BangkaPos/
Home »

Kolom

» Opini

Pudarnya Budaya Mendongeng

Pernah pada suatu masa dimana setelah solat anak-anak bersiap-siap ke tepat tidur melepas lelah

"Melalui dongeng orang tua dapat menanamkan nilai-nilai moral, kasih sayang, kejujuran, keberanian, kerja keras, kesabaran, semangat pantang menyerah"

PERNAH pada suatu masa dimana setelah solat anak-anak bersiap-siap ke tepat tidur melepas lelah setelah seharian bermain dan belajar, menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru di sekolah.

Sebelum tertidur lelap sudah menjadi tradisi seorang ibu, nenek, bibi atau mungkin kakak mengisahkan suatu cerita pengantar tidur atau yang biasa kita sebut dengan mendongeng. Anak sungguh senang menyimak dengan seksama dongeng yang diceritakan. Sesekali mereka berdecak kagum dengan ketangguhan, ketangkasan dan kebaikan budi pekerti tokoh dalam dongeng atau mereka geram dengan tabiat tokoh-tokoh antagonis yang memainkan peran buruknya yang mengesalkan.

Sembari menyimak alur cerita, anak terhanyut dalam imajinasinya masuk ke dalam cerita,  mendaki gunung, menuruni lembah, memasuki hutan, mengarungi samudra, menjelajah angkasa, atau menari-nari meniti pelangi dengan segala keindahan yang ada di dunia dongeng.  Apa yang didengar dalam dongeng seakan terlihat nyata di depan mata. Namun terkadang, anak-anak sudah terlelap sebelum dongeng selesai dikisahkan, bahkan lucunya lagi, tak jarang yang mendongengkan juga ketiduran sementara anak-anak masih penasaran dengan kisah yang diceritakan. 

Kehangatan suasana itu mungkin akan selalu dirindukan oleh mereka yang dulu di masa kecil pernah mengalaminya. Suasana  yang menjalin dan mengeratkan  ikatan emosional antara pendongeng dan yang di dongengkan. 

Namun setelah beberapa dasawarsa berlalu ketika stasiun televisi satu persatu masuk ke rumah-rumah meramaikan hari dan malam kita, maka anak-anak tidak lagi diantar tidur dengan dongengan yang penuh dengan imajinasi dan inspirasi, kebanyakan dari merka beranjak sendiri ke kamar tidur meninabobokan diri dengan game-game seru di HP ibu atau ayahnya, sedangkan sang Ibu dan Ayah menikmati sisa malam dengan berbagai suguhan sinetron, komedi dan film laga.

Bahkan tak jarang anak-anakpun ikut meninabobok kan diri di samping ibunya yang sedang menonton, maka tak heran bila kita melihat perubahan besar pada perkembangan anak zaman sekarang. Bayangkan, pada usianya yang masih belia mereka sudah dijejali oleh tontonan yang mencontohkan perilaku-perilaku yang sungguh tidak patut, terlebih untuk anak seusia mereka. Akibatnya, anak meniru perilaku yang ditontonya, berbagai berita menghebohkan pun bermunculan, misalnya seorang anak mensmack-down temannya hingga babak belur akibat menonton program adu otot yang disaksikan di televisi, anak-anak usia SD sudah berani melakukan perbuatan asusila dan lain sebagainya.

Tergusur Teknologi

Budaya mendongeng mulai tergusur oleh kemajuan teknologi dan sempitnya kesempatan yang dimiliki oleh orangtua karena kesibukan bekerja. Maka sungguh malang nasib anak-anak zaman sekarang yang tidak dapat merasakan kehangatan kebersamaan dalam suasana mendongeng yang sungguh menyenangkan. Mungkin ada diantara orangtua yang menganggap remeh mendongeng. Hal itu sungguh keliru, karena  banyak sekali manfaat yang didapatkan dengan mendongeng.

Melalui dongeng orang tua dapat menanamkan nilai-nilai moral, kasih sayang, kejujuran, keberanian, kerja keras, kesabaran, semangat pantang menyerah dan lain sebagainya. Melalui cerita yang disampaikan anak juga dapat diarahkan untuk menghindari sifat-sifat tercela yang dapat merusak dirinya atau memperburuk hubungannya dengan sesama.

Dengan menceritakan tokoh-tokoh besar maka anak juga akan tergugah untuk menjadi orang yang berjiwa besar. Melalui kisah para Nabi dan tokoh-tokoh teladan orang tua dapat menanamkan nilai-nilai dan ajaran agama. Mana yang diharuskan dan mana yang terlarang sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing serta apa saja perbuatan yang disukai atau dibenci oleh Tuhan.

Mendongeng juga dapat mendorong perkembangan bahasa anak. Dari berbagai cerita yang didengar anak tentu banyak pula kata-kata yang ia dapatkan. Semakin banyak anak mendengar, semakin banyak pula kosa-kata yang dimilikinya.

Halaman
12
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help