Tribunners
Pancasila sebagai Benteng Disintegrasi di Tengah Arus Globalisasi
Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai benteng yang menjaga keutuhan bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Penulis : Muhammad Isnaini
(Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Tanggal 1 Juni bukan sekadar penanda sejarah lahirnya Pancasila. Lebih dari itu, momentum ini merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa Indonesia untuk kembali merefleksikan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 dengan tema besar “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, kita diajak untuk menyadari bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai benteng yang menjaga keutuhan bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.
Globalisasi telah menghadirkan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia.
Kemajuan teknologi informasi memungkinkan seseorang di pelosok desa berkomunikasi dengan dunia internasional hanya melalui telepon genggam.
Perdagangan, pendidikan, budaya, dan berbagai aspek kehidupan lainnya kini melintasi batas-batas geografis dan politik. Dunia seolah menjadi satu ruang besar yang saling terhubung.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, globalisasi juga membawa tantangan yang tidak ringan.
Arus informasi yang begitu cepat sering kali datang tanpa filter nilai. Budaya asing masuk tanpa proses seleksi yang memadai.
Pola hidup individualistik, konsumerisme, intoleransi, radikalisme, hingga penyebaran hoaks dan ujaran kebencian menjadi ancaman nyata yang dapat mengikis identitas bangsa.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini berpotensi menimbulkan disintegrasi sosial yang mengancam persatuan Indonesia.
Indonesia bukanlah bangsa yang dibangun atas kesamaan suku, agama, bahasa, maupun budaya. Indonesia berdiri di atas keberagaman yang luar biasa.
Lebih dari 17.000 pulau, ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, serta beragam agama dan kepercayaan hidup berdampingan dalam satu ikatan kebangsaan. Keberagaman tersebut merupakan anugerah sekaligus tantangan.
Dalam konteks inilah Pancasila menemukan relevansinya. Pancasila hadir sebagai titik temu yang mempersatukan seluruh elemen bangsa.
Kelima sila yang terkandung di dalamnya bukan hanya kumpulan kata-kata normatif, melainkan nilai-nilai hidup yang telah digali dari kearifan budaya Nusantara dan terbukti mampu menjaga keutuhan Indonesia selama puluhan tahun.
| Masa Tunggu Pemuatan Karya Sastra adalah Masa Kesabaran dalam Berkarya |
|
|---|
| Hari Lahir Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia |
|
|---|
| Refleksi Teologis-Pedagogis Manasik Haji Kelas Tinggi |
|
|---|
| Inovasi SAKIP: Dari Ortala Setempoh hingga Lempah |
|
|---|
| Euforia Sate dan Gulai: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Iduladha? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Muhammad-Isnaini-Dekan-Fakultas-Sains-dan-Teknologi-UIN-Raden-Fatah-Palembang.jpg)