Rabu, 27 Mei 2026

Tribunners

Mengaminkan Ucapan Presiden

Tentu sekali lagi guru-guru tidak salah jika masih berharap apa yang diucapkan presiden kemarin itu nantinya akan terwujud

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Syamsul Bahri
Syamsul Bahri, S.Pd.I. - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali, Bangka Selatan 

Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali

SUASANA berbeda di ruang sidang paripurna DPR RI pada Rabu, 20 Mei 2026. Di momen Hari Kebangkitan Nasional pertama kali dalam sejarah, Presiden Republik Indonesia datang langsung ke sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEMPPKF). Hal itu suatu yang di luar kebiasaan, karena biasanya presiden akan diwakili oleh menteri terkait. 

Dikutip dari cnbcindonesia.com, Presiden Prabowo Subianto menyatakan, langkah tersebut merupakan kesengajaan agar seluruh anggota DPR memahami rancangan awal Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2027. Kehadiran langsung orang nomor satu di republik ini tentunya sebuah kejutan dan kehormatan bagi para wakil rakyat yang terhormat.

Sontak saja kedatangan sang pemimpin tertinggi eksekutif itu disambut oleh pimpinan tertinggi lembaga legislatif. Tampak dalam tampilan layar kedua petinggi yang mewakili lembaga tinggi negara itu berjalan elegan dengan alas karpet merah menuju kursi istimewa yang sudah disiapkan. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata rakyat.

Belum rampung surprise dengan kehadirannya, sang presiden kembali membuat kejutan tatkala menyampaikan pidatonya dalam sidang paripurna DPR tersebut. Ada satu momen menarik ketika Presiden Prabowo Subianto memaparkan tentang kesejahteraan abdi negara. Di hadapan para anggota DPR RI, Presiden Prabowo menyebutkan kenaikan gaji guru hingga 300 persen. Namun dalam hitungan detik, beliau langsung meralat ucapannya, karena hal itu ternyata bukan untuk guru tapi untuk para hakim.

Fenomena tersebut sontak membuat guru-guru seperti kejatuhan durian masak yang jatuh tepat di depannya, kesemringahan tentu menyelimuti guru-guru. Jika berada dalam satu ruangan mungkin saja guru-guru akan langsung menyalami sang presiden sebagai ungkapan rasa terima kasih. Atau mungkin guru-guru akan membuat karangan bunga yang besar sebagai wujud kebahagiaan.

Namun ternyata dalam hitungan detik, kebahagiaan guru-guru lenyap diterbangkan oleh asap-asap knalpot kendaraan yang melintasi di depan gedung DPR. Asa guru-guru itu hilang terhapus bersamaan dengan kalimat ralat dari sang presiden. Angin segar itu pun kembali lenyap bagai ditelan bumi.

Kejadian ini menjadi sorotan di media sosial. Sejumlah warganet menilai momen tersebut manusiawi dan bisa terjadi pada siapa saja saat berbicara di forum besar. Namun, ada pula yang khawatir potongan video pidato itu disalahgunakan oleh oknum untuk membuat konten yang menyesatkan.

Seperti pengamat komunikasi publik, Rudi Santoso, dalam isbcenter.com menyebut fenomena seperti itu dalam pidato kenegaraan memang lumrah terjadi. “Setiap orang bisa salah ucap, apalagi dalam tekanan berbicara di depan publik. Yang penting langsung dikoreksi, dan itu sudah dilakukan presiden,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Ia juga mengingatkan agar masyarakat bijak menyikapi potongan video yang beredar.
“Rawan sekali kalau videonya dipotong hanya di bagian salah sebut itu, lalu diberi narasi palsu. Ini bisa jadi bahan hoaks demi mengejar trafik dan cuan,” tambah Rudi.

Peristiwa yang dialami Presiden Prabowo itu sering disebut slip of the tongue atau salah ucap. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) keseleo lidah (slip of the tongue) memiliki makna salah mengucapkan; salah mengatakan. Adapun dalam Wikipedia.org fenomena tersebut bisa juga disebut kilir lidah dengan makna yang hampir sama.

Lebih lanjut dijelaskan hal itu terjadi karena kondisi pengucapan yang keliru antara hasil produksi tuturan dengan apa yang sebenarnya ingin diucapkan dan dimaksudkan. Ada kesulitan atau ketidaklancaran dalam berbahasa. Kilir lidah termasuk dalam kekeliruan berbahasa atau kekeliruan wicara karena penutur tidak memproduksi kata yang sebenarnya dikehendaki. 

Ketika penutur menyadari kekeliruan yang diperbuat, biasanya mereka melakukan perbaikan, senyap sebentar, melanjutkan tuturannya lagi, atau terkadang menambahkan komentar atas kekeliruan yang telah diucapkan tersebut. Proses koreksi kekeliruan dalam kilir lidah berkolerasi dengan retrival kata, yaitu proses pemanggilan kosakata yang dibutuhkan dalam tuturan. Sebagai contoh, penutur mengucapkan "makan" untuk maksud "makam"; "kanan" untuk maksud "kiri"; "melon" untuk maksud "lemon"; dan sebagainya.

Adi Nugroho dalam tulisannya slip of the tongue mengutip pendapat Gary Dell, pakar kognitif yang juga profesor linguistik dan psikologi di University of Illinois, seperti dilansir Psychology Today menyatakan bahwa slip of the tongue menunjukkan kapasitas seseorang untuk menggunakan bahasa dan komponennya.

Dell berpendapat: konsep, kata-kata dan suara itu saling berhubungan di dalam tiga jaringan di otak, yakni: semantik, leksikal dan fonologi. Cara bercakap setiap orang itu muncul dari interaksi ketiga jaringan di otak tersebut. Ketiga jaringan di dalam otak itu beroperasi melalui proses yang disebut aktivasi penyebaran. Tapi, terkadang antara ketiga jaringan itu tersandung satu sama lain. Ini bisa terjadi akibat adanya konsep kata yang mirip, pelafalan yang rancu, asosiasi antarkata yang mirip, atau bisa juga terjadi akibat eror pada otak belaka. Inilah yang menyebabkan terjadinya keseleo lidah atau slip of the tongue.

Sebenarnya apa yang dialami oleh Presiden Prabowo juga pernah terjadi pada pemimpin dunia. Seperti di Amerika, pernah terjadi keseleo lidah yang dialami George H.W. Bush pada 1988, kala itu masih menjabat sebagai wakil presiden. Ketika berpidato, dia berkata: “We’ve had some sex…..uhh…setbacks,”. Maksudnya dia ingin mengatakan “setbacks” tapi keliru menyebut “some sex”. Ketika itu Bush seharusnya memberikan pidato tentang kesuksesan kebijakan pertanian yang ia rampungkan bersama Presiden Ronald Reagen.

Lama berkarier di dunia politik hingga menjadi presiden Amerika Serikat, di mana kariernya terukir dalam buku sejarah, tapi ceritanya yang keseleo lidah itu dianggap cukup tragis. Karena diingat terus oleh masyarakat luas, dan selalu dikaitkan dalam menilai kepemimpinan Bush senior.

Terlepas apa pun penyebab kekeliruan Presiden Prabowo di atas, mungkin tidak ada salahnya jika para guru berhusnuzzon bahwa sebenarnya di dalam lubuk hati yang paling dalam sang presiden memang sudah ada niat untuk menyejahterakan guru-guru di Indonesia, namun belum bisa terealisasi karena beberapa kendala yang mungkin saja sedang dicarikan solusinya. Tentu sekali lagi guru-guru tidak salah jika masih berharap apa yang diucapkan presiden kemarin itu nantinya akan terwujud dan tidak salahnya juga untuk diaminkan. (*)

 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved