Rabu, 27 Mei 2026

Berita Bangka

Pengepul Ikut Kena Imbas Harga Sawit Anjlok, Berharap Harga Segera Naik dan Stabil

Edo memprediksi, jika harga sawit tidak segera stabil, para petani akan terpaksa memangkas dosis pemupukan demi menghemat biaya operasional

Tayang:
Penulis: Adi Saputra | Editor: Hendra
Dokumen Pribadi/Maulana
PETANI SAWIT -- Maulana salah satu petani sawit, asal Riau Silip, Kabupaten Bangka. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Ketidakpastian ekonomi kembali membayangi para petani kelapa sawit di wilayah Bangka Belitung (Babel), khususnya di Kabupaten Bangka setelah sempat menikmati harga yang cukup tinggi.

Beberapa hari terakhir harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit, mengalami penurunan drastis atau terjun bebas yang memicu kekhawatiran besar di tingkat petinggi logistik perkebunan hingga petani swadaya.

Hal itu diakui Edo salah satu pengepul TBS sawet asal Desa Cit, Kecamatan Riu Silip, Kabupaten Bangka, penurunan harga yang terjadi di tingkat pabrik dalam waktu singkat ini sangat signifikan dan memukul pendapatan di rantai pasok paling bawah.

"Sebelumnya dalam bulan ini harga sempat menyentuh Rp3.150. Tapi tiga hari terakhir kemarin, harga di GPL turun drastis menjadi Rp2.300 sampai Rp2.380 per kilogram. Penurunan ini langsung terjun bebas hanya dalam waktu satu minggu," ungkap Edo kepada Bangkapos.com, Minggu (24/5/2026).

Sebagai pengepul TBS sawit dirinya, harus menyesuaikan harga beli di tingkat petani agar tidak merugi, mengingat posisinya yang juga menanggung biaya transportasi ke pabrik.

Saat ini, Edo mengambil buah sawit dari petani dengan harga sekitar Rp2.080 per kilogram untuk kualitas buah super atau buah masak dengan kriteria berat di atas 5 kilogram.

"Kalau untuk buah yang bagus, yang masuk kriteria buah masak di atas 5 kilogam, saya ambil di tingkat petani dengan harga Rp2.080. Kita selaku pengepul kan tetap mengikuti tren harga pabrik dan hitung-hitungannya kami ini cuma mengambil selisih Rp300 untuk jasa angkut saja," ucapnya.

Meskipun begitu, penurunan harga belum mempengaruhi volume atau tonase penjualan dari petani secara drastis karena faktor rotasi panen yang sudah terjadwal, dampak jangka panjang justru dinilai jauh lebih berbahaya.

"Masalah utama yang kini dihadapi petani adalah ketidakseimbangan, antara harga jual sawit yang murah dengan harga pupuk yang kian melambung tinggi," bebernya.

Edo memprediksi, jika harga sawit tidak segera stabil, para petani akan terpaksa memangkas dosis pemupukan demi menghemat biaya operasional dan akan berdampak buruk baru akan terasa pada beberapa bulan ke depan berupa penurunan kualitas dan kuantitas buah sawit.

"Kalau ke depannya harga tidak stabil, pasti akan ngefek. Efeknya di mana? Petani jelas akan mengurangkan dosis pupuk karena harga pupuk sekarang sangat mahal," kata Edo.

"Analoginya, untuk satu hektar lahan, seandainya kita memupuk hari ini, mungkin butuh dua sampai tiga kali panen baru bisa mengembalikan modal untuk beli pupuk," ujarnya.

Pelaku usaha dan petani sawit hanya bisa berharap, ada intervensi atau kebijakan dari pihak terkait guna menstabilkan kembali harga TBS di pabrik agar roda perekonomian masyarakat perkebunan tidak semakin terpuruk.

"Ya intinya, kami pengepul atau petani buah sawit harga cepat kembali naik dan stabil. Jangan sampai turun terus, mudah-mudahan Senin depan harga sudah kembali naik atau normal," harapnya. (Bangkapos.com/Adi Saputra).

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved