Berita Bangka Selatan
Transmigrasi Jadi Penggerak Ekonomi dan Pembentukan Wilayah di Basel
Program transmigrasi dinilai memberi kontribusi besar terhadap perkembangan wilayah dan pertumbuhan ekonomi di Bangka Selatan...
Penulis: Cepi Marlianto | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Program transmigrasi dinilai memiliki peran penting dalam perkembangan wilayah dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bangka Selatan. Sejak dimulai pada tahun 1982, program tersebut tidak hanya membuka kawasan permukiman baru, tetapi juga mendorong terbentuknya desa dan kecamatan baru di berbagai wilayah.
Kawasan transmigrasi di Bangka Selatan kini berkembang menjadi sentra pertanian, perkebunan, hingga peternakan yang menopang perekonomian masyarakat. Bahkan, sejumlah kawasan transmigrasi saat ini menjadi penopang produksi pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bangka Selatan, Ade Hermawan mengatakan, perkembangan kawasan transmigrasi sejauh ini sangat membantu pembangunan daerah. Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan tidak terlepas dari keberadaan program transmigrasi yang membuka pemukiman baru di berbagai wilayah. Misalnya 70 persen desa di Kecamatan Pulau Besar merupakan kawasan hasil pengembangan transmigrasi.
“Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan tidak terlepas daripada desa-desa baru dan pemukiman-pemukiman baru lewat program transmigrasi,” kata Ade Hermawan kepada Bangkapos.com, Kamis (14/5/2026).
Ade Hermawan menjelaskan, keberadaan transmigrasi turut membantu pemerataan penduduk dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat. Kawasan yang sebelumnya masih minim penduduk perlahan berkembang menjadi desa produktif dengan berbagai sektor usaha masyarakat. Selain itu, transmigrasi juga dinilai berperan dalam menjadikan Kabupaten Bangka Selatan sebagai lumbung pangan di Kepulauan Bangka Belitung dalam menggerakan sektor pertanian.
Ia menyebutkan, penempatan transmigrasi di Kabupaten Bangka Selatan pertama kali dimulai pada 1982 di Desa Rias, Kecamatan Toboali. Saat itu, warga transmigran berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang ditempatkan di kawasan pertanian baru. Sejak awal pelaksanaan, program transmigrasi tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Toboali, Kecamatan Pulau Besar, Kecamatan Air Gegas, dan Kecamatan Simpang Rimba.
“Sebaran sejak tahun 1982 kita tersebar di empat kecamatan yang ada penempatan transmigrasi,” jelas Ade.
Menurutnya dampak ekonomi dari kawasan transmigrasi kini mulai terlihat signifikan, terutama di sentra pertanian padi. Kawasan seperti Desa Rias dan Desa Batu Betumpang berkembang menjadi daerah penghasil gabah yang menopang ketahanan pangan daerah. Tingginya harga gabah kering panen yang saat ini mencapai Rp6.500 per kilogram turut meningkatkan pendapatan masyarakat petani. Kondisi ini menjadikan Kabupaten Bangka Selatan menjadi daerah swasembada pangan hingga perekonomian terbantu dengan adanya transmigrasi.
Selain sektor pertanian padi, kawasan transmigrasi di Bangka Selatan juga berkembang sesuai karakter wilayah masing-masing. Di Kecamatan Simpang Rimba, misalnya, masyarakat lebih banyak mengembangkan sektor perkebunan karena kondisi lahan tidak memungkinkan untuk dicetak sebagai persawahan. Komoditas seperti kelapa sawit, peternakan sapi, kambing, hingga produksi telur berkembang di kawasan tersebut.
“Di Simpang Rimba ada perkebunan sawit, peternakan kambing, sapi, serta produksi telur,” bebernya.
Begitu pula dengan kawasan transmigrasi lain seperti Desa Sidoarjo, Kecamatan Airgegas dan Desa Fajar Indah, Kecamatan Pulau Besar tumbuh menjadi sentra ekonomi baru di sektor hortikultura. Masyarakat di wilayah tersebut mengembangkan perkebunan jagung, sayuran, hingga kopi yang menjadi sumber penghasilan warga. Pertumbuhan ekonomi di kawasan transmigrasi menunjukkan perkembangan cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian kata Ade Hermawan, pemerintah daerah mengaku masih menghadapi kendala untuk membuka kawasan transmigrasi baru di Kabupaten Bangka Selatan. Keterbatasan lahan akibat kawasan hutan industri menjadi hambatan utama pengembangan transmigrasi saat ini. Penempatan transmigrasi terakhir dilakukan pada tahun 2006 di kawasan Bukit Anda, Desa Rias, dengan jumlah 73 kepala keluarga dari luar Bangka dan masyarakat lokal.
“Sampai sekarang belum ada penempatan baru karena kita terhambat dengan lokasi dan kawasan,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
| Daftar Aset Aliong To Bos Timah yang Disita Kejari, Kebun Sawit dan Karet, Rumah Kosong hingga Ruko |
|
|---|
| Kejari Basel Sita Aset Bos Timah, Kali Ini Giliran Aliong To, Kebun Sawit dan Rumah Ditempel Stiker |
|
|---|
| Gagal Tanam Padi, Kini Warga Transmigrasi di Desa Bangka Kota Bergantung Hidup dari Sawit |
|
|---|
| Transmigran di Desa Bangka Kota Ubah Lahan Pertanian Padi Jadi Perkebunan Sawit |
|
|---|
| Desa Bangka Kota Selama 3 Dekade Bertahan Jadi Kampung Transmigran Berkembang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260514-MUSDIMK-TANAM-Sejumlah-petani-ketika-melakukan-penanaman-padi-di.jpg)