Resonansi
AI dan Mesin Hitung Manusia
Saat perusahaan teknologi jor-joran menginvestasikan ratusan miliar AS untuk AI, mereka ini justru mengurangi manusia.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
Langkah Amozon memangkas 16 ribu keryawan pada awal 2026, siapa sangka bakal diikuti perusahaan teknologi raksasa lain dalam waktu dekat. Kali ini giliran Meta dan Microsoft yang berencana melakoni Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Jumlahnya pun terbilang kakap, yakni sebanyak 20 ribu karyawan.
Kabar itu sederhana. Alasan yang disampaikan juga terdengar rasional. Ada efesiensi, restrukturisasi dan yang tak tertinggal adalah mantra artificial intelligence (AI). Dari hal yang terdengar rasional, rasa skeptis justru datang bertubi-tubi.
Tengok saja, rencana PHK diumumkan Meta melalui memo. Disebutkan, akan ada 10 persen dari total karyawan yang kena PHK. Angka itu setara dengan delapan ribu pekerja. Uniknya, mereka juga membatalkan rencana merekrut enam ribu karyawan baru.
Sementara Microsoft, menggeser tenaga kerja melalui skema buyout dan efesiensi struktural. Skema buyout adalah mekanisme dimana perusahaan menawarkan kompensasi kepada karyawan untuk mengundurkan diri secara sukarela. Secara sederhana, perusahaan membayar karyawan untuk pergi.
Skema buyout ini kemudian dirancang menggiurkan demi memangkas karyawan dalam jumlah besar. Bayangkan saja, skema buyout ini mencakup pesangon yang lebih besar dari standar, tunjangan tambahan dan batas waktu keputusan.
Nah, jauh sebelum Meta dan Microsoft mengumumkan PHK, sejumlah perusahaan teknologi telah menggelar PHK. Catatan Layoffs.fyi, melaporkan sekira 92 ribu pekerja di sektor teknologi terkena PHK.
Catatan lain, CEO Snap, Evan Spiegel mengemukakan pemangkasan karyawan karena dipicu penggunaan AI. Snap mengumumkan PHK 16 persen karyawan atau seribu karyawan pada bulan Maret kemarin. Hal senada juga dilakukan Salesforce, perusahaan perangkat lunak AS. Salesforce mengumumkan PHK empat ribu karyawan pada September lalu.
Perusahaan Oracle juga dikabarkan melakukan PHK pada Maret kemarin. Perusahaan itu ditengarai terkena dampak gelombang penggunaan AI.
Sekedar catatan, sejak kelahirannya, AI memang menjanjikan kerja-kerja yang lebih cepat, murah dan presisi. Hal ini memangkas habis sikap manusia yang lambat, mahal dan terkadang penuh ambiguitas.
Namun demikian, ada ironi yang sulit dihindari. Saat perusahaan teknologi jor-joran menginvestasikan ratusan miliar AS untuk AI, mereka ini justru mengurangi manusia. Perusahaan lalu berlomba mengadopsi AI. Bukan untuk unggul, tetapi mereka justru memilih untuk bertahan.
Pasar kerja lalu berubah bertahap. Pasar kerja menjadi medan tempur tanpa suara. Tiada ledakan. Hanya ada notifikasi email. Isi email hanya menjelaskan fungsi manusia yang kini lebih berada di jalur opsional.
Perlahan banyak manusia tidak lagi dibutuhkan dalam sistem. Dan bila itu berlangsung lama, opsional ini dalam sistem akan dihilangkan. Dan akhirnya, dunia kerja menjadi mesin dengan sedikit manusia.
Hingga penutup kata, kemajuan tidak lagi soal kemanusian. Kemajuan bisa jadi sesuatu yang diukur atas dasar fungsi dan produktivitas belaka, tanpa nilai-nilai lain yang dikandung seorang manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)