Kamis, 11 Juni 2026

Selir Antisuap!

Kisah selir Kaisar yang saya baca kembali dalam Sriwijaya (Air) Magazine Edisi Januari 2012 ..

Tayang:
Editor: Dedy Purwadi
Dikisahkan ada seorang selir Kaisar bernama Wang Zhao Jun. Dia berparas sangat cantik dan pandai bermain Pipa, alat musik tradisional berdawai 4.
Kaisar Cina saat itu, Kaisar Yuan, memilih selir yang berjumlah ribuan orang berdasarkan lukisan yang dibuat seniman istana. Para selir berlomba menyuap seniman agar tampil menarik dalam lukisan sehingga ada kesempatan dipilih kaisar.
Wang Zhao Jun menolak memberi suap, sehingga lukisan dirinya dibuat tidak menarik. Bersamaan dengan saat itu, kepala suku bangsa Mongolia meminta seorang selir dari harem Kaisar Yuan untuk mempererat hubungan antara kedua bangsa.
Sang Kaisar segera menunjuk lukisan selirnya yang paling tidak menarik. Dialah Wang Zhao Jun,
Saat upacara penyerahan dan pemberangkatan, Sang Kaisar akhirnya melihat langsung betapa cantiknya Wang Zhao Jun, bahkan yang tercantik di antara semua selirnya.

(Cerita Rakyat Cina)

KISAH selir Kaisar yang saya baca kembali dalam Sriwijaya (Air) Magazine Edisi Januari 2012 mengingatkan kita pada agenda akbar Negeri Laskar Pelangi 23 Februari 2012 yaitu Pemilu Kada; memilih Gubernur dan Wakil Gubernur 2012-2017.

Bagaikan Seorang Kaisar, warga masyarakat di Bumi Serumpun Sebalai memilih selir tercantiknya yaitu kandidat terbaik sekaligus yang bisa memainkan musik kehidupan bagi kesejahteraan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.
Kandidat atau selir-selir yang akan dipilih sejatinya sudah dikenali oleh masyarakat karena sebagian besar adalah pemimpin yang berasal dari walikota, bupati atau anggota dpr. Rekam jejaknya pun amat dikenali oleh masyarakat. Lalu what’s next?

Mulai besok pagi kita memasuki hari tenang menjelang pemungutan suara. Hiruk pikuk pencitraan dan pembuatan lukisan dilakukan sejak awal kampanye, bahkan jauh-jauh hari hingga hari ini.

Banyak pelukis yang terus menjaga lukisannya. Dan bagi kandidat yang jujur dan adil dia tidak akan melakukan suap agar lukisan dirinya dipercantik melebihi kenyataannya.

Kandidat yang jujur dan rendah hati membiarkan diri apa adanya dan tidak mau menyuap walau lukisan dirinya jelek dan tidak dilirik orang. Dalam perspektif inilah kisah dari Cina ini mengingatkan rakyat agar memilih kandidat yang antisuap alias money politic.

Tiga hari ini kita sebagai rakyat diingatkan agar kita sebagai rakyat jangan sampai kehilangan selir yang dalam lukisan tampak jelek tapi sejatinya dialah yang tercantik dari semuanya. Suap menjadi kata kunci dan kata hati setiap dari kita.

Banyak bijak bestari yang mengingatkan kita dengan indikator atau kriteria kandidat pemimpin negeri.

“Apakah yang akan kita pilih nanti adalah pemimpin yang  membawa orang-orang yang dipimpinnya dari tempat mereka berada sekarang menuju tempat yang belum pernah mereka datangi, dalam arti memotivasi orang-orang yang dipimpin kepada pencapaian yang besar, yang lebih besar lagi, hingga yang terbesar yang belum pernah mereka capai” tanya Henry Kissinger.
Apakah yang akan kita pilih itu memenuhi kriteria Mario Teguh?  “Jika engkau ingin menjadi pemimpin, jangan pernah mengabaikan keharusanmu untuk melayani bagi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecemerlangan mereka yang kau pimpin.”

“Kedudukanmu bukanlah untuk kemapanan dan kedamaianmu saja. Hanya merasa damai dan mapanlah, jika engkau telah berhasil menjadikan mereka yang kau pimpin hidup dalam kedamaian dan kemapanann” kata Mario Teguh mensyaratkan.

Apakah pemimpin yang kita pilih nanti paham sebagaimana Brooke Astor yang berkata  “Power is the ability to do good for others (kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain).”
Apakah yang akan kita pilih memaknai kepemimpinan sebagai  suatu tindakan, bukan suatu posisi sebagaimana dikristalkan oleh  Donald H. McGannon?
Rich DeVos menyadarkan kita bahwa kepemimpinan berurusan dengan upaya untuk menghadapi perubahan.

Apakah yang akan kita pilih adalah pemimpin yang mempunya otak untuk mendapatkan uang, dan hati untuk membelanjakannya? (George Farquhar)
“Di masa lalu, pemimpin adalah bos. Namun kini, pemimpin harus menjadi partner bagi mereka yang dipimpin. Pemimpin tak lagi bisa memimpin hanya berdasarkan kekuasaan struktural belaka” kata Ken Blanchard.
Inti dari kepemimpinan adalah yang akan kita pilih  harus memiliki visi dan mengarahkan organisasi ke arah yang tepat.  “Pemimpin  tidak bisa meniup terompet sembarangan,” kata  Theodore M. Hesburgh.

Apakah yang akan kita pilih adalah kriteria pemimpin Confusiua?  “Seorang pemimpin yang hebat, ketika dia dalam keadaan aman, dia tidak lupa bahwa bahaya mungkin datang.

Saat dia berada di puncak, dia tidak lupa bahwa kemungkinan jatuh itu selalu mengintai.

Ketika segalanya terasa damai, dia tidak lupa bahwa kekacauan bisa saja terjadi.

Oleh karena itu, orang tersebut tidak pernah menimbulkan bahaya,
dan negara serta semua orang yang ada di sekitarnya merasa aman.”
Selamat memilih pemimpin yang sekualitas selir Wang Zhao Jun. Antisuap dan keindahan pribadinya mulia dan talentanya luar biasa.  Semoga!

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved