Minggu, 31 Mei 2026

Sosok Prihantini, Diduga Palsukan Riset Internasional di Denmark, Alumni FMIPA ITB dan UNY

Prihantini adalah alumni program magister matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020.

Tayang:
Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Rusaidah
Tangkapan layar akun X @ardisatriawan
PEMALSUAN RISET -- Sosok Prihantini yang diduga memalsukan riset dalam konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark. Ia ternyata merupakan lulusan magister ITB dan diduga jebolan FMIPA UNY. Selain itu, Prihantini juga terkonfirmasi sebagai penerima LPDP tahun 2022. 
Ringkasan Berita:
  • Sosok Prihantini yang tengah viral lantaran diduga melakukan pemalsuan riset dalam konferensi ilmiah yang digelar di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026 lalu.
  • Prihantini merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) angkatan 2020.
  • Prihantini diduga juga tercatat sebagai alumni FMIPA UNY. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro.

 

BANGKAPOS.COM -- Warga Negara Indonesia (WNI), Prihantini, menjadi sorotan usai diduga memalsukan riset internasional di Denmark.

Dalam sebuah konferensi bertajuk International Society of Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026, Prihantini memaparkan sebuah karya ilmiah.

Namun ada kejanggalan yang ditemukan dalam hasil riset Prihantini.

Hal ini disampaikan oleh sesama peserta konferensi bernama Wa Ode Dwi Daningrat, seorang peneliti di bidang clinical medicine di University of Oxford.

Dwi membeberkan kejanggalan terkait hasil riset Prihantini melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Senin (25/5/2026) lalu.

Salah satunya terkait terkait 19 abstrak yang diperlihatkan dalam forum tersebut. Menurutnya, tidak masuk akal abstrak sebanyak itu bisa dibuat dalam waktu singkat.

Baca juga: Sosok Heru Gundul Presenter Jejak Si Gundul Trans 7, Matanya Kena Semburan Bisa Ular Kobra

Ia menduga abstrak tersebut dibuat dengan menggunakan artificial intelligence (AI) dan berujung tidak akurat karena mengandung fabrikasi data.

Sosok Prihantini

Prihantini adalah alumni program magister matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB.

Iai juga tercatat sebagai alumni FMIPA UNY. Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro.

Nur mengatakan Prihantini diduga alumni UNY bersama rekannya yang diduga turut melakukan pemalsuan riset bernama Rifaldy Fajar.

Dia mengungkapkan hal tersebut diketahui setelah pihak kampus melakukan penelusuran di database alumni UNY.

Namun, Nur menjelaskan bahwa pihaknya belum bisa menyimpulkan apakah nama Prihantini maupun Rifaldy yang tercatat dalam database tersebut sama seperti sosok yang diduga melakukan pemalsuan riset.

“Kalau di database kami, ada dua nama yang sama dengan dua orang yang sedang viral tersebut. Ini masih kami dalami karena data yang digunakan saat publikasi berganti-ganti dan tidak ada nama departemen atau prodi tersebut di UNY,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, ketika dihubungi Tribunnews.com, Rabu (27/5/2026).

Kendati demikian, Nur mengatakan pihaknya telah menghubungi kedua alumni yang namanya dikaitkan dalam kasus dugaan riset palsu terebut.

“Saat ini kami meminta teman-teman dosen dari FMIPA untuk reach out dua nama alumni yang ada di database kami. Karena memang sosmed beliau berdua sepertinya tidak bisa dikontak juga,” ujarnya.

Dalam upaya yang dilakukan, Nur menuturkan pihaknya telah berhasil menghubungi salah satu nama yang diduga terlibat yakni Prihantini.

Dia mengungkapkan Prihantini akan melakukan klarifikasi melalui akun media sosial pribadinya buntut polemik yang terjadi. Namun, kata Nur, sosok Rifaldy belum berhasil dihubungi.

Baca juga: Sosok Kombes Wawan Kepala BNNK Pekanbaru Bantah Anak Bupati di Riau Pakai Narkoba, Hasil Tes Positif

“Kami berhasil menghubungi Prihantini, responsnya nggih akan ada klarifikasi di sosmed. Sepertinya nomor HP-nya dibanjiri pesan juga,” jelasnya.

Nur menjelaskan nama Rifaldy tercatat sebagai angkatan 2014 FMIPA dan dinyatakan lulus tiga tahun setelahnya.

Sementara, nama Prihantini tercatat merupakan lulusan tahun 2018. Ia masuk sebagai mahasiswa FMIPA UNY pada tahun 2015.

Terkait sanksi jika terbukti melakukan pemalsuan riset, Nur mengungkapkan hal tersebut masih perlu untuk didiskusikan dengan pihak-pihak di internal UNY.

“Intinya, jika benar keduanya alumni, perlu kami diskusikan dengan pimpinan, komite etik dan pihak terkait untuk mengambil langkah selanjutnya,” jelasnya.

Penerima LPDP 2022

Selain itu, Prihantini ternyata juga merupakan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, M Lukmanul Hakim menuturkan Prihantini merupakan penerima beasiswa LPDP angkatan 2022.

“Berdasarkan pengecekan awal data internal, yang bersangkutan atas nama Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022,” ujarnya.

Namun, Lukmanul menegaskan pihaknya tetap akan mendalami dan menelaah informasi ini secara lebih lanjut.

Termasuk memeriksa kepatuhan Prihantini terhadap kewajiban kontrak beasiswa melalui koordinasi dengan perguruan tinggi.

Dari hasil pendalaman yang dilakukan, ia mengatakan akan menjadi dasar langkah LPDP selanjutnya.

“LPDP mengapresiasi perhatian publik dan berkomitmen untuk terus menjaga akuntabilitas serta kehormatan komunitas akademik Indonesia di tingkat global,” tutur Lukmanul.

ITB Buka Suara

Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, menegaskan materi yang dipresentasikan Prihantini dalam konferensi internasional tidak berkaitan dengan aktivitas akademik maupun tesis saat menempuh studi di ITB.

“Materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi internasional tak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB."

"Tesis Prihantini saat menempuh studi magister di ITB berjudul ‘Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring’,” kata Aep Patah, Kamis (28/5/2026).

Prihantini diketahui merupakan alumni program magister matematika FMIPA ITB angkatan 2020 dan telah menyelesaikan studi pada 2022.

ITB juga menegaskan dugaan tindakan manipulasi riset tersebut merupakan tanggung jawab pribadi yang bersangkutan. Kampus menghormati apabila nantinya terdapat proses hukum terkait kasus tersebut.

“Jika ada proses hukum atas tindakannya, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud. Kami tegaskan ITB berkomitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Kejanggalan Riset Prihantini

Sosok Prihantini yang tengah viral lantaran diduga melakukan pemalsuan riset dalam konferensi ilmiah yang digelar di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026 lalu.

Adapun konferensi ilmiah yang dimaksud yakni International Society of Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026.

ISPPD merupakan konferensi ilmiah global yang memiliki fokus utama di bidang penyakit pneumonia dan penyakit pneumokokal.

Forum tersebut dihadiri oleh ribuan ilmuwan hingga peneliti kesehatan yang berasal dari berbagai negara.

Dugaan skandal penelitian palsu yang melibatkan peserta asal Indonesia mencuat dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark pada 17 hingga 21 Mei 2026.

Kasus ini menjadi perhatian publik internasional setelah epidemiolog Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di University of Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat, mengungkap berbagai kejanggalan yang ditemukannya selama konferensi berlangsung.

ISPPD dikenal sebagai salah satu konferensi ilmiah bergengsi di bidang penyakit pneumokokus. Tahun ini, acara tersebut dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara.

Namun, nama Indonesia justru menjadi sorotan akibat dugaan manipulasi identitas peneliti hingga kejanggalan data riset yang dipresentasikan.

Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Dwi membagikan kronologi awal terbongkarnya dugaan skandal tersebut. Ia mengaku mulai curiga saat melihat nama pemateri asal Indonesia bernama Prihantini.

Menurut Dwi, komunitas peneliti pneumonia asal Indonesia umumnya saling mengenal melalui publikasi ilmiah maupun jejaring akademik internasional.

“Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia,” ujar Dwi.

Kecurigaan semakin menguat karena Prihantini disebut menghindari interaksi dengan delegasi Indonesia lain selama konferensi berlangsung.

Saat diajak berbincang, ia disebut memperkenalkan diri menggunakan nama berbeda kepada orang yang berbeda.

Tak hanya itu, Dwi juga menemukan sejumlah kejanggalan dalam data penelitian yang dipresentasikan. Salah satunya terkait klaim pengumpulan data primer di wilayah Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal.

“Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol,” ungkapnya.

Dwi kemudian mengikuti sesi presentasi yang dijadwalkan atas nama “Riana Dwi Kurniawati” dengan judul penelitian “Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities”.

Dalam sesi tersebut, perempuan yang diduga Prihantini memperkenalkan diri dengan nama “Riana”. Namun sekitar 10 menit kemudian, perempuan yang sama disebut kembali tampil di sesi berbeda dengan mengganti jilbab menjadi warna merah dan menggunakan identitas bertuliskan nama “Dimas Fajar Prasetyo”.

Ia kemudian mempresentasikan penelitian lain berjudul “AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities” dan memperkenalkan diri sebagai “Dimas”.

Nama Prihantini sendiri diketahui tidak tercantum sebagai penulis dalam dua penelitian tersebut. Namun berdasarkan laman resmi ISPPD, ia mengirimkan lima judul penelitian yang dipamerkan dalam bentuk poster ilmiah.

Lima penelitian itu di antaranya membahas pemanfaatan AI, machine learning, transcriptomic analysis, hingga pemodelan matematika untuk pneumonia pneumokokus.

Dalam daftar penulis, Prihantini dan Rifaldy Fajar menggunakan afiliasi AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation Jakarta. Sementara Rini Winarti mencantumkan afiliasi Departemen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Kasus ini memicu perdebatan luas di kalangan akademisi terkait integritas penelitian, penggunaan kecerdasan buatan dalam publikasi ilmiah, hingga sistem verifikasi dalam konferensi internasional.

(Bangkapos.com/Tribunnews.com/TribunJatim.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved