Resonansi
Menemani Setiap Cerita
27 dan 25 pada tanggal 25 Mei 2026, menjadi penanda penting Bangka Pos dan Pos Belitung. Itulah tahun perjalanan kami di Bangka Belitung.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
27 dan 25 pada tanggal 25 Mei 2026, menjadi penanda penting Bangka Pos dan Pos Belitung. Itulah tahun perjalanan kami di Bangka Belitung. Waktu yang memang tidak terbilang pendek, terutama bagi media lokal yang harus bertahan hidup saat kabar mengalir lebih cepat daripada ketikan ibu jari di atas layar jemala.
Di sebuah kepulauan timah yang berkali-kali pasang surut soal nasib, kami sejatinya bukan sekedar saksi mata untuk peristiwa. Ada kalanya kami tumbuh bersama denyut nadi sebuah daerah. Terkadang, kami ikut menua bersama jalan berlubang, ceruk tambang yang menganga, pasar yang bolak-balik direncanakan berpindah, pelabuhan yang sepi atau wajah-wajah sunyi yang luput dari angka statistik sekalipun.
Dalam dekapan kesunyian daerah, terkadang kami menjadi perawat ingatan kolektif. Bahkan, seringkali menjadi satu-satunya yang tersisa. Tersisa, untuk terus merekam hujan pertama seusai kemarau yang menyengat kulit. Tersisa, untuk mencatat anak nelayan yang berhasil mengenakan seragam polisi, kisah pilu seorang ibu yang kehilangan suami di laut, hingga seorang ayah yang berteriak saat putranya disergap buaya dan janji-janji politik yang terucap mudah oleh kekuasaan.
Atas itu semua, barangkali disinilah letak makna sejati dari menemani setiap cerita.
Menemani dalam arti tidak hanya hadir saat seremonial peresmian dan gemuruh tawa dan tepuk tangan. Tapi, menemani untuk tetap tinggal ketika lampu panggung dipadamkan, ketika sengketa lahan tak kunjung usai, ketika harga lada naik turun di pasaran dan ketika orang kecil memiliki lembar koran hanya untuk memastikan suara mereka belum sepenuhnya senyap.
Terkesan paradoks dalam karib. Tapi, ada tuntutan untuk dekat dengan pembaca, dan saat bersamaan menjaga kewarasan demi jurnalisme berkualitas.
Tuntutan kecepatan, tagihan akurasi, permintaan sikap kritis sekaligus gigih bertahan hidup di tengah sisa-sisa ruang iklan yang menyusut dan algoritma digital yang rakus perhatian, menjadi sorotan kami dalam satu tahun terakhir.
Dalam ruang paradoks itulah martabat kami diuji. Sebab, jurnalisme pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling cepat melempar berita. Melainkan tentang siapa yang memilih untuk tetap tinggal paling akhir, ketika sebuah peristiwa tidak lagi dianggap menarik sebagian orang.
Tengok saja, tajuk tentang komoditas timah, pusaran korupsi, bencana banjir dan konsistensi pemilu, tulisan itu perlahan dilupakan. Namun, tidak untuk yang paling bersahaja tentang siapa yang sudi datang ke kampung, dan kemudian tekun mendengarkan keluh kesah mereka, lalu mengeja sekaligus menorehkan nama mereka dengan benar.
Di ruang itu, Bangka Pos dan Pos Belitung terus berkarya. Dan dalam rentang waktu lebih dari dua dekade itu, ribuan halaman tercetak, dan ribuan nama bertransformasi menjadi bagian sejarah di Bangka Belitung, dan nasional.
Hal ini tentu ada latarnya. Bagi kami sejarah besar tidak selalu soal peristiwa megah. Sejarah justru kerap dirajut dari cerita kecil yang dirawat setia agar tidak punah ditelan zaman.
Inilah kemewahan kami. Ketika semua berebut untuk menjadi viral, kami bersedia setia menyediakan telinga untuk mendengar, dan memastikan bahwa cerita tidak berjalan sendirian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)