Selasa, 19 Mei 2026

Berita Bangka Barat

Sapi Limosin di Peternakan Hendri Diberi Perlakuan Khusus, Harga Jual Capai 2 Kali Lipat dari Modal

Hendri, peternak sapi asal Desa Mislak, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat mengaku bahwa ada perbedaan perawatan antara sapi limosin

Tayang:
Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
SAPI LIMOSIN — Hendri, salah satu peternak sapi limosin dan sapi jenis lainnya di Desa Mislak, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. Foto diambil beberapa waktu lalu 

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Ukuran tubuh yang tegap dan besar menjadi salah satu ciri khas sapi limosin dibanding jenis sapi lainnya.

Sesuai namanya, sapi limosin bagaikan kendaraan mewah yang punya harga jual tinggi dan perlu diberi perlakuan khusus.

Tak heran, jika sapi limosin jadi salah satu jenis sapi yang punya kelas tersendiri, termasuk dijadikan pilihan sebagai hewan kurban.

Hendri, peternak sapi asal Desa Mislak, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat mengaku bahwa ada perbedaan perawatan antara sapi limosin dengan sapi jenis lainnya.

Kini, di peternakan miliknya terdapat dua sapi limosin dengan berat kurang lebih 500 kilogram. Sapi itu dia beli dari Lampung pada akhir Desember 2025 lalu.

Saat itu, satu ekor sapi limosin tersebut dia beli seharga Rp16 juta dengan berat sekitar 380 kilogram.

Dua sapi limosin miliknya itu sudah kurang lebih 5 bulan dia rawat. Bahkan, sudah ada yang menawar untuk dibeli seharga Rp32 juta per ekor, atau dua kali lipat dari harga modal.

“Tapi belum saya lepas, saya maunya Rp34 juta atau Rp35 juta lah,” kata Hendri kepada Bangkapos.com, Selasa (19/5/2026).

Diakui Hendri, waktu pertami kali tiba di peternakan miliknya, dua sapi limosin yang dia beli dari Lampung tersebut berumur sekitar satu tahun lebih.

Saat itu, umurnya sudah sekitar 3 tahun dan terus diberi perlakuan khusus. Salah satunya adalah dari segi pakan.

Hendri menyebut, dirinya mempunyai metode khusus untuk penggemukan sapi limosin di kandang miliknya.

Dia mengaku, pakan yang diberi yakni berupa bungkil kedelai (ampas biji kedelai) sebagai bahan campuran pakan sapu.

Bungkil kedelai itu dia beli dan rutin dikirim dari Jawa lantaran sulit menemukannya di Pulau Bangka.

Dengan diberi pakan bungkil kedelai tersebut, bobot sapi limosin jadi cepat bertambah, bahkan bisa lebih dari 1 kilogram setiap harinya.

“Kalau saya yang paling beda dari peternakan lain itu karena saya pakai bungkil kedelai. Mana ada peternakan lain yang pakai itu. Kedelai itu juga enggak ada di sini, saya beli, kirim dari Jawa,” ungkapnya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved