Rupiah Melemah ke Rp17.857 per Dolar AS, Harga Elektronik Diprediksi Ikut Naik
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan memicu kenaikan harga elektronik di Indonesia. Industri mengaku masih bergantung pada komponen impor
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah yang melemah ke Rp17.857 per dolar AS diprediksi berdampak pada harga produk elektronik di pasar.
- Pelaku industri menyebut ketergantungan impor masih tinggi.
BANGKAPOS.COM--Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan akan berdampak pada kenaikan harga produk elektronik di pasar domestik.
Kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan industri yang masih menghadapi tingginya harga bahan baku impor serta melemahnya daya beli masyarakat.
Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Kamis (28/5/2026) pukul 09.01 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.857 per dolar AS.
Angka tersebut melemah 0,31 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya yang berada di posisi Rp17.801 per dolar AS.
Industri Elektronik Masih Bergantung Impor
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik, Daniel Suhardiman mengatakan industri elektronika nasional saat ini masih sangat bergantung pada bahan baku dan komponen impor.
Menurut Daniel, kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah menjadi beban tambahan bagi pelaku industri.
“Pelemahan rupiah ini tentunya menjadi beban tambahan bagi industri. Di satu sisi kami masih berjuang mengatasi kenaikan harga material dan komponen yang sangat signifikan,” ujar Daniel kepada Tribunnews.com, Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 60 persen rantai pasok industri elektronika masih bergantung pada impor karena keterbatasan ketersediaan komponen di dalam negeri.
“Sebagai informasi, rantai pasok industri elektronika saat ini sekitar 60 persen masih bergantung impor karena ketidaktersediaan di dalam negeri,” katanya.
Produsen Dilema Naikkan Harga
Daniel menyebut secara ideal produsen perlu melakukan penyesuaian harga jual untuk menutupi kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah.
Namun di sisi lain, kondisi pasar yang sedang lesu membuat produsen tidak bisa gegabah menaikkan harga produk elektronik.
“Idealnya kami harus menaikkan harga jual sebanding dengan dampak tersebut. Namun dengan turunnya daya beli masyarakat saat ini, kami tidak bisa gegabah melakukan langkah ini,” ungkap Daniel.
Menurutnya, jika kenaikan harga dilakukan, nilainya kemungkinan hanya sebagian kecil untuk menutup kerugian produksi.
“Kalaupun dilakukan, hanya sebagian kecil saja kerugian yang bisa kami tutup dengan kenaikan harga jual,” lanjutnya.
Baca juga: Viral Ribuan Lele Tumpah di SPBU, Warga Ramai Tangkap dan Kembalikan ke Pemilik
Baca juga: Dunia Waspadai Potensi El Nino Akhir 2026, Ancaman Kekeringan Jadi Sorotan
Kenaikan Harga Diprediksi Terjadi
| Melampaui Angka 17.700: Rapuhnya Rupiah dalam Ilusi Moneter Kontemporer dan Urgensi Jangkar Riil |
|
|---|
| Profil Perry Warjiyo Gubernur BI Yakin Rupiah Kembali Stabil di Tengah Tekanan Dolar AS |
|
|---|
| Pernyataan Presiden Prabowo orang Desa Tak Pakai Dolar, Pengamat: Kedelai dan Gandum Masih Impor |
|
|---|
| Rupiah Tertekan, Apa yang Harus Dilakukan Daerah? |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, PHK Besar-Besaran Menjadi Ancaman, Industri Manufaktur Terpukul |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210630-ilustrasi-nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar.jpg)