Harga Anjlok
Harga tiga komoditas ekspor Babel anjlok. Terutama harga timah. Sendi utama ekonomi masyarakat
HARGA tiga komoditas ekspor
Sejak ekonomi timah memegang komando utama kurun 10 tahun terakhir, lada dan
karet adalah usaha perkebunan yang dikuasai rakyat bertahan seadanya.
Sementara komoditas lainnya seperti minyak sawit mentah atau CPO tak bisa
diharapkan. Dampak ekonomi perkebunan ini tak terasa. Sebab hampir seluruh
perkebunan sawit dikuasai para pengusaha besar. Ketika harga CPO dunia
melambung, diikuti dengan terkereknya harga tandan buah sawit, maka
pengusahalah yang menikmatinya. Warga desa sekitar perkebunan mayoritas adalah buruh
kebun tak langsung naik upahnya. Sawit sebagai kekuatan ekonomi rakyat di
Harga yang tiba-tiba jeblok bukan untuk pertama kalinya. Sepanjang usia kebun
para petani selalu mengalami masalah harga yang turun, naik, lalu turun lagi.
Anjloknya harga komoditas perkebunan rakyat
Mayoritas petani tak mengetahui penyebab anjloknya komoditas andalan mereka
itu. Mereka hanya menduga-duga. Turunnya harga sebagai dampak tsunami di
Jepang. Pasalnya, Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor
Banyaknya dugaan penyebab anjloknya harga karet dan lada sebagai bukti bahwa
petani kurang mendapat informasi terkait dengan usaha perkebunan yang mereka
jalankan. Alih-alih mendapat perlindungan dari pemerintah. Petani hanya tau
menanam, merawat, jika beruntung memetik hasilnya. Mereka tak mendapat
informasi tentang perkembangan dan gejolak harga di pasar dunia.
Harus diakui, selama ini gejolak harga dan turun naiknya permintaan karet lebih
banyak diketahui pengumpul dan perusahaan besar yang mengekspor karet.
Akibatnya spekulan dengan mudah mempermainkan harga. Petani pun terpaksa
menjual, meski harganya murah demi memenuhi kebutuhan hidup.
Pemerintah juga terkesan kurang memberikan perlindungan terhadap petani.
Sebagai bukti, pemerintah tak mau belajar dari gejolak serupa yang terjadi
setiap tahun itu. Jika pemerintah benar-benar mengayomi petani, tak mungkin
terjadi penurunan harga yang sangat drastis, seperti yang terjadi sekarang ini.
Padahal anjloknya harga komoditas perkebunan itu memukul petani. Banyak petani
yang terbelit utang, tak mampu membayar angsuran kredit yang dikucurkan
perbankan. Akibatnya, perbankan pun tak berani lagi memberikan kucuran dana
bagi petani karet.
Ketika petani kembali berusaha membangun kepercayaan perbankan, masalah yang
sama kembali menimpa. Bahkan lebih drastis.
Mengatasi persoalan itu, campur tangan pemerintah sangat diperlukan, yaitu
berusaha menjaga agar harga tetap stabil. Kalau perlu mencari terobosan baru,
mencari pasar baru untuk tujuan ekspor.
Tentu, kita tak mau anjloknya harga kembali membuat petani meninggalkan sektor
itu. Kemudian mereka membongkar tanah di kebun-kebun untuk ditambang yang
diyakini lebih menjanjikan.