Tribunners
Merdeka dengan Iman, Maju dengan Ilmu, Beradab dengan Teknologi
Pesantren dan santri memiliki posisi strategis sebagai penjaga keseimbangan antara iman, ilmu, dan teknologi.
Penulis: Muhammad Isnaini
(Alumni Ponpes Nurul Ihsan Baturusa Bangka, kini menjadi Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Peringatan Hari Santri 2025 yang mengusung semangat “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” menjadi momentum reflektif untuk meninjau ulang arah pembangunan manusia dan bangsa.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi nilai, pesantren dan santri memiliki posisi strategis sebagai penjaga keseimbangan antara iman, ilmu, dan teknologi.
Ketiganya bukanlah entitas yang terpisah, tetapi pilar yang saling melengkapi dalam membangun peradaban manusia yang utuh dan berkeadaban.
Dalam perspektif Islam, kemerdekaan sejati bukan hanya lepas dari penjajahan fisik, melainkan juga pembebasan jiwa dari kebodohan dan hawa nafsu.
Hal ini sejalan dengan konsep al-hurriyah al-haqiqiyyah kebebasan yang bertanggung jawab dalam bingkai nilai ketuhanan (Al-Attas, 1993). Maka, “merdeka dengan iman” berarti menegakkan kemerdekaan moral dan spiritual sebagai dasar kemajuan ilmu dan penguasaan teknologi yang beradab.
Semangat Hari Santri 2025 juga menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari pembangunan manusia seutuhnya.
Indonesia yang hendak berperan dalam peradaban dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual dan bermartabat secara moral.
Dalam kerangka pemikiran Al-Faruqi (1982), kemajuan yang berakar pada tauhid akan melahirkan manusia yang tidak tercerabut dari nilai ilahi di tengah kemodernan.
Oleh karena itu, pesantren dengan tradisi tafaqquh fi al-din-nya memiliki modal peradaban yang kuat untuk melahirkan manusia yang berilmu dan beriman sekaligus mampu mengelola teknologi dengan penuh tanggung jawab etis.
Sinergi antara iman, ilmu, dan teknologi inilah yang menjadi fondasi “kemerdekaan hakiki” kemerdekaan yang melahirkan kemajuan tanpa kehilangan arah nilai.
Integrasi Iman dan Ilmu: Fondasi Kemajuan Berkelanjutan
Kemajuan tanpa iman hanya akan melahirkan peradaban yang gersang nilai. Sebaliknya, iman tanpa ilmu akan menjadikan umat terjebak pada dogmatisme yang stagnan.
Dalam pandangan Al-Faruqi (1982), integrasi antara iman dan ilmu merupakan inti dari Islamisasi pengetahuan (Islamization of Knowledge), yaitu upaya menautkan wahyu dan akal dalam seluruh aktivitas manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20251021-Muhammad-Isnaini-dekan-di-UIN-Raden-Fatah-Palembang.jpg)