026). Kawasan tersebut kini mulai berkembang sejak 33 tahun silam. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Tanah merah yang basah usai diguyur hujan tampak lengket di sepanjang jalan Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.

Genangan air masih mengisi cekungan jalan tanah, sementara aroma khas tanah basah bercampur semak dan kayu lembap tercium kuat.

Sementara suara ayam kampung dan deru sepeda motor sesekali memecah kesunyian desa. Rumah-rumah warga berdiri berjauhan dengan jarak antar rumah mencapai kurang lebih dua kali jarak antar tiang listrik.

Di sela-sela jarak tersebut kini berdiri hamparan perkebunan kelapa sawit yang tumbuh memenuhi kawasan desa. Di kawasan itulah ratusan keluarga transmigran dari Pulau Jawa pernah memulai hidup baru pada awal  tahun 1990-an

Fatkhurohman masih sulit membayangkan kawasan itu dahulu hanyalah hamparan semak, tanah gambut, dan pasir basah yang membuat banyak orang menyerah.

Ia adalah generasi kedua transmigran Desa Bangka Kota, ikut datang bersama orang tuanya pada tahun 1993 saat usianya sekitar lima tahun. Banyak ingatan masa kecilnya samar, tetapi cerita perjuangan para transmigran masih terus melekat di kepalanya.

“Kalau setahu saya dari orang tua, karena saya ke transmigrasi sudah umur lima tahun, tahun 1993,” katanya pelan kepada Bangkapos.com, Rabu (13/5/2026).

Di masa itu Fatkhurohman bercerita, program transmigrasi masih berada di bawah Departemen Transmigrasi dan Perambah Hutan yang kini telah berubah nama menjadi Kementerian Transmigrasi.

Orang-orang dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Lampung mendaftarkan diri demi kesempatan hidup baru di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Mereka meninggalkan kampung halaman yang padat penduduk dengan harapan memperoleh lahan dan masa depan yang lebih baik.

Sebagian membawa anak kecil, sebagian lainnya datang dengan bekal seadanya dan keyakinan bahwa hidup akan berubah setelah menyeberangi laut. Namun harapan itu tidak selalu berjalan mulus.

Sesampainya di Bangka Kota, para transmigran justru berhadapan dengan bentang alam yang sama sekali berbeda dari daerah asal mereka.

Tanah di kawasan itu berupa gambut dan pasir berair yang sulit diolah. Ketika hujan turun, jalan berubah becek dan licin. Saat kemarau datang, tanah mengeras dan retak-retak. Bagi warga yang terbiasa bercocok tanam di tanah subur Pulau Jawa, kondisi itu menjadi pukulan berat.

“Perbedaan wilayah dari Pulau Jawa yang padat dan ramai, ke sini yang terlalu sepi, kemudian tanah bergambut dan tanah pasir serta berair, masyarakat transmigran kaget,” ujar Fatkhurohman.

Pada awal kedatangan, kehidupan warga transmigrasi sangat sederhana. Rumah-rumah papan berdiri berjauhan di tengah lahan yang belum sepenuhnya terbuka.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved