Minggu, 3 Mei 2026

Kenapa Amien Rais Dijuluki Sengkuni?

Amien Rais dijuluki sengkuni karena dianggap sering memprovokasi dan bermanuver licin dalam berpolitik.

Tayang:
Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Dedy Qurniawan
kompas/image
Amien Rais 

BANGKAPOS.COM - Nama Amien Rais jadi sorotan buntut ucapan kontroversialnya soal Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang sempat disampaikan lewat kanal YouTube pribadinya.

Ketua Majelis Syura Partai Ummat tersebut secara terbuka menyinggung hubungan kerja antara Presiden Prabowo Subianto dengan Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya.

Namun, belum lama berselang setelah memicu perdebatan luas, video tersebut kini mendadak raib dari peredaran.

Meski akses di kanal aslinya telah tertutup, jejak digital kritik Amien Rais terlanjur menyebar luas. Potongan videonya bahkan sempat memuncaki daftar tren di platform X (Twitter).

Dalam rekaman berdurasi delapan menit yang awalnya diberi judul 'Jauhkan Istana dari Skandal Moral' itu, Amien menyampaikan desakan keras kepada Presiden Prabowo untuk mengambil tindakan tegas terhadap Teddy.

 Narasi yang dibangun Amien berfokus pada rumor miring yang dianggapnya dapat membahayakan stabilitas kepemimpinan nasional. Dalam salah satu bagian videonya, Amien Rais menyatakan:

"Saya usulkan buat Pak Prabowo secara kesatria, tegas, dan meyakinkan Prabowo melepaskan diri dari lendotannya si Teddy yang berbahaya itu, jadi ganti Teddy dengan sosok yang normal, fokus bekerja untuk bangsa dan negara."

Konten yang Mendadak Lenyap

Kehebohan yang ditimbulkan video tersebut berujung pada hilangnya konten tersebut secara misterius.

Berdasarkan penelusuran di kanal YouTube resmi Amien Rais, video yang dirilis sejak Kamis (30/4/2026) itu sudah tidak lagi ditemukan.

Link yang sebelumnya mengarah pada unggahan tersebut pun kini menampilkan keterangan tidak dapat diakses, memperkuat dugaan bahwa konten tersebut telah dihapus secara permanen.

Reaksi Keras Pemerintah

Menanggapi polemik yang terus bergulir di masyarakat, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akhirnya angkat bicara.

Menkomdigi, Meutya Hafid, memberikan pernyataan tegas bahwa narasi yang diangkat dalam video tersebut adalah informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Meutya menilai, konten tersebut bukan sekadar kritik politik, melainkan mengandung unsur fitnah dan serangan personal yang menjurus pada pembunuhan karakter terhadap kepala negara.

Ia menegaskan:

 "Komdigi menegaskan bahwa isi video tersebut adalah hoaks, fitnah serta mengandung ujaran kebencian."

Lebih lanjut, pihak pemerintah melihat adanya indikasi provokasi yang berpotensi memicu perpecahan di tengah publik. Sebagai langkah tindak lanjut, Komdigi mengingatkan akan adanya konsekuensi hukum bagi siapapun yang ikut mendistribusikan ulang konten tersebut.

"Siapapun yang membuat dan ikut mendistribusikan dan/atau mentransmisikan video tersebut secara sadar telah melakukan pelanggaran hukum sebagaimana diatur dalam UU ITE No. 1 Tahun 2024 Pasal 27A dan Pasal 28 (2)," pungkas Meutya Hafid.

Hingga saat ini, pihak Amien Rais sendiri belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan penghapusan video maupun terkait peringatan keras yang dilayangkan oleh Komdigi.

Amien Rais dan Julukan Sengkuni

Terlepas dari itu, Amien Rais sebenarnya bukan orang baru dalam dunia politik Indonesia.

Fakta menariknya, di dunia politik, Amien pernah dijuluki sebagai sengkuni.

Kenapa demikian?

Amien Rais dijuluki sengkuni karena dianggap sering memprovokasi dan bermanuver licin dalam berpolitik.

Ia diangap mirip karakter Sengkuni dalam wiracarita Mahabharata.

Julukan ini juga mengemuka saat terjadi konflik internal di Partai Amanat Nasional (PAN) pada 2018 hingga 2020/

Kala itu pendukung Amien Rais dianggap memprovokasi dan loyalis menganggap julukan tersebut sebagai kepanikan PAN ditinggal Amien Rais.

Satu di antara yang menjulukinya sebagai Sengkuni adalah Wakil Bendahara Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga anggota DPRD Kota Tegal pada 2026, Tengku Rizki Aljupri.

Rizki menyebut Amien Rais --mantan Ketua Dewan Kehormatan PAN-- sebagai sengkuni.

Loyalis Amien Rais di tubuh PAN, menyebut apa yang dilakukan Tengku Rizki dengan menyematkan 'Sengkuni' terhadap Ayahanda dari Hanafi Rais dan Mumtaz Rais tiu, merupakan tindakan tak pantas.

Wakil Ketua DPW PAN Jateng, Agung Wisnu Kusuma, menuturkan bagaimana pun juga, Amien Rais merupakan sosok sentral partai yang harus dihormati.

Sebab, Amien Rais termasuk pendiri sekaligus tokoh di partai berlambang matahari terbit tersebut.

 "DPP sudah minta maaf soal kasus itu. Saya harap tidak cukup di situ. Harus ada sanksi. Harus ada teguran keras untuk Rizki Aljupri karena tidak sekali ini saja dia bikin kegaduhan," kata Agung, Selasa (19/5/2020) kala itu.

Sanksi yang bisa diberikan, kata dia, agar kader tidak asal 'njeplak' yakni sanksi pencopotan sebagai anggota dewan dari Fraksi PAN.

Sanksi lain bisa saja dicopot dari kepengurusan partai di DPP.

"Jika DPP betul-betul serius menyelesaikan kasus ini, Rizki harus diberikan sanksi. Jika hanya minta maaf lalu semua berlalu, artinya DPP tidak serius," tegasnya.

Ditandaskan Agung, Amien Rais kritis, karena merasa ada yang tak beres dari pemerintahan yang dikritikanya.

"Pak Amien itu kan kalau dirasa ada yang 'tidak beres' pada pemerintahan dan menyengsarakan rakyat, pasti akan dikritik."

"PAN selalu berusaha menjadi penyeimbang bagi pemerintah, baik saat di luar pemerintahan maupun ketika ada di dalam pemerintahan."

"Gimana nggak kritis, wong PAN lahir dari reformasi. Jangan karena itu lalu Pak Amien disebut Sengkuni," ucapnya.

Justru, lanjutnya, sebutan Sengkuni lebih tepatnya disematkan pada oknum pimpinan atau oknum pengurus PAN yang rajin menjilat pemerintah hanya untuk urusan jabatan dan uang, tanpa memikirkan nasib masyarakat.

Menurutnya, orang-orang seperti itu yang tidak paham apa yang menjadi landasan perjuangan partai dan tiba-tiba sudah masuk menjadi pengurus harian partai.

"Seperi halnya Rizki Aljupri yang menjadi wakil bendahara umum. Sebaiknya dia mengikuti LKAD (Latihan Kader Amanat Dasar) terlebih dulu agar mafhum landasan ideologi dan perjuangan partai," Agung menambahkan.

Istilah Sengkuni ini mencuat sejak mundurnya Hanafi Rais dari PAN.

Serta munculnya sinyal akan adanya partai baru yang dibentuk Amien Rais dan pendukungnya.

Rizki Aljupri menyebut orang yang akan bergabung pada partai baru tersebut merupakan sekelompok orang yang tak dapat menerima kekalahan saat Kongres PAN Februari lalu di Kendari.

Bahkan, Rizki yang juga merupakan Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Tegal itu menilai, PAN justru bersyukur dengan keluarnya beberapa orang tersebut.

Menurutnya, hal ini membuat partai pimpinan Ketua Umum Zulkifli Hasan itu terbebas dari orang dengan karakter Sengkuni.

Pembelaan Amien Rais

Amien Rais sendiri bukan tak pernah menjawab istilah sengkuni yang dianggapnya sebagai bully-an tersebut.

Pembelaan itu pernah ungkapkan melalui akun Instagram @amienraisoffcial yang diunggah pada Selasa (12/6/2018) silam.

Ia pun mengutip Alquran yang artinya jika dihina maka orang yang bersangkutan justru memberi ucapan selamat dan tak balas mengejek.

@amienraisofficial: Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saudara-saudaraku,

akhir-akhir ini, saya di-bully di berbagai media sosial,
dengan kata-kata yang menghina, mengejek,

 
mengatakan pengkhianat, durna, kemudian sengkuni,
sudah bau tanah, pengkhianat, penipu, dll.

Tetapi buat saya ini SANGAT BIASA SAJA.

Karena kita diberitahu Al-Qur’an

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Adapun orang-orang beriman, yang menjadi hamba yang
Maha Rahman itu, mereka berjalan di atas muka bumi,
dengan tawadhu’, rendah hati,

dan apabila diejek, dihina oleh orang-orang dungu,
orang-orang jahil,

mereka mengatakan salamat,
selamat, selamat, selamat.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sumber : Tribunnews/ Tribun banyumas/ Tribun Medan/ Bangkapos.com)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved