Bangkit & Berubah!
Bangkapos.com - Sabtu, 7 April 2012 23:25 WIB
Berita Terkait
- Koki Handal Dukung Bazar Vegetarian
- Bazar Vegetarian Disambut Antusias
- IVS Belitung Gelar Bazar Vegetarian
- Kak Seto Merasa Lebih Sehat dengan Vegetarian
- Jadi Vegetarian Tidak Sulit Penuhi Gizi
- Vita Consecrata Monsignor Hila
- Vita Consecrata Monsignor Hila
- "La Furia Roja" Laskar Sekaban
- Jiwa Muda Bung Karno
- GETAR Sentuh Hati Nurani Sukiran
"Sebagaimana cinta menyalibkanmu,
demikian pula cinta kasih
akan memahkotai dirimu"
(Kahlil Gibran, Filsuf dari Libanon)
PADA malam Paskah, umat kristiani merenungi kembali peristiwa penciptaan (genesis) termasuk kejatuhan manusia ke dalam dosa, pembebasan dari perbudakan (exodus), penebusan dosa serta karya agung kebangkitan (resurrection).
Ditampilkan kembali alur sejarah karya penyelamatan: perubahan, pemurnian dan penyempurnaan Kitab Taurat dengan ajaran cinta kasih yang dibawa oleh Yesus Kristus, Isa Almasih. "You must be the change you wish to see in the world," kata Mohandas Gandhi.
Air yang tergenang dalam waktu lama akan menjadi air yang kurang sehat. Perlu perubahan agar tetap segar dan tetap memberi manfaat (benefit) bagi kehidupan. "Action and reaction, ebb and flow, trial and error, change - this is the rhythm of living. Out of our over-confidence, fear; out of our fear, clearer vision, fresh hope. And out of hope, progress," tulis Bruce Barton
Perubahan sejati datang dari dalam: perubahan dari dalam (inside), nyala lidah api yang menyeruak kegelapan, senyum manis yang mengusir ketegangan, pelayanan lembut di tengah gengsi dan egoisme.
"It may be hard for an egg to turn into a bird: it would be a jolly sight harder for it to learn to fly while remaining an egg. We are like eggs at present. And you cannot go on indefinitely being just an ordinary, decent egg. We must be hatched or go bad," kata C. S. Lewis
Perubahan dan kebangkitan dari dalam (inside) lebih menghidupkan ketimbang perubahan dari luar (outside). Ketika telur dipecah dari dalam (inside) ia menjadi kehidupan baru, meninggalkan kegelapan menuju terang dunia. Namun ketika dipecah dari luar (outside) kehidupan justru berantakan dan bisa berakhir dengan kematian.
"Without change, something sleeps inside us, and seldom awakens. The sleeper must awaken," kata Frank Herbert
Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara berkata, "Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. Ingat anak-anakku, Allah berfirman, Dia tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, sampai kaum itu sendirilah yang melakukan perubahan. Kalau kalian mau sesuatu dan ingin menjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan berdoa, tapi berbuatlah, berubahlah, lakukan saat ini. Sekarang juga!"
Dan keluar dari diri sendiri, mematikan egosentrisme, mengorbankan diri bagi yang kita cintai adalah kunci eksistensi. "Lilin hanya berarti manakala dikeluarkan dari kotak, bernyala, hidup dan menerangi. Lonceng hanya menjadi lonceng manakala ia dipukul dan berdentang. Demikian pula nyanyian bermakna tatkala nada dan syair dinyanyikan. Cinta dalam hati bukan cinta kalau kamu tidak memberi dan mewujudkannya kepada sesama umat manusia," kata Uskup Pangkalpinang Mgr Hilarius Moa Nurak SVD pada Misa Malam Paskah, di Katedral, Sabtu (7/4)
***
BERUBAH dan bangkit sejatinya proses batin, proses sisi rohani kita; sikap mau maju. Mereka yang bangkit dan berubah meninggalkan "manusia lama" yang penuh egoisme, cinta diri, serakah. Manusia lama itulah yang "disalibkan" dan dimatikan. Kemudian pribadi itu mengenakan "manusia baru"; manusia yang mau berkorban, mencintai orang lain ketimbang mencintai diri sendiri, lebih memberi ketimbang mengambil atau meminta.
Manusia baru itu ditandai dengan habitus baru, hidup dengan peradaban baru, dengan tata nilai baru yang lebih membebaskan. Viktor Frankl (1905-1997) the prophet of meaning seperti dikutip I Suharyo, Uskup Agung Jakarta, mengatakan terjadinya kekosongan eksistensial yang melanda manusia kini karena kehidupan pribadinya tidak lagi bermartabat.
Kekosongan eksistensial itu terjadi karena ambisi nafsu kekuasaan demi kekuasaan dan bukan kekuasaan untuk melayani serta menuju kesejahteraan bersama; gengsi yang diraih dengan cara tidak bermartabat menuju kehormatan bermartabat.
Perubahan yang akan memenuhi kekosongan eksistensial dalam skala kita antara lain; Perubahan dari yang semula bekerja tanpa perencanaan dan target menjadi bekerja dengan plan, dari melayani pelanggan tanpa senyum dan keramahan menuju pelayanan dengan hati dan keramahan, dari pengemasan kepemimpinan demi kekuasaan menuju kepemimpinan yang lebih melayani.
Kebangkitan dan perubahan memerlukan konsistensi sikap dan spirit (constant change) yang bergerak maju, beradaptasi dengan lingkungan serta tidak jalan di tempat. Hanya dengan jalan adaptatif dan selalu baru itulah kita tidak akan punah seperti dinosaurus melainkan seperti semut yang sejak awal penciptaan hingga kini dan masa yang akan datang tetap survive dalam kehidupan seraya bermetafora.
"If we don't change, we don't grow. If we don't grow, we aren't really living," simpul Gail SheehyI. Sedang Aristoteles menegaskan, "Change in all things is so sweet. Bagi yang merayakannya, Selamat Paskah!
demikian pula cinta kasih
akan memahkotai dirimu"
(Kahlil Gibran, Filsuf dari Libanon)
PADA malam Paskah, umat kristiani merenungi kembali peristiwa penciptaan (genesis) termasuk kejatuhan manusia ke dalam dosa, pembebasan dari perbudakan (exodus), penebusan dosa serta karya agung kebangkitan (resurrection).
Ditampilkan kembali alur sejarah karya penyelamatan: perubahan, pemurnian dan penyempurnaan Kitab Taurat dengan ajaran cinta kasih yang dibawa oleh Yesus Kristus, Isa Almasih. "You must be the change you wish to see in the world," kata Mohandas Gandhi.
Air yang tergenang dalam waktu lama akan menjadi air yang kurang sehat. Perlu perubahan agar tetap segar dan tetap memberi manfaat (benefit) bagi kehidupan. "Action and reaction, ebb and flow, trial and error, change - this is the rhythm of living. Out of our over-confidence, fear; out of our fear, clearer vision, fresh hope. And out of hope, progress," tulis Bruce Barton
Perubahan sejati datang dari dalam: perubahan dari dalam (inside), nyala lidah api yang menyeruak kegelapan, senyum manis yang mengusir ketegangan, pelayanan lembut di tengah gengsi dan egoisme.
"It may be hard for an egg to turn into a bird: it would be a jolly sight harder for it to learn to fly while remaining an egg. We are like eggs at present. And you cannot go on indefinitely being just an ordinary, decent egg. We must be hatched or go bad," kata C. S. Lewis
Perubahan dan kebangkitan dari dalam (inside) lebih menghidupkan ketimbang perubahan dari luar (outside). Ketika telur dipecah dari dalam (inside) ia menjadi kehidupan baru, meninggalkan kegelapan menuju terang dunia. Namun ketika dipecah dari luar (outside) kehidupan justru berantakan dan bisa berakhir dengan kematian.
"Without change, something sleeps inside us, and seldom awakens. The sleeper must awaken," kata Frank Herbert
Ahmad Fuadi, penulis Negeri 5 Menara berkata, "Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. Ingat anak-anakku, Allah berfirman, Dia tidak akan mengubah nasib sebuah kaum, sampai kaum itu sendirilah yang melakukan perubahan. Kalau kalian mau sesuatu dan ingin menjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan berdoa, tapi berbuatlah, berubahlah, lakukan saat ini. Sekarang juga!"
Dan keluar dari diri sendiri, mematikan egosentrisme, mengorbankan diri bagi yang kita cintai adalah kunci eksistensi. "Lilin hanya berarti manakala dikeluarkan dari kotak, bernyala, hidup dan menerangi. Lonceng hanya menjadi lonceng manakala ia dipukul dan berdentang. Demikian pula nyanyian bermakna tatkala nada dan syair dinyanyikan. Cinta dalam hati bukan cinta kalau kamu tidak memberi dan mewujudkannya kepada sesama umat manusia," kata Uskup Pangkalpinang Mgr Hilarius Moa Nurak SVD pada Misa Malam Paskah, di Katedral, Sabtu (7/4)
***
BERUBAH dan bangkit sejatinya proses batin, proses sisi rohani kita; sikap mau maju. Mereka yang bangkit dan berubah meninggalkan "manusia lama" yang penuh egoisme, cinta diri, serakah. Manusia lama itulah yang "disalibkan" dan dimatikan. Kemudian pribadi itu mengenakan "manusia baru"; manusia yang mau berkorban, mencintai orang lain ketimbang mencintai diri sendiri, lebih memberi ketimbang mengambil atau meminta.
Manusia baru itu ditandai dengan habitus baru, hidup dengan peradaban baru, dengan tata nilai baru yang lebih membebaskan. Viktor Frankl (1905-1997) the prophet of meaning seperti dikutip I Suharyo, Uskup Agung Jakarta, mengatakan terjadinya kekosongan eksistensial yang melanda manusia kini karena kehidupan pribadinya tidak lagi bermartabat.
Kekosongan eksistensial itu terjadi karena ambisi nafsu kekuasaan demi kekuasaan dan bukan kekuasaan untuk melayani serta menuju kesejahteraan bersama; gengsi yang diraih dengan cara tidak bermartabat menuju kehormatan bermartabat.
Perubahan yang akan memenuhi kekosongan eksistensial dalam skala kita antara lain; Perubahan dari yang semula bekerja tanpa perencanaan dan target menjadi bekerja dengan plan, dari melayani pelanggan tanpa senyum dan keramahan menuju pelayanan dengan hati dan keramahan, dari pengemasan kepemimpinan demi kekuasaan menuju kepemimpinan yang lebih melayani.
Kebangkitan dan perubahan memerlukan konsistensi sikap dan spirit (constant change) yang bergerak maju, beradaptasi dengan lingkungan serta tidak jalan di tempat. Hanya dengan jalan adaptatif dan selalu baru itulah kita tidak akan punah seperti dinosaurus melainkan seperti semut yang sejak awal penciptaan hingga kini dan masa yang akan datang tetap survive dalam kehidupan seraya bermetafora.
"If we don't change, we don't grow. If we don't grow, we aren't really living," simpul Gail SheehyI. Sedang Aristoteles menegaskan, "Change in all things is so sweet. Bagi yang merayakannya, Selamat Paskah!
Editor : dedypurwadi
Sumber : bangkapos.com
