Senin, 29 Desember 2014
Bangka Pos
Home » Kolom » Opini

Kurikulum 2013: Optimalisasi Peran Guru BK

Senin, 28 Januari 2013 15:42 WIB

Oleh: Dinar Pratama, M.Pd
Dosen STKIP Muhammadiyah Babel

LAYANAN pendidikan di sekolah tidak hanya berupa pengajaran saja, tetapi pengembangan potensi diri dan karakter siswa juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pendidikan di sekolah. Pendidikan sejatinya tidak hanya mapu menjadikan siswa pintar secara intelektual, melainkan matang secara emosional dan kepribadian. Perlunya perhatian sekolah dalam mengembangkan potensi, emosional, dan karakter siswa ini setidaknya dapat memberikan bekal siswa dalam menghadapi persoalan kompleks dalam bermasyarakat.

Oleh karena itulah dalam hal ini, Mangunwijaya mengingatkan akan pentingnya membangun pendidikan hadap masalah. Tidak jarang kita temui banyak siswa yang terlibat tawuran dikarenakan sekolah tidak punya program pengembangan emosional dan karakter siswa. Pendidikan hadap masalah merupakan konsep dimana guru dituntut untuk mendesain pembelajaran yang kontekstual.

Selama ini praktik pembelajaran dikelas kurang melibatkan siswa secara penuh dalam memandang kritis persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Pembelajaran lebih banyak bersifat tekstual, sehingga menjadikan siswa kaya akan pengetahuan tetapi miskin akan konsep diri. Konsep diri inilah yang pada gilirannya akan membentuk kepribadian siswa untuk lebih siap menghadapi persoalan disekitar mereka. Dengan begitu, siswa dapat bertindak lebih bijak dalam menyikapi segala sesuatu.

Konsekuensi kurikulum baru
Rencana pemerintah dengan diberlakukannya kurikulum baru pada tahun ini tentunya akan membawa konsekuensi. Jika dilihat secara mendalam, kurikulum 2013 yang akan diimplementasikan secara bertahap mendatang lebih menitik beratkan pada pengembangan karakter siswa.

Dimana mata pelajaran yang menuntut adanya perubahan sikap siswa akan lebih banyak jam belajarnya. Termasuk Pramuka yang biasanya menjadi salah satu kegiatan ektrakurikuler siswa akan diwajibkan untuk setiap sekolah. Berangkat dari persoalan tersebut, sekolah dalam hal ini perlu mengoptimalkan peran guru bimbingan konseling (BK) sebagai wadah bimbingan dan konsultasi bagi setiap persoalan dan pengembangan potensi serta bakat siswa. Penerapan kurikulum 2013 pada bulan Juli mendatang sangat berhubungan dengan peran guru BK. Mengapa tidak, hal ini dikarenakan kurikulum baru ini khususnya di SMA untuk penjurusan diganti dengan peminatan bidang Matematika dan Sains, Sosial, serta Bahasa. Konsekuensinya tentu para guru BK di SMP/MTs harus memberikan advokasi atau pendampingan berupa bimbingan pertimbangan peminatan jurusan jika siswa melanjutkan ke jenjang  SMA/SMK.

Walaupun tugas dan peran guru BK dalam membimbing siswa memilih jurusan yang tepat sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya bukan menjadi penentu utama siswa akan sukses dalam belajar. Tetapi minimal dengan diberlakukannya sistem peminatan jurusan ini tugas dan fungsi guru BK lebih jelas dan terarah. Karena selama ini, keberadaan guru BK di sekolah lebih cenderung menjadi momok bagi siswa. Karena siswa menganggap tugas guru BK hanya menangani siswa yang bermasalah saja. Terkadang siswa yang bersikap baik di sekolah pun jika  dipanggil oleh guru BK rata-rata dari mereka berasumsi negatif. Padahal sebenarnya tidak seperti itu juga, siswa tersebut dipanggil bukan karena dia melakukan kesalah tetapi dalam rangka pembinaan potensi dan bakat siswa karena nilai siswa tersebut termasuk kategori baik.

Dengan diberlakukannya kurikulum baru ini setidaknya dapat memberikan citra positif guru BK yang selama ini dinilai negatif oleh kebanyakan siswa. Pada gilirannya siswa tidak akan segan mengunjungi ruangan BK karena guru BK seharusnya tidak lagi hanya menangani siswa yang bermasalah tetapi ruangan BK akan terbuka bagi semua siswa yang ingin menyampaikan keluh kesahnya mengenai persoalan belajar atau bahkan pribadi, maupun keluarga mereka. Untuk mencapai upaya optimalisasi peran guru BK ini pimpinan sekolah beserta guru harus memberikan pemahaman secara gradual kepada semua siswa mengenai tugas, fungsi, dan peran guru BK. Bila perlu sekolah membuat kebijakan khusus mengenai peran guru BK agar dapat berjalan sistematis dan terencana.

Mengingat pentingnya keberadaan guru BK dalam penerapan kurikulum baru, artinya kebutuhan akan guru BK di sekolah-sekolah menjadi mendesak. Menurut Mungin Eddy Wibowo Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) serta Guru Besar Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Semarang , jumlah guru bimbingan dan konseling di Indonesia saat ini hanya sekitar 33.000 orang.

Padahal, untuk melayani sekitar 18,8 juta siswa SMP/MTs dan SMA/SMK/MA dibutuhkan setidaknya 125.572 guru bimbingan dan konseling. Adanya kesenjangan ini tentu menjadi PR baru pemerintah untuk memenuhi kebutuhan guru BK di setiap sekolah (Kompas, 23 Januari 2013). Dari data statistik tersebut tidak semuanya guru BK yang sudah ada di sekolah memiliki kualifikasi pendidikan bimbingan konseling. Jadi tugas pemerintah kedepan bukan hanya memenuhi kebutuhan guru BK saja, tetapi persoalan miss macth atau ketidaksesuaian bidang kerja dengan latar belakang pendidikan guru BK juga harus dibenahi.

Lebih lanjut, Mungin menjelaskan bahwa idealnya setiap tingkatan kelas memiliki guru BK. Tetapi angka ini masih sulit dicapai karena keterbatasan sumber daya manusia. Secara kuantitas penting untuk memenuhi kebutuhan guru BK yang masih kurang di setiap sekolah. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana peran dan fungsi guru BK itu berjalan dengan optimal. Urusan siswa yang bermasalah dapat tertangani dan persoalan minat, bakat, serta potensi siswa juga dapat dimaksimalkan.

Keterbatasan guru BK ini dapat diatasi dengan melakukan kerjasama antar guru bidang studi untuk sama-sama memantau perkembangan siswa, baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Guru bidang studi dalam hal ini mgkin hanya dapat membuat laporan kemajuan belajar siswa dan beberapa catatan mengenai sikap siswa. Selanjutnya, data hasil pengamatan guru mata pelajaran tersebut diserahkan kepada guru BK untuk ditindak lanjuti. Dengan pola seperti ini, keterbatasan guru BK sebenarnya bukan lagi menjadi persoalan yang berarti.

Akhirnya, penulis berharap dengan optimalnya layanan bimbingan dan konseling siswa akan banyak memberikan efek positif bagi tercapaianya target perubahan kurikulum dan pembentukan kepribadian siswa seutuhnya.(*)
Editor: dedypurwadi
Sumber: bangkapos.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas