Tribunners
Si Kutu Buku
Si kutu buku bukan si paling pintar, namun tetap dapat menghadirkan ruang empati tanpa kehilangan nalar.
Oleh: Eva Fidia Lestari - Bunda Literasi Bangka Tengah
KUTU adalah serangga tanpa sayap bersifat parasit yang mengisap darah binatang atau manusia. Namun, jika kata kutu menyandingi kata buku dan menjadi kutu buku maknanya berubah menjadi makna ganda yang berarti kutu buku sebagai serangga yang merusak buku dan kutu buku yang merujuk pada orang yang senang membaca dan menelaah buku.
Istilah kutu buku pada orang yang senang membaca buku terkadang menjadi bahan ejekan sebagai orang yang aneh karena berlagak pintar dan tidak suka bersosialisasi. Istilah ini terutama jika kegiatan membaca dilakukan pada tempat yang dianggap tidak ideal seperti perpustakaan.
Tentu perpustakaan menjadi rujukan utama sebagai tempat untuk membaca. Koleksi buku yang bervariasi, ruang baca yang sejuk, pencahayaan yang terang, meja kursi tersusun rapi, dan pembaca berkumpul pada aktivitas yang sama dengan minim suara. Namun, jika hal-hal tersebut menjadi syarat tempat membaca, maka kebiasaan membaca akan sulit dicapai, akan terus tertunda hingga kita punya waktu untuk datang ke perpustakaan.
Ruang baca bisa hadir di mana saja, saat menunggu antrean, di ruang tunggu bandara, saat menunggu ojek daring, dan di ruang publik lainnya. Bahkan saat ini banyak kafe yang menyediakan ruang baca seperti konsep perpustakaan sehingga kegiatan membaca lebih menarik, inklusif, dan tidak kaku.
Bagi saya, membaca serupa dengan rekreasi pikiran di tengah kebisingan, membaca adalah bentuk mempertahankan ruang pribadi, terhanyut pada isi bacaan yang membuat pembaca bisa menangis dan tertawa secara bersamaan saat membaca buku, hal yang kadang membuat saya khawatir orang-orang mengira saya halu.
Ruang publik merupakan ruang terbuka bagi siapa saja yang bisa digunakan sebagai tempat interaksi dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk membaca. Membaca buku di ruang publik bukan bentuk kesombongan dan ajang menunjukkan kepintaran.
Merujuk pada konsep antiperpustakaan (antilibrary) yang dicetuskan oleh Umberto Eco, seorang penulis dari Italia, yang berpendapat bahwa membaca buku menjadikan kita sebagai pribadi yang rendah hati karena makin banyak buku yang kita baca makin kita menyadari bahwa kita tidak tahu apa-apa. Kumpulan buku yang telah kita baca sebagai pengingat luasnya pengetahuan yang tidak kita ketahui.
Orang yang senang membaca buku adalah orang yang tahu diri bahwa pengetahuannya kurang sehingga merasa perlu menjadikan otaknya sebagai ruang kosong yang harus terus diisi dengan berbagai pengetahuan. Ruang sebagai sumber kekayaan yang berisi informasi.
Kegiatan membaca terlihat seperti kegiatan pasif tanpa interaksi, namun sesungguhnya pembaca adalah orang yang mampu menghidupkan isi bacaan dengan penafsiran. Itulah mengapa membaca menuntut kejujuran karena penafsiran merupakan pengejawantahan membaca buku secara utuh.
Media sosial kita boleh penuh dengan tampilan pura-pura membaca, namun isi kepala kita tidak. Membaca buku membuka wawasan dalam berpikir juga membuka ruang dialog terhadap perspektif orang lain. Pembaca buku tidak mudah menghakimi pikiran orang lain karena dia tahu banyak buku yang belum dibaca yang menjadikan dirinya belum tahu segalanya. Si kutu buku bukan si paling pintar, namun tetap dapat menghadirkan ruang empati tanpa kehilangan nalar.
Di Hari Buku Nasional ini, saya sebagai Bunda Literasi mengajak masyarakat untuk mulai membaca buku. Mulai dari buku yang kita suka karena tiap orang punya selera. Membaca mesti membahagiakan karena yang paling utama bukan berlomba menumpuk buku tanpa pernah dibaca, namun berlomba membaca sampai akhirnya jadi tumpukan buku.
Tidak perlu merasa minder atau FOMO (fear of missing out) atas pencapaian literasi yang telah orang lain raih. Semua orang melalui proses yang boleh jadi tidak sama, proses yang membentuk diri kita, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana kita menghadapi persoalan hidup dan menghadapi situasi dunia yang terus berubah.
Mari jadikan buku sebagai penawar, menjadi nutrisi hati dan pikiran. Selamat Hari Buku Nasional. Buku apa yang sudah kamu baca hari ini? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260507_Eva-Fidia-Lestari.jpg)