Jumat, 8 Mei 2026

Video

Video : Strategi Armada Nyamuk Iran Bikin AS Kewalahan, Stok Rudal Amerika Menipis

Iran disebut menggunakan strategi “armada nyamuk” di Selat Hormuz yang sulit dilacak militer AS. Perang mulai menguras stok rudal Amerika

Tayang:
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Dok istimewa/Capture YouTube Bangkapos
ARMADA NYAMUK IRAN--Ketegangan di Selat Hormuz makin memanas setelah strategi “armada nyamuk” Iran dinilai merepotkan militer Amerika Serikat. Kapal cepat bersenjata rudal dan drone laut disebut efektif menguras pertahanan AS, sementara stok rudal Amerika dikabarkan mulai menipis akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Ketegangan di Selat Hormuz makin memanas setelah strategi “armada nyamuk” Iran dinilai merepotkan militer Amerika Serikat. 
  • Kapal cepat bersenjata rudal dan drone laut disebut efektif menguras pertahanan AS, sementara stok rudal Amerika dikabarkan mulai menipis akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

 

BANGKAPOS.COM--Ketegangan di Timur Tengah kembali memunculkan kekhawatiran baru terhadap kekuatan militer Amerika Serikat (AS), terutama setelah strategi laut Iran di Selat Hormuz dinilai semakin sulit dihadapi armada perang modern Washington.

Selain menghadapi ancaman “armada nyamuk” milik Iran, militer AS juga disebut mulai mengalami tekanan serius akibat menipisnya stok rudal dalam konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis dunia yang dilalui sebagian besar distribusi minyak global.

Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan ini berubah menjadi titik panas setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Strategi “Armada Nyamuk” Iran Dinilai Merepotkan

Iran diketahui menggunakan strategi perang asimetris melalui taktik “armada nyamuk” atau mosquito fleet.

Strategi ini mengandalkan ratusan kapal cepat kecil bersenjata rudal yang bergerak agresif dan sulit dilacak radar kapal perang besar.

Taktik tersebut dinilai efektif untuk mengganggu kapal perang dan tanker di kawasan Teluk Persia serta Selat Hormuz.

Para analis menyebut keunggulan Iran bukan terletak pada ukuran armada, melainkan kemampuan menguras pertahanan lawan melalui serangan cepat dan masif dari berbagai arah.

“Strategi perang asimetris Iran bertujuan membuat konflik berlarut-larut dan melumpuhkan pertahanan lawan secara perlahan,” ujar pengamat militer Gentio Harsono dalam analisis terkait strategi Iran di Selat Hormuz.

Iran memanfaatkan kondisi geografis Selat Hormuz yang sempit untuk menekan manuver kapal perang besar AS.

Di titik tersempitnya, Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 40 kilometer. Kondisi ini membuat kapal kecil Iran dapat bergerak cepat sambil memanfaatkan pulau-pulau kecil di sekitar jalur pelayaran.

Kapal Cepat dan Rudal Jadi Ancaman Serius

Armada Garda Revolusi Iran (IRGC) diketahui memiliki kapal cepat bersenjata rudal anti-kapal dan drone laut yang dirancang khusus menghadapi kekuatan militer besar.

Kapal-kapal kecil tersebut mampu bergerak dengan kecepatan tinggi hingga lebih dari 90 kilometer per jam dan menyerang secara berkelompok.

Dalam beberapa simulasi militer, taktik swarm attack atau serangan berkerumun seperti ini disebut dapat membingungkan sistem radar dan pertahanan kapal perang modern.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved