Selasa, 26 Mei 2026

Tribunners

Menimbang Makna Kurban di Era Digital

Dalam dunia yang makin visual ini, kita perlu memperkuat literasi spiritual bahwa kurban adalah soal hati, bukan soal citra.

Tayang:
Editor: suhendri
Istimewa/Dok. Fathurozi
Fathurozi - Pegawai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang 

Oleh: Fathurozi - Pegawai Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

MENJELANG Iduladha yang tahun ini jatuh pada tanggal 27 Mei 2026, percakapan ringan di grup WhatsApp keluarga mulai menghangat. Topiknya seputar rencana berkurban. Seorang anggota keluarga bertanya santai, “Enaknya kurban sapi atau kambing, ya?” Tak butuh waktu lama, balasan pun muncul, “Sapi aja, biar yang darah tinggi bisa ikut makan. Katanya kolesterolnya lebih rendah.”

Sekilas, obrolan ini terdengar ringan dan menghibur. Namun, di balik candaan itu, terselip pertanyaan, untuk siapa sebenarnya kurban itu? Apakah yang terpenting hanya memilih jenis hewan, menghitung kadar gizinya, atau mempertimbangkan aspek gengsi sosial? Ataukah ada makna yang jauh lebih luhur dari sekadar membagikan daging?

Hewan yang dikurbankan bukanlah persembahan demi kemegahan upacara atau semata untuk kepuasan mereka yang mampu, tetapi sebagai wujud keadilan pangan, terutama bagi mereka yang selama ini hidup dalam kekurangan.

Kita yang hampir setiap hari bisa memilih menu makan, dari ayam goreng, rendang, hingga steak, mungkin terbiasa memandang kurban dari sisi selera atau kesehatan. Tapi bagi sebagian saudara kita, yang bahkan untuk sekadar makan dengan lauk tahu pun harus berhemat, sepotong daging kurban bisa menjadi sumber kebahagiaan mereka. Maka, perdebatan soal kolesterol terasa kurang relevan jika semangat kurban adalah tentang memberi, bukan sekadar menikmati.

Secara fikih, baik sapi maupun kambing sah dijadikan hewan kurban, masing-masing dengan ketentuan yang sudah diatur. Satu ekor sapi bisa untuk tujuh orang, sedangkan kambing hanya untuk satu orang. Namun dari sisi keutamaan, tak ada jenis hewan yang lebih mulia secara mutlak.

Sayangnya, dalam praktik, makna kurban sering kali bergeser. Sapi kadang dianggap lebih prestisius, terutama, jika kurbannya dilakukan secara patungan. Sementara kambing kerap dipandang kelas dua. Padahal, seseorang menjalan ibadah kurban bukan dilihat pada jenis hewannya, tapi pada keikhlasan dan niatnya.

Selfie dengan hewan kurban

Beberapa tahun belakangan, kita menyaksikan tren yang makin mencolok di media sosial, selfie dengan hewan kurban. Senyum lebar di samping sapi atau kambing, caption penuh semangat religius atau kebanggaan, dan tentu saja, tagar seperti #kurban2026 atau #berbagi jadi pelengkap wajib.

Fenomena ini sebagai cermin kebutuhan simbolik manusia di era digital. Dalam masyarakat visual seperti sekarang ini, eksistensi sering kali diukur bukan dari kualitas batin, tapi dari seberapa sering dan menarik kita tampil di media sosial. Bahkan praktik ibadah, yang idealnya bersifat batiniah dan spiritual, kini perlahan mengalami transformasi menjadi citra, lalu dibagikan sebagai konten digital.

Jean Baudrillard, filsuf postmodern asal Prancis, dalam karyanya berjudul Simulacra and Simulation (1985), menyatakan bahwa apa yang kita lihat di media bukanlah realitas, melainkan simulasi, representasi yang telah kehilangan rujukan aslinya. Di tengah dominasi media, kita tak lagi berhadapan dengan kenyataan autentik, melainkan dengan hiperrealitas realitas semu yang dibangun dari simbol dan tanda yang menyerupai kenyataan itu sendiri.

Selfie dengan hewan kurban adalah contoh kontemporer dari bagaimana ibadah yang sakral dapat terjebak dalam pusaran simulakra. Hewan kurban tak lagi sekadar simbol pengorbanan seperti yang diteladankan Nabi Ibrahim AS, melainkan berubah menjadi objek visual untuk membentuk citra diri. 

Kita menyaksikan bagaimana narasi pengorbanan yang semestinya memuat nilai keikhlasan, empati, dan kepasrahan kepada Tuhan, kini dibingkai dalam format yang instagramable. Aksi berkurban di media sosial bukan lagi menyentuh esensi pengorbanan, melainkan menjadi ajang membangun impresi sebagai pribadi yang saleh, dermawan, dan layak dikagumi. Fokusnya bukan lagi pada ketulusan, tapi pada citra.

Tentu saja, tidak semua bentuk dokumentasi publik bisa serta-merta dicap sebagai riya. Ada lembaga sosial yang memang perlu menunjukkan aktivitasnya sebagai bentuk akuntabilitas publik. Ada juga orang-orang yang dengan niat baik ingin menginspirasi orang lain.

Namun, kita perlu mencerna lebih dalam perbedaan antara berbagi informasi dan membangun citra. Jika yang ditampilkan adalah kemegahan hewan kurban, bukan senyum tulus para penerima, mungkin saja yang ditonjolkan adalah ego, bukan empati.

Kurban bukan ajang gengsi

Kurban bukan semata persoalan tentang hewan apa yang dipilih, di mana disembelih, atau berapa harganya. Lebih dari itu, kurban adalah ibadah yang mengajarkan keikhlasan, keberanian, dan cinta yang tulus kepada Tuhan. Kita semua mengenal kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, yang menjadi simbol pengorbanan, kesediaan menyerahkan sesuatu yang paling dicintai demi kebaikan yang lebih besar.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved