Rabu, 27 Mei 2026

Tribunners

Mengapa Kampus Harus Mengajarkan Cara Berdialog dengan AI

Kini, wajah dunia akademik berubah total. Kehadiran Kecerdasan Buatan sebuah pergeseran paradigma yang mendasar.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fitriadi
Dokumentasi Pribadi Muhammad Isnaini
Muhammad Isnaini, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang. 

Oleh: Muhammad Isnaini

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang

Beberapa dekade lalu, literasi digital di perguruan tinggi hanya berkutat pada cara mengoperasikan komputer atau mencari jurnal di internet.

Kini, wajah dunia akademik berubah total. Kehadiran Kecerdasan Buatan Generatif (GenAI) seperti ChatGPT, Gemini, hingga Claude bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sebuah pergeseran paradigma yang mendasar.

Namun, di tengah kecemasan massal akan ancaman plagiarisme dan degradasi orisinalitas, muncul satu pertanyaan krusial yang harus segera dijawab oleh institusi Pendidikan, mengapa kampus harus secara formal mengajarkan cara "berdialog" dengan AI?.

Penting untuk dipahami bahwa berdialog dengan AI bukan sekadar mengetik instruksi singkat atau menyalin perintah.

Ia adalah sebuah keterampilan intelektual baru yang oleh para ahli disebut sebagai prompt engineering yang berakar pada epistemic agency.

Sederhananya, mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk tahu bagaimana cara bertanya agar mendapatkan jawaban yang bukan hanya benar secara data, tetapi juga relevan secara konteks dan tajam secara analisis.

Selama ini, banyak pendidik melihat AI sebagai musuh bagi kejujuran akademik. Padahal, jika dikelola dengan tepat, teknologi ini dapat menjelma menjadi "rekan berpikir" yang mumpuni.

Ethan Mollick dalam bukunya Co-Intelligence (2024) menekankan bahwa manusia harus mulai memperlakukan AI sebagai asisten yang cerdas namun tidak menentu, yang membutuhkan pengawasan kritis secara konstan.

Jika mahasiswa tidak diajarkan cara berinteraksi secara dialektis, mereka hanya akan berakhir menjadi konsumen pasif dari "halusinasi" mesin yang seringkali tampak meyakinkan namun keliru. 

Di sinilah kampus memegang tanggung jawab moral untuk menanamkan apa yang disebut David Boud (2021) sebagai evaluative judgement.

Ini merupakan kemampuan seseorang untuk memahami standar kualitas sebuah pekerjaan dan menerapkannya secara kritis, baik pada karya sendiri maupun pada output yang dihasilkan oleh mesin.

Saat berdialog dengan AI, mahasiswa tidak boleh langsung menelan mentah-mentah jawaban yang diberikan, mereka harus mampu membedah apakah argumen tersebut logis atau sekadar untaian kata yang estetis namun hampa makna.

Ketakutan terbesar dari penggunaan AI di ruang kelas adalah fenomena "otomasi mental" atau penurunan daya kritis.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved