Jumat, 24 April 2026

Bobibos Dilirik Timor Leste, Apa Kabar Launching Bahan Bakar Jerami Buatan Muhammad Ikhlas Thamrin?

Santer kabar bahan bakar ramah lingkungan Bobibos akan dilaunching pada Februari 2026 di Timor Leste.

Penulis: Rusaidah | Editor: Rusaidah
X/@11MaretUniv// Bobibos
SEDANG DISOROT - Nama Muhammad Ikhlas Thamrin ikut jadi sorotan setelah Bobibos yang merupakan akronim Bahan bakar Original Buatan Indonesia Bos sebagai bahan bakar jerami viral. 
Ringkasan Berita:
  • Santer kabar bahan bakar ramah lingkungan Bobibos akan dilaunching pada Februari 2026 di Timor Leste
  • Hingga akhir bulan Februari lalu dan memasuki maret 2026 bahan bakar berbahan jerami ini tak kunjung didistribusikan
  • Melalui akun Instagram @bobibos_ hingga Minggu (1/3/2026) belum ada unggahan terbaru soal bahan bakar yang klaim memiliki emisi nyaris 0 ini

 

BANGKAPOS.COM -- Santer kabar bahan bakar ramah lingkungan Bobibos akan dilaunching pada Februari 2026 di Timor Leste.

Namun hingga akhir Februari dan memasuki maret 2026 bahan bakar berbahan jerami ini tak kunjung didistribusikan.

Tentunya, launching peluncuran Bobibos ini dinantikan oleh masyarakat, terutama oleh rakyat Timor Leste.

Bahkan digadang-gadang Bobibos akan menjadi langkah baru menuju transisi energi bersih di negara tersebut.

Melalui akun Instagram @bobibos_ hingga Minggu (1/3/2026) belum ada unggahan terbaru soal bahan bakar yang klaim memiliki emisi nyaris 0 ini.

Baca juga: Sederet Bisnis dan Profil Bos Rokok HS Kecelakaan Moge Bersama Istri, Masih Kritis, Istri Meninggal

Hanya saja postingan terakhir pada 24 Januari 2026 diberitahukan dalam waktu dekat, warga Timor Leste tak harus bergantung pada bahan bakar fosil. Ada pilihan terbaru energi yang lebih terjangkau, lebih bersih dan lebih ramah lingkungan yaitu BOBIBOS.

Dalam unggahan tersebut juga, Bobibos membagikan proses fermentasi jerami hingga menjadi cairan organik.

Dalam video itu, tampak tim membagikan proses fermentasi sebelum jerami dijadikan bahan bakar bensin dan solar.

Bobibos juga sudah memiliki pabrik di Timor Leste untuk memproduksi bahan bakar tersebut.

Di pabrik itu, proses hingga mesin untuk mengolah bahan bakar pun sudah tersedia dengan lengkap.

SEDANG DISOROT - Produk Bobibos, bahan bakar jerami padi yang ditemukan Muhammad Ikhlas Thamrin dan timnya.
SEDANG DISOROT - Produk Bobibos, bahan bakar jerami padi yang ditemukan Muhammad Ikhlas Thamrin dan timnya. (Bobibos)

Bobibos juga menyampaikan bahwa proses launching tinggal menunggu kedatangan kontainer yang dalam proses pengiriman dari Indonesia.

Isinya, yaitu mesin-mesin yang dirancang untuk mengubah cairan organik di Bio Manufaktur menjadi bahan bakar Bobibos bensin dan solar.

Kabar Digarap di Timor Leste

Bahan bakar original buatan Indonesia nih bos (Bobibos) berbahan bakar dari jerami yang dikembangkan Muhammad Ikhlas Thamrin Cs dari Desa Jonggol, Bogor bakal digarap Negara Timor Leste.

Kabarnya, kedua belah pihak dikabarkan sudah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU).

Timor Leste disebut siap memberikan dukungan penuh terhadap energi alternatif ini.

Bobibos atau bahan bakar jerami yang dikembangkan Muhammad Ikhlas Thamrin cs akan mulai diproduksi pada Februari 2026.

Bahkan, Timor Leste tersebut telah menyiapkan regulasi khusus dan mengalokasikan lahan seluas 25.000 hektare untuk mempercepat produksi Bobibos.

Bahan bakar alternatif dari jerami Bobibos akhirnya akan diproduksi massal di negara tetangga Timor Leste.

Baca juga: Siap Mudik Panjang, SEB 3 Menteri Rilis: Jadwal Lengkap Libur Sekolah Lebaran, Mulai 16 Maret 2026

Tantangan regulasi menjadi alasan produksi Bobibos tidak dilakukan di negeri sendiri, Indonesia.

RI bahkan belum melirik Bobibos temuan M Ikhlas Thamrin cs.

Pembina Bobibos, Mulyadi menegaskan, inovasi ini bukan ajang cari panggung, melainkan ikhtiar nyata mencari solusi energi bersih yang terjangkau.

“Ini adalah terobosan untuk bahan bakar alternatif berbasis sumber daya ramah lingkungan yang belum dimanfaatkan optimal,” kata Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra itu, Jumat (26/12/2025).

Bobibos, yang diklaim telah lulus uji kelayakan, emisi, dan teknis, ditekankan bukan sebagai pengganti, tetapi pelengkap sistem energi yang ada. 

Namun, regulasi Indonesia saat ini hanya mengakui tiga sumber bahan bakar nabati: tebu, sawit, dan jagung. 

Sementara jerami belum masuk daftar.

Minat Besar dari Timor Leste

Kata Mulyadi, di tengah hambatan regulasi di dalam negeri, ternyata Timor Leste justru bergerak cepat. 

Negara tersebut telah menyiapkan regulasi khusus dan mengalokasikan lahan seluas 25.000 hektare untuk mempercepat produksi Bobibos.

“Ini bukan bentuk pengkhianatan. Bobibos adalah bahan bakar solusi dunia,” jelas Mulyadi. 

Pemerintah Timor Leste bahkan sedang membahas kerja sama resmi dengan target launching produksi pada Februari 2026.

Tetap Komunikasi dengan Pemerintah RI

Meski peluang besar datang dari luar, Mulyadi memastikan komunikasi dengan otoritas dalam negeri tetap berjalan. 

Timnya telah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Pertamina, hingga Lembaga Kepresidenan.

“Kami terbuka dan serius mendorong inovasi energi nasional. Semoga kehadiran Bobibos nantinya dapat meringankan beban masyarakat,” pungkasnya. 

Mengenal Bobibos

Belakangan anak muda Indonesia membuat gebrakan dengan menciptakan bahan bakar jenis baru yang ramah lingkungan. 

Bukan dari hasil penambangan minyak, bahan bakar yang dinamakan Bobibos ini berasal dari limbah pertanian nabati alias biofuel. 

Performa yang ditawarkan oleh produk ini diklaim bisa menempuh perjalanan yang lebih jauh. 

Baca juga: Beli Token Rp50 Ribu atau Rp100 Ribu Dapat Berapa kWh? Simak Harga Token Listrik 4-8 Maret 2026

Khususnya, ketika Bobibos dibandingkan dengan bahan bakar minyak solar secara umum.

Bobibos lantas membuat bahan bakar minyak (BBM) ketar ketir lantaran bahan bakar ini jauh lebih murah dan dari sumber daya alam yang tidak terbatas. 

Pun Bobibos bukan dihasilkan dari pertambangan seperti energi listrik yang belakangan disebut merusak alam karena penambangan nikel yang menjadi bahan baku baterai.

Sesuai keterangan M Ikhlas Thamrin dalam acara peluncuran, Bobibos akan mencakup dua produk utama untuk mesin solar dan bensin.

Di antaranya ada yang berwarna merah dan putih.

BBM Bobibos berwarna merah khusus untuk mesin diesel, sementara cairan warna putih untuk mesin bensin. 

Bobibos diproduksi oleh perusahaan dalam negeri yakni PT Inti Sinergi Formula.

Adapun Bobibos merupakan singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!

Produk bahan bakar itu pertama kali diluncurkan di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (2/11/2025).

Acara peluncuran ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting.

Sebut saja, Mulyadi selaku tokoh masyarakat sekaligus anggota DPR RI, serta H. Amir Mahpud, Pemilik PT Primajasa Perdanaraya Utama. 

Founder Bobibos, M Ikhlas Thamrin, mengatakan inovasi energi baru ini lahir dari tangan anak muda Indonesia. 

"Melalui riset panjang selama satu dekade, hari ini kami resmi meluncurkan Bobibos," kata Ikhlas Thamrin di Jonggol, Minggu (2/11/2025).

Dia menjelaskan peluncuran Bobibos ini menjadi simbol kolaborasi antara inovator muda, pelaku usaha nasional, dan masyarakat daerah dalam mendorong kemandirian energi Indonesia.

"Bahan bakar alternatif ramah lingkungan ini mampu mengurangi emisi hingga mendekati nol," ucapnya.

Ikhlas Thamrin menuturkan bahwa inovasi ini merupakan hasil perjalanan panjang yang berawal dari keresahan akan ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.

“Kami ingin membuktikan bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui ilmu pengetahuan," tuturnya. 

Setelah lebih dari 10 tahun riset mandiri, Ikhlas Thamrin dan tim berhasil menghadirkan bahan bakar yang murah, aman, dan beremisi rendah.

Ikhlas menjelaskan bahwa bahan bakar Bobibos merupakan singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!

"Bahan Bakar ini berasal dari tanaman yang mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di lahan persawahan," imbuhnya. 

Dengan konsep tersebut, Bobibos tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan nasional.

"Bobibos bukan hanya energi, tapi juga harapan. Kita ingin sawah tidak hanya menumbuhkan pangan, tetapi juga energi," tutur Ikhlas Thamrin.

Berdasarkan hasil uji laboratorium, bahan bakar BOBIBOS memiliki RON (Research Octane Number) mendekati 98, dengan performa yang mampu menempuh jarak lebih jauh dibandingkan bahan bakar solar konvensional.

Sementara itu, Mulyadi, yang juga dikenal sebagai putra daerah Jonggol dan penggagas inisiatif ini, menyampaikan bahwa peluncuran Bobibos merupakan langkah nyata menuju kedaulatan energi bangsa.

“Dulu kita berjuang menolak kenaikan hara BBM, kini saatnya kita melahirkan solusi. Indonesia harus berani bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen energi terbarukan,” ujar Mulyadi.

Mulyadi juga mengungkapkan bahwa Bobibos telah melalui tahap uji sertifikasi dari lembaga resmi di bawah Kementerian ESDM.

Sehingga Bobibos siap dikembangkan lebih luas melalui kerja sama lintas sektor.

Baca juga: Video Konten Pribadi Beredar di Medsos, Direktur RSUD Depati Hamzah Dibebaskan Tugas

Dalam kesempatan yang sama, H. Amir Mahpud, pemilik PT Primajasa Perdanaraya Utama, menyatakan kesiapannya mendukung pemakaian bahan bakar BOBIBOS untuk armada bus miliknya yang beroperasi di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat.

“Kami siap menjadi perusahaan transportasi pertama yang menggunakan bahan bakar karya anak bangsa ini. Kalau dulu Hino bisa mendunia karena kemitraan strategis, saya yakin Bobibos juga bisa,” paparnya.

Dengan semangat kolaborasi antara inovator muda, pelaku industri, dan pemerintah, Bobibos diharapkan menjadi tonggak baru lahirnya 'Energi Merah Putih'.

"Ini sebuah langkah menuju Indonesia yang mandiri, hijau, dan berdaya saing di kancah global," tandas Mahpud.

Peluncuran Bobibos diakhiri dengan doa bersama dan peresmian simbolis pengisian bahan bakar pada kendaraan yang telah diuji, termasuk mobil Fortuner dan Alphard. 

Timor Leste Beri Proteksi Kelola 25 Ribu Ha Sawah

Bahan bakar nabati berbasis jerami karya anak bangsa, Bobibos, segera diproduksi dan diedarkan di Timor Leste. 

Produk energi terbarukan yang berada di bawah naungan PT Inti Sinergi Formula itu mendapat dukungan penuh pemerintah Timor Leste, termasuk penyediaan lahan seluas 25 ribu hektare (Ha) untuk pengembangan bahan baku dan fasilitas produksi.

Pembina Bobibos, Mulyadi, mengatakan kerja sama tersebut terjalin setelah Bobibos menghadapi keterbatasan regulasi di dalam negeri. 

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meneken kontrak kerjasama dengan penemu Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Sabtu (15/11/2025).
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meneken kontrak kerjasama dengan penemu Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Sabtu (15/11/2025). (Tangkapan Layar Video Dedi Mulyadi)

Hingga kini, pemerintah Indonesia belum memasukkan jerami sebagai sumber bioenergi resmi dalam agenda transisi energi nasional.

"Pengembangan energi, khususnya minyak dan bioenergi, harus memiliki kepastian hukum. Karena jerami belum diatur, kami memilih tidak melakukan produksi massal dan distribusi luas di Indonesia," kata Mulyadi di Bumi Sultan Jonggol, Jawa Barat Jumat (26/12/2025).

Di tengah belum adanya payung hukum nasional, Bobibos justru mendapat undangan kerja sama dari sejumlah negara. 

Timor Leste menjadi negara pertama yang menindaklanjuti secara konkret.

Manajemen Bobibos diterima secara resmi oleh pemerintah Timor Leste, kalangan pengusaha, serta Kamar Dagang setempat.

Dalam kunjungan tersebut, Bobibos menandatangani nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama dengan perusahaan lokal yang didedikasikan untuk pengembangan bioenergi. 

Pemerintah Timor Leste bahkan menjanjikan penyusunan regulasi khusus, dukungan investasi, serta fasilitas produksi berupa pabrik dan kawasan pergudangan seluas sekitar tiga hektare.

"Produksi perdana direncanakan akan diresmikan langsung oleh Perdana Menteri Timor Leste dan dihadiri Presiden Timor Leste. Ini menjadi bukti keseriusan mereka," ujar Mulyadi.

Politisi Partai Gerindra ini menegaskan bahwa kerja sama luar negeri tersebut bukan bentuk pengabaian terhadap Indonesia. 

Menurutnya, Bobibos merupakan solusi energi global dengan keunggulan harga murah, efisiensi tinggi, dan ramah lingkungan, sekaligus berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani serta mengurangi beban subsidi energi.

Menanggapi kritik warganet yang menilai Bobibos hanya berorientasi mencari investor, Mulyadi menilai anggapan itu keliru. 

Ia menekankan bahwa industri energi membutuhkan investasi besar dan peran negara agar distribusi energi dapat berjalan adil dan berkelanjutan.

Sementara di dalam negeri, Bobibos tetap menjalankan proyek percontohan berbasis komunitas dan relawan. 

Baca juga: Identitas 5 Tersangka Selundupan 6,4 Ton Pasir Timah ke Malaysia, Satu Pelaku Domisili Pangkalpinang

Produksi dilakukan secara terbatas untuk konsumsi internal sebagai pembuktian fungsi teknologi, tanpa distribusi komersial.

Terkait permintaan agar teknologi dan mesin dibuka ke publik, Mulyadi menyatakan hal tersebut berkaitan dengan kekayaan intelektual dan rahasia dagang yang telah dipatenkan. 

Meski demikian, Bobibos berencana mengundang media untuk menyaksikan langsung proses produksi di lokasi proyek percontohan, tanpa dokumentasi visual.

Ia juga membantah anggapan yang menyamakan teknologi Bobibos dengan konsep “blue energy”. 

Menurutnya, seluruh proses dapat diuji secara ilmiah dan tidak mempertaruhkan reputasi pribadi maupun simbol negara yang melekat pada dirinya sebagai pejabat dan pengurus partai politik.

"Pada dasarnya, kami ingin membantu masyarakat, membantu negara, dan menjaga lingkungan. Transisi energi adalah keniscayaan. Indonesia memiliki potensi besar melalui energi nabati," kata dia.

Namun demikian, Bobibos menegaskan akan tetap menghormati kebijakan pemerintah Indonesia yang saat ini hanya menetapkan sawit, aren, dan tebu sebagai sumber bioenergi, sambil menunggu adanya regulasi yang memungkinkan pemanfaatan jerami sebagai bahan baku energi terbarukan.

(Wartakotalive.com/M Rifqi Ibnumasy/Hironimus/Bangkapos.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved