Rabu, 10 Juni 2026

Basmi Perdagangan Manusia!

KASUS perdagangan manusia (trafficking—red) rasanya tidak pernah bisa dihentikan.

Tayang:
Editor: Dedy Purwadi
KASUS perdagangan manusia (trafficking—red) rasanya tidak pernah bisa dihentikan. Setiap saat kasus-kasus perdagangan manusia ini selalu muncul ke permukaan. Baik terungkap melalui penyelidikan pihak berwajib ataupun terungkap tanpa sengaja. Contohnya seorang anak baru gede (ABG) asal Jakarta —sebut saja Bunga—. ABG yang mengaku berusia 14 tahun ini mengaku kepada aparat kepolisian dan Sat Pol PP yang kebetulan melakukan razia di lokasi Sambung Giri Kecamatan Merwang Kabupaten Bangka, bahwa dirinya telah dijual kepada pria “pemuas nafsu sahwat” seharga Rp 300.000.

Miris kita menyaksikan kasus-kasus seperti ini. Begitu buta hati para pria pemuas nafsu dan para penjual manusia ini. Seakan tidak punya perasaan mereka melakukan aktivitas tersebut. Mereka menganggap manusia sudah seperti sayuran ataupun makanan, yang kapan saja bisa dijual kepada para penikmat seks. Harga pun bisa bervariasi tergantung negoisasi kedua pihak. Mengapa ada saja orang yang begitu kejamnya sampai menjual orang atau bahkan anggota keluarganya sendiri demi uang? Apa mereka masih mempunyai hati nurani?

Trafficking  memang lebih banyak dialami oleh perempuan dan anak-anak. Mengapa seperti itu? Karena seringkali mereka dianggap makhluk tidak berdaya. Anak-anak yang diperdagangkan biasanya di bawah umur 18 tahun.

Ada anak-anak yang diculik dan orangtua tidak mengetahui apa-apa tentang anak yang akan diperdagangkan itu. Ada pula orangtua yang tertipu karena pedagang manusia. Orangtua yang tertipu ini biasanya hanya mengetahui bahwa anaknya akan mempunyai pekerjaan, tanpa diberikan penjelasan yang  jelas dan tepat.

Memang banyak faktor yang menjadi penyebab makin maraknya perdagangan manusia ini, seperti krisis moneter yang memperparah keadaan, kurangnya pendidikan, kemiskinan, kurangnya kesadaran (khususnya tentang pekerjaan yang akan diberikan), keinginan cepat kaya atau mendapat uang, kurangnya pencatatan kelahiran, dan korupsi, serta lemahnya penegakan hukum.

Kemiskinan seringkali juga menjadi salah satu penyebab utama. Orangtua terpaksa menjual anaknya untuk memenuhi kebutuhan, terutama jika  ada anggota keluarga yang sakit. Penegakan hukum di Indonesia juga sangat lemah, sehingga kasus perdagangan ini banyak terjadi. Hukuman tidak terlalu ditegakkan dan berlaku sesuai dengan seharusnya.

Seperti kasus yang dialami Bunga ini, dimana Ia ditawari kerja di sebuah cafe di Bangka. Ia tidak mendapatkan penjelasan yang detil dan transfaran mengenai pekerjaan yang akan di lakoninya di Bangka. Apalagi tafsiran cafe di Bangka maupun di Belitung kadang berbeda dengan cafe pada umumnya. Untuk di Bangka dan di Belitung, cafe-cafe ini lebih bernuansa negatif. Masa ada cafe di hutan-hutan? Dari lokasi penempatan cafe ini juga sudah menyalahi aturan.

Di tengah hutan ada gemerlap hiburan. Tentu menu yang disajikan akan berbeda dengan cafe-cafe di tengah kota atau di pusat hiburan yang memang sudah menjadi tapak wisata sebuah daerah. Akibatnya seperti yang dialami Bunga dan mungkin masih banyak bunga-bunga lain yang sekarang terperangkap dalam cafe tengah hutan.

Lalu siapa yang harus membebaskan bunga-bunga ini? Semua elemen masyarakat mestinya perduli. Setidaknya perduli terhadap aktivitas yang berbau maksiat di lingkungan masing-masing. Jika mengetahui adanya aktivitas berbau maksiat, harusnya segera melaporkan kepada pihak berwajib. Untuk para penegak hukum, harusnya lebih tegas. Jangan hanya gertak sambal, setelah itu pedasnya tak berbekas lagi.

Akibat yang terjadi, lokasi-lokasi yang berbau maksiat ini bukannya hilang, justru tumbuh subur. Pihak-pihak lain juga harus berusaha membasmi dan mencegah trafficking! Jangan percayakan begitu saja diri dan anggota keluarga ke tangan orang lain, terutama ke orang yang mencurigakan. Kita harus lebih mawas diri dan sadar diri. (*)


Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved