Senin, 8 Juni 2026

Beritan Pangkalpinang

Mahasiswa di Bangka Belitung Mulai Bangun Aset, Uang Jajan untuk Beli Saham Demi Masa Depan

Dulu investasi pasar modal identik dengan pebisnis atau kalangan mapan kini mahasiswa mulai melirik saham sebagai instrumen untuk masa depan

Tayang:
Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: Hendra
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
BERMAIN SAHAM - Mahasiswa Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Institut Sains dan Bisnis (ISB) Atma Luhur Pangkalpinang, saat diskusi saham dan pasar modal, Rabu(3/6/2026). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tren investasi saham di kalangan generasi muda di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai tumbuh.

Jika dahulu investasi pasar modal identik dengan pebisnis atau kalangan mapan, kini mahasiswa mulai melirik saham sebagai instrumen untuk membangun masa depan, bahkan dari nominal kecil yang disisihkan dari uang jajan.

Momentum meningkatnya literasi keuangan di kalangan anak muda terlihat di lingkungan kampus, salah satunya di Institut Sains dan Bisnis (ISB) Atma Luhur Pangkalpinang melalui keberadaan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) yang menjadi wadah edukasi investasi bagi mahasiswa.

Michael, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital ISB Atma Luhur, menjadi salah satu contoh generasi muda yang mulai mengenal investasi saham sejak tahun lalu.

Berawal dari rasa penasaran terhadap dunia pasar modal saat memasuki bangku kuliah, kini ia rutin menyisihkan uang jajannya untuk membeli saham.

"Waktu SMA belum tertarik dengan saham. Tapi saat kuliah di Bisnis Digital ada mata kuliah tentang pasar modal, dari situ mulai penasaran. Kebetulan KSPM di kampus juga sedang open member, akhirnya saya ikut dan belajar di sana," ujar Michael saat ditemui Bangkapos.com, di kampus ISB Atma Luhur, Rabu (3/6/2026).

Berbeda dari anggapan bahwa investasi harus dimulai dengan modal besar, Michael justru memulai langkahnya dari nominal sederhana. Ia mengaku menyisihkan Rp20 ribu setiap dua minggu dari uang jajan yang diberikan orang tuanya untuk dibelikan saham.

"Memang kecil, Rp20 ribu setiap dua minggu. Tapi saya pikir ini investasi sejak dini untuk masa depan. Yang penting konsisten dulu belajar dan membiasakan diri," katanya.

Bagi Michael, investasi saham bukan semata soal mencari keuntungan instan, melainkan membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih bijak. Ia mengaku, sejak mengenal saham, pola pengeluarannya berubah dan membuat dirinya lebih hemat.

"Dulu uang jajan biasanya habis begitu saja. Setelah kenal saham jadi lebih tidak boros. Uang yang biasanya dipakai beli macam-macam sekarang lebih dipilih untuk ditabung di saham," ungkapnya.

Tak hanya belajar soal investasi, Michael juga mulai memahami bagaimana kondisi global dapat memengaruhi pasar modal. Menurutnya, informasi geopolitik, perang, hingga kondisi ekonomi dunia kini menjadi perhatian yang turut dipelajarinya.

"Sekarang kalau baca berita bukan cuma soal hiburan atau artis, tapi mulai lihat bagaimana perang atau kondisi geopolitik bisa memengaruhi saham," ujarnya.

Senada dengan Michael, Ketua KSPM ISB Atma Luhur, Yosep Sutanto, juga mulai menekuni investasi saham sejak tahun lalu. Menariknya, modal investasinya berasal dari hasil usaha kecil-kecilan berjualan parfum.

Sebagian keuntungan dari berjualan itu ia sisihkan untuk ditanamkan di pasar modal. Menurut Yosep, ketertarikannya pada saham muncul dari kesadaran terhadap ancaman inflasi yang dapat menggerus nilai uang jika tidak dikelola dengan baik.

"Setiap zaman pasti ada inflasi. Kalau uang hanya disimpan tanpa dikelola, nilainya bisa menurun. Saya tertarik saham karena melihat ini salah satu cara untuk menjaga nilai aset," kata Yosep.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved