Rabu, 27 Mei 2026

Tribunners

Mencari Jiwa dalam Dunia Ekonomi Modern

Jika ekonomi dibangun di atas moral, tanggung jawab, dan spiritualitas, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kekayaan, tetapi juga keberkahan

Tayang:
Editor: suhendri
Dokumentasi Lukman Hakim
Lukman Hakim - Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel  

Oleh: Lukman Hakim - Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel 

"Kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada baiknya jiwa"

                                                                -Al Ghazali-

SAAT ini, banyak yang meyakini bahwa pasar dapat menyelesaikan hampir semua masalah manusia. Selama produksi meningkat, investasi tumbuh, dan pertumbuhan ekonomi stabil, masyarakat dianggap menuju kesejahteraan.

Namun, kenyataan menunjukkan hal berbeda. Di tengah kemajuan teknologi, gedung pencakar langit, dan digitalisasi yang pesat, masyarakat modern justru menghadapi tantangan yang makin kompleks, seperti ketimpangan sosial, kerakusan ekonomi, krisis moral, dan hilangnya makna hidup.

Di era dimana keuntungan sering diutamakan dibandingkan keadilan. Perusahaan besar meraih laba triliunan rupiah, sementara buruh masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Pasar modal meningkat, tetapi petani tetap kesulitan menjual hasil panen dengan harga yang layak. Di media sosial, gaya hidup mewah terus dipamerkan, sementara banyak orang diam-diam terjebak dalam utang konsumtif.

Pertanyaannya sederhana namun mengganggu: apakah ilmu ekonomi modern benar-benar sedang membawa manusia menuju kesejahteraan, atau justru sedang melahirkan bentuk baru dari krisis kemanusiaan? Pertanyaan itu menjadi makin penting ketika dunia mulai menyadari bahwa ekonomi ternyata tidak pernah benar-benar netral.

Di balik teori-teori ekonomi modern, tersembunyi cara pandang tertentu tentang manusia, kehidupan, dan tujuan hidup itu sendiri. Mari menarik napas sejenak, tenangkan diri dan pikiran lalu bersama menelusuri akar persoalan tersebut melalui pendekatan filsafat ilmu -epistemologi- sehingga mampu menyimpulkan penyebab anomali paling mendasar pada problem ekonomi modern, bukan pada sistem pasar, namun pada cara berpikir yang melandasinya.

Mitos ‘bebas nilai’ ekonomi modern

Ekonomi konvensional tumbuh dari tradisi filsafat Barat modern yang dipengaruhi rasionalisme, empirisme, positivisme, dan sekularisme. Rasionalitas manusia dianggap sebagai sumber utama kebenaran. Fakta empiris diposisikan sebagai ukuran ilmiah tertinggi. Sementara agama dan moral perlahan dipinggirkan dari ruang ekonomi.

Auguste Comte, tokoh positivisme, bahkan meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. Artinya, ilmu hanya bertugas menjelaskan fakta, bukan menentukan baik atau buruk. Dalam praktik ekonomi modern, pandangan ini melahirkan keyakinan bahwa ekonomi cukup berbicara soal efisiensi, produksi, distribusi, dan keuntungan. Moral dianggap urusan pribadi.

Di titik inilah persoalan besar mulai muncul. Ketika ekonomi dipisahkan dari etika, maka keserakahan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal. Selama sebuah aktivitas menghasilkan keuntungan dan tidak melanggar hukum formal, maka ia dianggap sah. Akibatnya, manusia mulai terbiasa melihat dunia hanya melalui angka dan kesuksesan diukur dari besarnya laba serta yang lebih ironis, tingginya konsumsi menjadi tolok ukur kemajuan.

Mengutip kritik Karl Polanyi dalam The Great Transformation yang menjelaskan bahwa pasar modern sering kali mendorong manusia menjadi sekadar objek ekonomi. Bahkan Joseph Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, mengingatkan bahwa globalisasi modern telah melahirkan ketimpangan sosial yang sangat serius. Fakta ini sebenarnya terlihat jelas di sekitar kita. Hari ini orang berlomba menjadi kaya secepat mungkin. Anak muda didorong mengejar “cuan” tanpa pernah benar-benar diajarkan makna keberkahan.

Dunia digital bahkan melahirkan budaya baru: flexing, FOMO, YOLO dan konsumsi impulsif sehingga orang membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut dianggap tertinggal. Ironisnya, makin banyak barang yang dimiliki justru makin banyak pula manusia modern merasa kosong.

Tak dapat dimungkiri, salah satu konsep paling berpengaruh dalam ekonomi modern adalah homo economicus. Konsep ini memandang manusia sebagai makhluk rasional yang selalu berusaha memaksimalkan keuntungan pribadi. Sekilas konsep ini tampak logis. Tetapi jika dipikir lebih dalam, ia menyimpan persoalan filosofis yang serius. Jika manusia hanya dipahami sebagai pemburu keuntungan, lalu di mana posisi empati, moralitas dan tanggung jawab sosial?

Adam Smith memang percaya bahwa kepentingan individu dapat menciptakan keseimbangan pasar melalui mekanisme invisible hand. Namun realitas modern memperlihatkan bahwa pasar tidak selalu melahirkan keadilan, dan justru yang mencuat kepermukaan adalah monopoli, makin bertambahnya pundi segelintir elite serta makin tertekannya usaha kecil.

Lebih lanjut, dalam praktik kapitalisme global, manusia perlahan direduksi menjadi angka statistik. Demi efisiensi fenomena PHK massal terjadi, dan yang paling ‘lucu’ bahkan Pendidikan berubah menjadi industri mahal yang sulit dijangkau Masyarakat kecil. Semua ini menunjukkan satu hal penting, bahwa ekonomi yang kehilangan moral akan mudah berubah menjadi alat penindasan.

Mengapa Ekonomi Islam Mulai Dilirik?

Di tengah krisis tersebut, ekonomi Islam mulai mendapat perhatian serius. Bukan hanya di negara-negara muslim, tetapi juga di Barat. Menariknya, banyak orang salah memahami ekonomi Islam. Sebagian mengira ekonomi Islam hanya soal bank syariah tanpa bunga. Sebagian lagi menganggapnya sekadar ekonomi konvensional yang diberi label agama, padahal ekonomi Islam jauh lebih mendasar dari itu.

Perlu untuk diketahui, bahwa ekonomi Islam lahir dari paradigma tauhid. Artinya, seluruh aktivitas ekonomi dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab manusia kepada Tuhan. Oleh karena itu, dalam ekonomi Islam, manusia bukan sekadar makhluk ekonomi, tetapi khalifah.

Konsep khalifah memiliki makna yang sangat dalam. Manusia dipandang sebagai pemegang amanah yang bertugas menjaga keseimbangan kehidupan. Harta bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan yang harus digunakan secara adil dan bertanggung jawab. Karena itu, ekonomi Islam tidak bertanya tentang berapa keuntungan, tetapi apakah cara memperolehnya halal?

Ekonomi Islam tidak hanya bicara peningkatan pendapatan, tetapi apakah aktivitasnya merugikan masyarakat? Apakah ada unsur eksploitasi, dan apakah ada ketidakadilan? Di sinilah letak perbedaan paling mendasar antara ekonomi konvensional dan ekonomi Islam. Singkatnya, ekonomi konvensional sering berangkat dari pertanyaan tentang keuntungan, sedangkan ekonomi Islam berangkat dari pertanyaan tentang kemaslahatan.

Selain itu, salah satu kritik terbesar terhadap ekonomi Islam biasanya muncul dari kalangan yang menganggap agama tidak relevan dalam ilmu pengetahuan modern. Padahal, anggapan ini lahir dari kesalahpahaman besar. Sejatinya, ekonomi Islam tidak menolak rasionalitas, modernitas, lebih-lebih antisains. Yang ditolak adalah gagasan bahwa manusia dapat hidup hanya dengan akal tanpa moral. Dalam epistemologi Islam, wahyu dan rasio justru dipadukan sehingga dengan demikian akal tetap penting, tetapi ia juga harus dibimbing nilai.

Syed Muhammad Naquib al-Attas mislanya, menegaskan bahwa ilmu dalam Islam harus melahirkan adab. Artinya, pengetahuan tidak cukup hanya menghasilkan kecerdasan teknis, tetapi juga harus membentuk karakter manusia. Pandangan yang sama juga tampak dalam pemikiran Hadarah Rajab yang menyatakan bahwa epistemologi Islam bukan sekadar teori pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan akhlak dan penyucian jiwa. Dalam bahasa yang berbeda, pengetahuan dalam Islam tidak berhenti pada rasio, melainkan menyentuh dimensi spiritual manusia.

Dengan demikian, ini menjadi penting untuk dipahami bahwa problem dunia modern sebenarnya bukan kekurangan teknologi, data atau kecerdasan. Namun kekurangannya terletak pada hilangnya kebijaksanaan.

Ketika moral dianggap utopis

Krisis ekonomi global yang terus berulang sebenarnya menjadi bukti bahwa sistem ekonomi modern memiliki persoalan mendasar. Krisis finansial 2008, misalnya, lahir bukan karena manusia kurang pintar menghitung angka, melainkan karena kerakusan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali moral. Instrumen keuangan diperdagangkan secara masif tanpa pengawasan etika, spekulasi berkembang liar, dan keserakahan dilegalkan atas nama kebebasan pasar. Akibatnya, jutaan orang kehilangan pekerjaan, rumah-rumah disita, dan ekonomi dunia terguncang dalam waktu singkat. Ironisnya, setelah krisis berlalu, dunia justru kembali mengulang pola yang sama.

Mengapa hal itu terus terjadi? Karena sistem ekonomi modern sering kali hanya memperbaiki mekanisme teknis, tetapi gagal menyentuh akar moral persoalannya. Di sinilah ekonomi Islam menawarkan kritik yang sangat tajam. Islam tidak melihat krisis ekonomi semata sebagai kegagalan pasar, tetapi sebagai kegagalan moral manusia.

Ibnu Khaldun bahkan sejak jauh hari telah menjelaskan bahwa kehancuran sebuah peradaban sering bermula dari kerusakan moral dan hilangnya solidaritas sosial. Pandangan ini terasa sangat relevan hari ini, ketika korupsi dianggap biasa, manipulasi pasar dipandang sebagai strategi bisnis, utang konsumtif berubah menjadi gaya hidup, dan manusia rela mengorbankan apa pun demi keuntungan. Dalam kondisi demikian, sesungguhnya yang sedang runtuh bukan hanya ekonomi, tetapi juga peradaban.

Maqashid syariah dan ekonomi kemanusiaan

Salah satu konsep paling menarik dalam ekonomi Islam adalah maqashid syariah. Secara sederhana, maqashid syariah merupakan tujuan utama syariat Islam dalam menjaga lima hal mendasar, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Konsep ini sebenarnya sangat revolusioner karena mengubah cara manusia memahami pembangunan. Dalam paradigma modern, pembangunan sering kali hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan peningkatan angka-angka statistik. 

Dalam maqashid syariah, pembangunan harus tetap menjaga martabat manusia. Sebab, apa gunanya pertumbuhan ekonomi tinggi jika masyarakat kehilangan moral? Apa arti investasi besar apabila lingkungan justru rusak? Dan apa makna kemajuan teknologi jika manusia makin individualis? Ekonomi Islam menolak model pembangunan yang hanya memperkaya segelintir elite sambil meninggalkan masyarakat kecil.

Karena itu, konsep maslahah menjadi sangat penting. Maslahah berarti kemanfaatan bersama. Artinya, aktivitas ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan individu tertentu, tetapi juga harus memberikan dampak sosial yang luas bagi masyarakat. Dalam konteks modern, konsep ini sangat relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer, mulai dari ketimpangan sosial, krisis lingkungan, hingga budaya konsumtif yang makin mengakar.

Lebih lanjut, dunia hari ini telah berada pada era digital dengan kecepatan yang luar biasa. Artificial intelligence berkembang pesat, fintech menjamur di berbagai sektor, dan transaksi berlangsung hanya dalam hitungan detik. Namun di tengah kemajuan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang jarang dibahas adalah, apakah digitalisasi benar-benar membuat manusia makin bijak, atau justru semakin impulsif?

Kita menyaksikan fenomena investasi instan yang dipromosikan hampir seperti perjudian modern, dan parahnya anak muda tergoda oleh impian kekayaan cepat, sementara media sosial menciptakan standar hidup palsu yang mendorong budaya pamer dan konsumsi berlebihan. Bahkan dalam banyak kasus, teknologi justru mempercepat penyebaran keserakahan.

Dalam situasi seperti ini, ekonomi Islam memiliki kritik yang sangat penting. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat keadilan dan transparansi, bukan justru memperbesar eksploitasi. Karena itu, spiritualitas menjadi makin penting di era digital. Bukan untuk menolak kemajuan, melainkan untuk memastikan bahwa kemajuan tetap berpihak pada kemanusiaan.

Jalan pulang bagi peradaban

Sebagian orang mungkin menganggap ekonomi Islam terlalu idealistis, sementara sebagian lainnya menilai konsep tersebut tidak realistis di tengah dunia modern. Namun, anggapan seperti itu sering lahir karena ekonomi Islam dipahami secara dangkal. Ekonomi Islam bukan romantisme masa lalu dan bukan pula nostalgia terhadap peradaban lama. Ia adalah kritik filosofis terhadap arah peradaban modern yang mulai kehilangan keseimbangan. 

Di samping itu, ekonomi Islam tidak menolak pasar, tidak menolak perdagangan, dan tidak anti terhadap keuntungan. Yang ditolak adalah ekonomi yang kehilangan moralitas. Karena itu, ekonomi Islam sebenarnya menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia hari ini, yaitu keseimbangan akal dan wahyu, antara pasar dan moral, antara individu dan masyarakat, serta antara dunia material dan spiritualitas.

Sebagai pamungas, diskursus terkait ekonomi sesungguhnya bukan sekadar tentang angka, pertumbuhan, atau keuntungan. Ia adalah diskursus tentang manusia. Jenis manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan? Masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun? Dan peradaban seperti apa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya?

Jika ekonomi hanya melahirkan manusia rakus, maka seberapa pun majunya teknologi, dunia tetap akan dipenuhi ketimpangan dan krisis. Namun, jika ekonomi dibangun di atas moral, tanggung jawab, dan spiritualitas, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kekayaan, tetapi juga keberkahan. 

Mungkin inilah sebabnya dunia mulai kembali melirik ekonomi Islam. Bukan karena dunia tiba-tiba menjadi religius, melainkan karena manusia mulai lelah hidup dalam sistem yang terlalu sibuk mengejar keuntungan hingga lupa menjaga kemanusiaan.

Dalam konteks ini, ekonomi Islam bukan sekadar alternatif sistem ekonomi, tetapi juga jalan kritik terhadap peradaban modern yang mulai kehilangan arah. Dan mungkin, di tengah dunia yang makin bising oleh angka dan keuntungan, manusia sebenarnya sedang mencari satu hal sederhana: cara untuk kembali menjadi manusia. (*)

 

 

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved