Penyebab Rupiah Merosot ke Rp17.728 per Dolar AS
Kenali penyebab rupiah yang merosot ke level Rp17.728 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026) siang.
Penulis: Evan Saputra CC | Editor: Evan Saputra
BANGKAPOS.COM - Pergerakan rupiah yang merosot ke level Rp17.728 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026) siang, murni disebabkan oleh faktor eksternal dan siklus tahunan pasar keuangan.
Selain karena melonjaknya tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS, penurunan ini diperparah oleh tingginya permintaan valas di dalam negeri untuk kebutuhan musiman repatriasi dividen korporasi asing dan penyesuaian harga minyak dunia.
Mata uang rupiah ambles puluhan poin akibat tekanan sentimen global dan kebutuhan internal domestik yang melonjak.
Baca juga: Cek Fakta: Mobil di Atas 1.400 cc Dilarang Isi Pertalite per 1 Juni? Ini Kata Pertamina
Berdasarkan data pasar pada pukul 11.02 WIB, rupiah bergerak melemah sebesar 60 poin atau terkoreksi 0,34 persen ke level Rp17.728 per dolar AS.
Posisi ini menunjukkan penurunan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.668 per dolar AS.
Dipicu Sentimen Global dan Inflasi AS
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai pelemahan tajam yang dialami mata uang rupiah kali ini masih didominasi oleh faktor eksternal.
Efek domino dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai menjadi motor utama penguatan dolar AS yang menekan mata uang negara berkembang.
“Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet ke mana-mana seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi,” ucap Ariston di Jakarta, Selasa (19/5), dikutip dari Antara.
Ketegangan di Timur Tengah tersebut berimbas langsung pada meroketnya harga komoditas energi dunia.
Lonjakan harga minyak mentah ini kemudian memicu kekhawatiran baru terhadap kenaikan ekspektasi inflasi di Negeri Paman Sam.
Akibat ekspektasi inflasi AS yang meninggi, tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) pun ikut terkerek hingga mencetak rekor baru.
Yield Obligasi AS Cetak Rekor Tertinggi Baru di Tahun 2026
Kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS terpantau melesat secara merata di berbagai tenor.
Bahkan, angka yang tercatat pada hari ini merupakan level tertinggi baru sepanjang tahun 2026 berjalan.
Situasi ini membuat aset keuangan AS menjadi jauh lebih menarik bagi para investor global.
Tercatat, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 2 tahun kini berada di angka 4,105 persen.
Sementara itu, untuk tenor 10 tahun merangkak naik ke level 4,631 persen, dan tenor jangka panjang 30 tahun melesat hingga menyentuh 5,159 persen.
Ariston menambahkan, meroketnya yield obligasi AS ini menjadi angin segar bagi mata uang dolar AS.
Dampaknya, terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan negara-negara berkembang karena investor memilih mengamankan aset mereka ke dalam bentuk dolar.
Penguatan absolut dolar AS inilah yang akhirnya memukul mundur nilai tukar mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Selain digempur oleh sentimen luar negeri, nilai tukar rupiah juga harus menghadapi tekanan ganda dari dalam negeri.
Sentimen domestik pertama datang dari tingginya beban impor energi nasional akibat meroketnya harga minyak dunia yang kini bertengger di atas level 100 dolar AS per barel.
Kondisi harga minyak yang melambung tinggi ini tidak hanya membuat harga berbagai kebutuhan masyarakat di tanah air ikut mengalir naik, tetapi juga menguras pasokan valuta asing.
Tingginya biaya impor minyak mentah secara otomatis meningkatkan volume permintaan dolar AS di dalam negeri guna menyelesaikan transaksi perdagangan tersebut.
Tekanan terhadap mata uang rupiah semakin diperparah oleh faktor musiman korporasi.
Saat ini, pasar keuangan Indonesia tengah memasuki bulan dividen.
Banyak perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri mulai melakukan repatriasi atau pengiriman kembali keuntungan (dividen) mereka kepada pemegang saham di luar negeri.
Proses repatriasi dividen keluar negeri ini mewajibkan perusahaan-perusahaan tersebut mengonversi dana rupiah mereka ke dalam mata uang dolar AS dalam jumlah besar.
“Selain itu, ini lagi bulan dividen, repatriasi dividen keluar negeri yang meningkatkan permintaan dolar AS juga menekan rupiah,” ungkap Ariston.
Lonjakan permintaan dolar AS yang terjadi secara bersamaan baik untuk kebutuhan impor energi di tengah mahalnya harga minyak dunia maupun penarikan dividen korporasi asing menjadi beban berat yang kian menyudutkan posisi rupiah di pasar valas hingga siang ini.
(Kompas/Tribunnews)
| Video: IRGC Iran Klaim Tangkap Kelompok Terkait AS dan Israel di Kurdistan |
|
|---|
| Video: IRGC Iran Klaim Tangkap Kelompok Terkait AS dan Israel di Sejumlah Wilayah |
|
|---|
| Berharta Rp44,7 Miliar, Ini Aset Muhadjir Effendy yang Minta Tunda Pemeriksaan KPK |
|
|---|
| Update Harga BBM di SPBU se-Indonesia Hari Ini 20 Mei 2026, Ini Jenis BBM yang Kembali Naik |
|
|---|
| Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 Hari Ini 20 Mei 2026, Cek Ketentuan Buyback |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ilustrasi-uang-logam-dan-uang-kertas.jpg)