Rabu, 3 Juni 2026

Berita Bangka Belitung

ESDM Babel: Kolong Bekas Tambang Bukan Satu-satunya Penyebab Penyebaran Malaria

Dinas ESDM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menilai kolong bekas tambang timah tidak seluruhnya menjadi habitat nyamuk ...

Tayang:
Bangkapos.com/Riki Pratama/Riki Pratama
Kabid Pertambangan Mineral Logam, Dinas ESDM Pemprov Babel, Erpan Muchtedi. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menegaskan, tidak seluruh kolong bekas tambang timah menjadi tempat berkembang biak nyamuk Anopheles penyebab malaria.

Kabid Pertambangan Mineral Logam Dinas ESDM Babel, Erpan Muchtedi mengatakan, kondisi kolong yang terbuka dan terpapar sinar matahari, terutama di bagian tengah, justru tidak memenuhi syarat sebagai habitat larva nyamuk Anopheles.

“Kolong-kolong itu, tidak semua bagian kolong yang mungkin jadi habitat hidup dari larva nyamuk Anopheles,” kata Erpan Muchtedi kepada Bangkapos.com, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, bagian tengah kolong yang panas dan terkena sinar matahari langsung cenderung tidak cocok untuk perkembangan larva nyamuk.

"Bagian tengah tidak memenuhi syarat untuk hidupnya, paling bagian pinggir vegetasinya sudah menjadi tertutup dari matahari, menjadi habitatnya. Tidak semua bagian kolong itu. Menjadi habitat nyamuk anopheles,"lanjutnya.

Ia menjelaskan, kolong-kolong dengan kondisi panas kemungkinan kecil menjadi tempat berkembang biak nyamuk Anopheles. Menurutnya, habitat larva nyamuk justru lebih berpotensi ditemukan di pinggir sungai maupun rawa-rawa yang kondisi lingkungannya lebih mendukung.

"Penyebab lain bisa jadi seperti pinggir sungai sungai bisa jadi habitat hidupnya, dan rawa rawa itu juga bisa menjadi habitat hidup terhadap larva anopheles ini. Mungkin perlu digaris bawahi, artinya bisa jadi kolong itu menjadi berdampak penyebaran nyamuk , tetapi bukan satu satunya," terangnya.

Dia menambahkan, tidak semua bagian kolong memenuhi syarat sebagai habitat hidup larva nyamuk. Karena itu, diperlukan penelitian yang lebih komprehensif dan berimbang. 

"Untuk mengetahui apakah daerah yang memiliki kolong lebih rentan menjadi endemik malaria dibandingkan wilayah yang tidak memiliki kolong," ujarnya.

Karena, kajian tersebut, menurutnya penting agar kesimpulan yang diambil benar-benar berdasarkan penelitian menyeluruh.

"Jadi perlu dikaji, baru bisa menyimpulkan, dia tidak semacam pendampat atau asumsi tanpa ada penelitian di situ ada pembanding," terangnya.

Ia mencontohkan, malaria juga menjadi persoalan kesehatan di Papua, padahal tidak semua wilayah di daerah tersebut memiliki aktivitas pertambangan maupun kolong bekas tambang. 

"Karena kita tahu malaria ini menjadi masalah juga di Papua. Tidak semua Papua daerah tambang yang memiliki kolong bekas tambangnya, tapi ada tidak ada tambang, malaria lumayan menjadi masalah. Itu pembandingnya," katanya.

Menurutnya, kondisi itu dapat menjadi pembanding untuk melihat seberapa signifikan hubungan antara daerah yang memiliki kolong dan yang tidak memiliki kolong terhadap kasus malaria.

"Kita lebih percaya dari kawan kesehatan, untuk melakukan penelitian ini kan. Apakah ada pengaruhnya? artinya, signifikan tidak. Ada tidak perbandingan ketika suatu daerah memiliki kolong dan tidak memiliki kolong, disitu artinya perlu kita bahasa dahulu," tutupnya.  (Bangkapos.com/Riki Pratama)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved