Sabtu, 18 April 2026

Ramadhan 2026

Bupati Algafry Rahman Ingatkan ASN Tentang Ketakwaan di Awal Ramadhan

Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman mengisi tausiyah dengan suara tenang namun penuh penekanan

Bangkapos.com/Rifqi Nugroho
Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman saat menyampaikan kajian di Masjid Agung Ar Raihan komplek perkantoran Pemda Bangka Tengah, Koba pada hari pertama Ramadhan 1447 Hijriah, Kamis (19/2/2026). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Karpet merah marun membentang rapi di lantai Masjid Agung Ar Raihan, Komplek Perkantoran Pemda Bangka Tengah, Koba.

Di bawah lengkung mihrab yang dihiasi kaligrafi emas dan hijau, berdiri Algafry Rahman berbaju koko merah bata, berpeci hitam, menggenggam mikrofon dengan tenang. 

Di belakangnya, lafaz “Allah” terpahat besar di dinding, seolah menjadi pusat dari setiap pesan yang disampaikan siang itu.

Hari pertama Ramadan 1447 Hijriah, Kamis (19/2/2026), menjadi momen reflektif bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat yang memadati masjid. 

Usai salat Dzuhur, mereka tak beranjak pulang. Sebagian duduk bersila, sebagian lagi menunduk khusyuk. 

Di hadapan mereka, Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman mengisi tausiyah dengan suara tenang namun penuh penekanan.

Dengan satu tangan memegang mikrofon dan tangan lain sesekali terangkat menegaskan pesan, Algafry mengajak jamaah menoleh ke dalam diri, bukan sekadar menyambut Ramadhan sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai ruang perenungan yang sungguh-sungguh.

“Pertanyaannya adalah, sejauh mana Ramdan-Ramadhan yang kita lewati sebelumnya, bagaimana Ramdan itu mampu mengubah kebiasaan kita. Itu yang harus menjadi koreksi kita,” ujarnya.

Kalimat itu menggantung di ruang masjid yang sejuk oleh pendingin udara, di antara barisan jamaah yang menyimak dalam diam.

Ramadhan, bagi Algafry, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum memperkuat ketakwaan.

Ia mengingatkan bahwa kesempatan bertemu kembali dengan bulan suci adalah nikmat yang tak semua orang peroleh. Rasa syukur, katanya harus menjadi pintu masuk menuju perubahan diri.

“Para sahabat Rasulullah itu, dulu, enam bulan sebelum tiba Ramadhan itu sudah bermohon kepada Allah supaya bisa dipertemukan dengan Ramadhan ini. Supaya bisa dipertemukan dengan Ramadhan ini. Kenapa, karena begitu istimewanya Ramadhan ini,” tambahnya.

Di sisi kanan mihrab, mimbar kayu berukir berdiri kokoh. Beberapa tokoh agama duduk bersandar di dinding, mendengarkan dengan saksama. Sementara di saf depan, para ASN masih mengenakan pakaian dinas, duduk bersila dengan wajah serius.

Ramadhan siang itu terasa berbeda, waktu istirahat yang biasanya diisi makan siang atau rehat singkat, kini berganti dengan majelis ilmu.

Bagi Algafry, kehadiran di majelis seperti ini adalah bagian dari ibadah yang kerap dianggap sederhana, namun bernilai besar di sisi Allah.

“Rekan-rekan semunya, kehadiran kita di majelis seperti ini, insyaallah sudah menjadi hal yang begitu besar yang kita lakukan. Terkadang kita menganggap remeh, hal yang sederhana ini, tapi insyaallah ini bisa menambah ketaqwaan kita,” sebutnya.

Pesan tentang ketakwaan menjadi benang merah tausiyah tersebut. Ia mengaitkannya dengan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, kata dia, memang telah menjadwalkan pembinaan spiritual bagi ASN sepanjang Ramadan 1447 Hijriah. 

Kajian rutin digelar setiap Senin hingga Kamis usai salat Dzuhur di masjid yang menjadi pusat aktivitas rohani di lingkungan perkantoran itu.

“Jadi saat Ramadhan waktu istirahat teman-teman kan tidak digunakan untuk makan siang. Jadi daripada sekedar digunakan tidur, lebih baik mendengar ceramah, itu insyaallah lebih bermanfaat,” kata Algafry.

Tausiyah akan menghadirkan sejumlah penceramah di antaranya ustaz Hendri Kurnia, Firdaus, Dede Irham, dan Kemas Mahmud. 

Jadwalnya telah disusun oleh bagian Kesra agar Ramadhan tak hanya menjadi bulan produktif secara administratif, tetapi juga secara spiritual. Namun lebih dari sekadar agenda rutin, Algafry menekankan transformasi batin. 

Ia berharap ASN tak berhenti pada tugas-tugas birokrasi, tetapi juga menjiwai nilai-nilai Ramadhan dalam keseharian dalam pelayanan, dalam etika kerja dan dalam interaksi dengan masyarakat.

“Mari Ramdan yang hanya 30 hari ini kita manfaatkan, untuk merubah diri kita menjadi lebih baik,” pungkasnya. 

(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved