Kamis, 7 Mei 2026

Video

Video : Kian Tegang! Rusia Dukung China Hadapi Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz

Video : Kian Tegang! Rusia Dukung China Hadapi Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz

Tayang:
Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM - Dunia internasional tengah menyaksikan eskalasi ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar. Rusia menyatakan kesiapannya untuk membantu China yang menghadapi hambatan energi akibat blokade militer yang dilakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Langkah ini menjadi babak baru dalam persaingan antara aliansi Rusia-China melawan kebijakan keras Presiden AS, Donald Trump.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dalam kunjungannya ke Beijing pada 15 April, menegaskan bahwa Moskow tidak akan ragu untuk menutupi kekurangan sumber daya energi China. Blokade AS di Selat Hormuz telah menghambat jalur pengiriman energi vital, namun Lavrov memastikan Rusia akan menjadi penyokong utama bagi negara-negara yang ingin bekerja sama. Pertemuan ini juga membahas konflik di Timur Tengah dan perang di Ukraina, sekaligus mengonfirmasi rencana kunjungan Presiden Vladimir Putin ke China dalam waktu dekat.

Di medan konflik, armada laut Amerika Serikat mulai beraksi keras sejak 14 April. Kapal perusak AS dilaporkan mencegat dua kapal tanker minyak yang mencoba meninggalkan pelabuhan Chabahar di Iran. Pejabat Washington menyatakan bahwa blokade ini bertujuan memaksa Iran untuk menerima persyaratan guna mengakhiri perang setelah kegagalan kesepakatan gencatan senjata [01:50].

Namun, upaya blokade tersebut dinilai tidak sepenuhnya kedap. Laporan menunjukkan setidaknya tujuh kapal, termasuk kapal milik China yang sebelumnya telah disanksi AS, berhasil meloloskan diri dari penjagaan Selat Hormuz. Analis menilai tindakan Trump ini adalah perjudian besar yang tidak hanya menargetkan ekonomi Iran, tetapi juga berisiko memicu guncangan pasokan minyak global terburuk dalam sejarah .

Sementara itu, situasi semakin rumit dengan munculnya kapal Rusia secara mendadak di Pelabuhan Haifa, Israel . Kehadiran kapal ini memicu kemarahan Ukraina, yang menduga kapal tersebut membawa gandum ilegal dari wilayah Ukraina yang diduduki Moskow. Kyiv mendesak Israel untuk memberikan klarifikasi dan melakukan penyelidikan menyeluruh atas insiden ini .

Meskipun blokade militer terus berlangsung, Presiden Donald Trump masih mengisyaratkan adanya peluang diplomasi. Negosiasi antara pejabat AS dan Iran dilaporkan berpotensi kembali digelar di Pakistan dalam waktu dekat untuk menentukan arah konflik ini ke depan.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved