Harga Timah Tembus Rp1 Juta per Kilogram
Harga timah dunia kembali melesat hingga menembus Rp1 juta per kilogram. Lonjakan ini dipicu terbatasnya pasokan global dari sejumlah ..
Penulis: Teddy Malaka | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Rp1 juta per kilogram, harga timah dunia semakin menggila. Tren kenaikan terus terjadi dan mendekati rekor di awal tahun.
Pada 2 Juni 2026, harga timah di London Metal Exchange (LME) tercatat mencapai US$56.649 per metrik ton, hanya terpaut tipis dari rekor tertinggi tahun ini yang sempat menyentuh US$57.425 per metrik ton pada Februari lalu.
Dengan kurs rupiah yang berada di kisaran Rp17.878 per dolar AS, harga timah dunia saat ini setara dengan Rp1.011.666 per kilogram.
Artinya, setiap satu kilogram timah yang diperdagangkan di pasar internasional kini bernilai lebih dari satu juta rupiah.
Namun di balik lonjakan harga yang fantastis itu, tersimpan cerita tentang kelangkaan pasokan global, perubahan kebijakan pertambangan Indonesia, hingga ledakan kebutuhan industri teknologi dunia.
Dalam kurun waktu kurang dari setahun, harga timah dunia mengalami kenaikan yang luar biasa. Pada akhir 2025, harga timah masih berada di kisaran US$36.435 per ton. Kini, nilainya telah melesat menembus US$55.000 per ton.
Kenaikan hampir 55 persen tersebut menjadi salah satu reli harga komoditas paling agresif yang terjadi di pasar logam dunia.
Kenaikan harga timah global mulai terlihat nyata dalam laporan keuangan PT Timah Tbk (TINS).
Pada kuartal pertama 2026, emiten pelat merah tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun, hanya dalam tiga bulan pertama tahun berjalan.
Capaian tersebut telah mencapai sekitar 44,6 persen dari target laba bersih tahunan yang diproyeksikan analis.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menilai kinerja tersebut menjadi bukti kuat bahwa PT Timah sedang memasuki fase pemulihan laba.
"Hasil kuartal I-2026 mengonfirmasi tesis kami mengenai titik balik pertumbuhan laba (earnings inflection). Kinerja kuat ini ditopang oleh harga jual rata-rata yang tinggi serta ekspansi margin yang signifikan," tulis Andhika dalam risetnya.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, PT Timah menjual sekitar 6.000 ton timah olahan dengan harga jual rata-rata mencapai US$49.200 per ton.
Sementara biaya tunai perusahaan masih terjaga pada level US$21.500 per ton.
Kombinasi harga tinggi dan pengendalian biaya membuat margin laba perusahaan melonjak tajam.
Margin kotor tercatat mencapai 38,6 persen, margin EBITDA 37,2 persen, dan margin laba bersih menembus 27,5 persen.
Melihat tren harga timah yang masih kuat, BRI Danareksa menaikkan proyeksi laba bersih PT Timah tahun 2026 menjadi Rp3,4 triliun.
Ancaman Bernama Royalti dan RKAB
Meski prospeknya cerah, bukan berarti industri timah bebas dari risiko.
Andhika mengingatkan bahwa masa transisi regulasi dan penerbitan RKAB masih dapat memengaruhi volume pengiriman perusahaan.
"Kami menghindari annualisasi langsung atas volume kuartal pertama karena pengiriman pada April 2026 berpotensi terganggu oleh masa transisi regulasi dan risiko waktu penerbitan RKAB setelah berakhirnya relaksasi RKAB pada akhir Maret 2026," jelasnya.
Selain itu, usulan kenaikan tarif royalti menjadi perhatian utama para analis.
Menurut simulasi BRI Danareksa, jika tarif royalti baru diterapkan, laba bersih PT Timah berpotensi turun signifikan.
"Royalti yang lebih tinggi dapat menggerus margin kas secara material dan membatasi potensi rerating saham TINS dalam jangka pendek," ujar Andhika.
Meski demikian, BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga saham Rp4.500 per saham.
Di tengah reli harga timah dunia, Bangka Belitung ikut merasakan dampaknya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor timah Indonesia pada triwulan pertama 2026 mencapai US$479,08 juta atau sekitar Rp8,56 triliun.
Volume ekspor tercatat mencapai 9.840 ton.
Myanmar dan Kongo Menambah Krisis Pasokan
Tekanan pasokan global tidak hanya datang dari Indonesia.
Myanmar, yang selama ini menjadi salah satu pemasok konsentrat timah terbesar dunia, masih menghadapi lambatnya pemulihan aktivitas produksi dan logistik di wilayah tambang utama.
Sementara itu, Republik Demokratik Kongo (DRC) menerapkan larangan ekspor timah yang turut mengurangi ketersediaan logam tersebut di pasar internasional.
Ketika tiga sumber utama pasokan dunia mengalami hambatan dalam waktu bersamaan, pasar global praktis kehilangan bantalan pasokan.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong harga timah terus bergerak naik.
AI, Data Center, dan Kendaraan Listrik Menjadi Mesin Permintaan
Jika pasokan tersendat, permintaan justru bergerak ke arah sebaliknya.
Perkembangan industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menciptakan gelombang investasi besar-besaran pada sektor semikonduktor dan data center di berbagai negara.
Setiap server, chip, papan sirkuit, hingga perangkat elektronik modern membutuhkan solder berbasis timah.
Selain itu, transisi energi global menuju kendaraan listrik dan energi terbarukan juga meningkatkan kebutuhan logam tersebut.
Panel surya, sistem penyimpanan energi, hingga kendaraan listrik membutuhkan komponen elektronik dalam jumlah besar yang seluruhnya bergantung pada pasokan timah.
Dengan kata lain, timah kini menjadi salah satu logam yang ikut menopang revolusi teknologi dunia. (*/Teddy)
| Inggris dan Enam Negara Teluk Sepakat Perkuat Ekonomi di Tengah Ketegangan Global |
|
|---|
| Harga Belacan Lebih Mahal dari Harga Timah di Bangka Belitung, Per Kg Dijual Rp 300.000 |
|
|---|
| Video: Masih Ada Temuan Timah Dibeli Rp100 Ribu, DPRD Babel Desak PT Timah Ikuti Harga Dunia |
|
|---|
| Perda IUPR dan HPM Timah Dikebut, DPR & PT Timah Siapkan Kepastian Hukum dan Harga Untuk Penambang |
|
|---|
| Komisi XII Datangi Kantor PT. Timah Tbk, Bahas Formula Harga Pokok Minimum Timah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260602-HARGA-TIMAH-Perdagangan-timah-dunia-menunjukkan-kenaikan-harga-1.jpg)