Video
Video : Iran Gempur Pangkalan AS dan Perketat Selat Hormuz
Situasi di kawasan Timur Tengah kembali membara menyusul aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Dedy Qurniawan
BANGKAPOS.COM - Situasi di kawasan Timur Tengah kembali membara menyusul aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ketegangan ini dipicu oleh serangan defensif udara Amerika Serikat yang menyasar fasilitas militer serta stasiun kendali darat drone milik Iran di kota pelabuhan strategis, Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz. Pihak Washington menyatakan operasi tersebut terukur demi mencegah ancaman drone yang membahayakan pelayaran internasional. Namun, Teheran menilai tindakan AS sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang selama ini berlangsung rapuh.
Merespons serangan tersebut, IRGC langsung melancarkan serangan balasan cepat menggunakan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan udara militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Salah satu target utamanya adalah Ali Al-Salem Airbase di Kuwait, yang merupakan fasilitas penting Angkatan Udara AS untuk operasi pengawasan di Timur Tengah. Pemerintah Kuwait mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka sempat sibuk mencegat ancaman udara yang datang, sementara sirine peringatan darurat terdengar di berbagai wilayah. Selain di Kuwait, fasilitas militer AS di Camp Arifjan dan Camp Buehring juga dilaporkan menjadi sasaran.
Baca juga: Video : Iran Balas Serang Pangkalan Militer AS, Kuwait Siaga Satu
Tidak hanya menyerang pangkalan militer, Iran juga memperketat cengkeramannya di jalur perdagangan internasional. IRGC dilaporkan sempat menembaki empat kapal yang nekat menerobos jalur strategis tersebut serta melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal tanker minyak milik Amerika Serikat. Kapal-kapal tersebut dipaksa berbalik arah setelah mengabaikan peringatan dari pihak Iran.
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan sepihak Teheran yang membentuk badan baru bernama Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA). Badan ini mewajibkan setiap kapal yang melintas untuk memberikan data rinci kepemilikan, rute pelayaran, izin transit, hingga membayar tarif tertentu. Menanggapi langkah tersebut, Departemen Keuangan Amerika Serikat langsung menjatuhkan sanksi kepada PGSA. Washington menilai aturan baru tersebut sebagai upaya pemerasan perdagangan maritim global demi mendanai Garda Revolusi Iran, dan memperingatkan pihak manapun yang membayar tarif tersebut bisa ikut terkena sanksi.
Sementara itu di front lain, kelompok Hizbullah di Lebanon turut merilis rekaman video yang memperlihatkan pertempuran sengit melawan pasukan Israel di wilayah Hadatha, Lebanon Selatan. Hizbullah mengklaim berhasil menggagalkan empat kali upaya infiltrasi pasukan Israel dan menghancurkan sejumlah kendaraan militer mereka, termasuk buldozer D9 dan kendaraan pengangkut personel lapis baja.
Eskalasi beruntun yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan faksi-faksi di Timur Tengah ini memicu kekhawatiran besar bagi komunitas internasional. Mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati hampir seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya, konflik yang terus menajam ini dikhawatirkan dapat kembali mengguncang stabilitas pasar energi global serta keamanan maritim dunia. (Sumber : YouTube Bangka Pos Official)
| Video : Iran Balas Serang Pangkalan Militer AS, Kuwait Siaga Satu |
|
|---|
| Video: Ketegangan AS–Iran Kembali Memuncak, Selat Hormuz Jadi Titik Panas Konflik |
|
|---|
| Video: Diserang AS, Iran Tembaki Kapal Nekat Terobos Hormuz, IRGC Ancam Balas Semua Agresi Trump |
|
|---|
| Video: Trump Ancam Serang Oman jika Ikut Campur di Selat Hormuz, Iran Nyatakan Solidaritas |
|
|---|
| Video: Jet Tempur Siluman AS Keok Dibom IRGC, Ancaman Keras Iran, F-35 Mundur Baku Tembak |
|
|---|