Rabu, 10 Juni 2026

Spirit Rajawali

MANAKALA kita memasuki bulan Agustus, kita tidak saja masuk dalam iklim permenungan tentang kemerdekaan.

Tayang:
Editor: Dedy Purwadi
“Perjuanganku lebih mudah
karena mengusir penjajah,
 tapi perjuanganmu akan lebih sulit
karena melawan bangsamu sendiri.”

(Bung Karno)

MANAKALA kita memasuki bulan Agustus, kita tidak saja masuk dalam iklim permenungan tentang kemerdekaan. Syukur atas kemerdekaan yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta justru membawa kita pada refleksi kekinian yang mencatat betapa banyaknya belenggu-belenggu yang kian menyandera kita.

Belenggu-belenggu itu bukan imperialisme bangsa asing, melainkan benalu-benalu anak bangsa  yang cinta diri, jauh dari spirit cinta negeri.  Mereka tidak menumpahkan darah sebagai bentuk pengorbanan, namun mengisapnya sebagai orang asing yang rakus dan super egosentris.

Bung Karno berkata, “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “.

Semangat Elang Rajawali adalah ketajaman dalam melihat dari ketinggian nilai  dan kebijaksanaan untuk segera menukikkan eksekusi pada sasaran keabadian, “……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……”

Kasus dugaan korupsi yang hari-hari ini menjadi perhatian publik hanyalah ujung belenggu yang menyandera bangsa ini. Mereka adalah yang senantiasa membuat kalkulasi berapa benefit yang kudapat dari republik.

Amat sangat berbeda dengan spirit Bung Karno yang dengan gagah menegaskan, “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”.

Bung Karno sangat berorientasi pada rakyat dengan mengikhlaskan keuntungan pribadinya tersalib dalam kekuasaan rakyat. Kata Bung Karno; “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

Peristiwa masuknya warga ke kuasa penambangan PT Koba Tin beberapa waktu lalu wajib dilihat dengan spirit Elang Rajawali: "Adakah agenda diatas agenda dari peristiwa tersebut? Bingkai berbingkainya suatu peristiwa bisa ditampi dari  sejauh mana pihak-pihak yang terlibat pada peristiwa Koba Tin lebih memberikan benefit kepada rakyat ?

Demikian pula jatuh bangunnya para politisi  dan pejabat di mata hukum dan di mata rakyat menjadi pertanda bahwa Tuhan tidak "tidur".  Air keruh di kolam eksekutif, legislatif maupun di yudikatif serta institusi  Polri dan TNI,  memang bisa mengotori diri dan membuat mata kehidupan tidak melihatnya lagi. Namun bagi teratai, pribadi yang benar, jujur dan bersih dari noda hukum, akan tetap menjulang tinggi dengan segala kemegahan dan keagungannya bagai teratai putih bersih nan agung yang muncul dari air keruh dan kotor

Bung Karno mengajak kita keluar dari air keruh dan belenggu yang menyandera dengan menjulurkan kebaikan demi kebaikan agar langkah kemajuan berderap tegap. “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”.

Kemerdekaan memang bukan soal bebas dari namun soal bebas untuk. Bebas dari menyiratkan kepasifan. Sedang "bebas untuk" merupakan anugerah Tuhan agar kita memberdayakan diri untuk keluar  dari sikap  egosentris ke altruis. Sikap altruis adalah sikap bersedia keluar dari diri sendiri bagi sesama atau yang dicintai. Sikap mengorbankan diri bagi kebahagiaan sesama atau orang yang dicintai.

Melawan bangsa sendiri  kemudian berarti menularkan spirit altruis ke semakin banyaknya kader bangsa. Itulah spirit rajawali. Semoga!

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved