Rabu, 8 April 2026

Harga Anjlok

Harga tiga komoditas ekspor Babel anjlok. Terutama harga timah. Sendi utama ekonomi masyarakat

Editor: Dedy Purwadi

HARGA tiga komoditas ekspor Babel anjlok. Terutama harga timah. Sendi utama ekonomi masyarakat Babel saat ini sangat sensitif. Turun sedikit saja dampaknya kemana-mana. Sedangkan dua komoditas lainnya, lada dan karet tak bisa diharapkan lagi.

Sejak ekonomi timah memegang komando utama kurun 10 tahun terakhir, lada dan karet adalah usaha perkebunan yang dikuasai rakyat bertahan seadanya.

Sementara komoditas lainnya seperti minyak sawit mentah atau CPO tak bisa diharapkan. Dampak ekonomi perkebunan ini tak terasa. Sebab hampir seluruh perkebunan sawit dikuasai para pengusaha besar. Ketika harga CPO dunia melambung, diikuti dengan terkereknya harga tandan buah sawit, maka pengusahalah yang menikmatinya. Warga desa sekitar perkebunan mayoritas adalah buruh kebun tak langsung naik upahnya. Sawit sebagai kekuatan ekonomi rakyat di Babel sulit diharapkan. Justru keberadaan sawit sejak berdiri hampir 20 tahun silam tak lepas dari konflik dengan warga.

Harga yang tiba-tiba jeblok bukan untuk pertama kalinya. Sepanjang usia kebun para petani selalu mengalami masalah harga yang turun, naik, lalu turun lagi.

Anjloknya harga komoditas perkebunan rakyat Babel seolah para petani tak lepas dari ujian. Baru saja menikmati bulan madu harga yang terdongkrak, tiba-tiba terhempas lagi. Itulah ujian yang mereka hadapi. Ketika harga jeblok, yang ada hanya jeritan.

Mayoritas petani tak mengetahui penyebab anjloknya komoditas andalan mereka itu. Mereka hanya menduga-duga. Turunnya harga sebagai dampak tsunami di Jepang. Pasalnya, Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia. Ada pula yang memprediksi anjloknya harga terkait dengan krisis di Timur Tengah.

Banyaknya dugaan penyebab anjloknya harga karet dan lada sebagai bukti bahwa petani kurang mendapat informasi terkait dengan usaha perkebunan yang mereka jalankan. Alih-alih mendapat perlindungan dari pemerintah. Petani hanya tau menanam, merawat, jika beruntung memetik hasilnya. Mereka tak mendapat informasi tentang perkembangan dan gejolak harga di pasar dunia.

Harus diakui, selama ini gejolak harga dan turun naiknya permintaan karet lebih banyak diketahui pengumpul dan perusahaan besar yang mengekspor karet.

Akibatnya spekulan dengan mudah mempermainkan harga. Petani pun terpaksa menjual, meski harganya murah demi memenuhi kebutuhan hidup.

Pemerintah juga terkesan kurang memberikan perlindungan terhadap petani. Sebagai bukti, pemerintah tak mau belajar dari gejolak serupa yang terjadi setiap tahun itu. Jika pemerintah benar-benar mengayomi petani, tak mungkin terjadi penurunan harga yang sangat drastis, seperti yang terjadi sekarang ini.
Padahal anjloknya harga komoditas perkebunan itu memukul petani. Banyak petani yang terbelit utang, tak mampu membayar angsuran kredit yang dikucurkan perbankan. Akibatnya, perbankan pun tak berani lagi memberikan kucuran dana bagi petani karet.

Ketika petani kembali berusaha membangun kepercayaan perbankan, masalah yang sama kembali menimpa. Bahkan lebih drastis.

Mengatasi persoalan itu, campur tangan pemerintah sangat diperlukan, yaitu berusaha menjaga agar harga tetap stabil. Kalau perlu mencari terobosan baru, mencari pasar baru untuk tujuan ekspor.
Tentu, kita tak mau anjloknya harga kembali membuat petani meninggalkan sektor itu. Kemudian mereka membongkar tanah di kebun-kebun untuk ditambang yang diyakini lebih menjanjikan. Ada baiknya pertahankan petani yang sudah kembali ke kebun dengan mencari solusi agar rakyat hidup sejahtera. (*)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cerpen: Aaah !

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved