“KKN : Ko (K) Korupsi Nagih”
Korupsi memang membuat orang ketagihan, apalagi lingkungan ikut memberi harapan,mulai dari kerjasama...
KPKemenag Bangka
KORUPSI memang membuat orang ketagihan, apalagi lingkungan ikut memberi harapan,mulai dari kerjasama bisu dan hening yang tahu mungkin hanya dirinya, kroni, syetan dan Tuhan. Maka, jangan heran jika ada yang agak sedikit jujur sudah mulai tidak dipakai dalam sistem yang mereka ciptakan. Bahkan kalau bisa rezeki tetangga maupun teman pun disikat habis.
Fenomena ini seringkali terjadi disekitar kita. Hilangnya rasa malu dan “bisa merasa” yang merupakan sinyal keberadaan iman sudah lenyap jauh-jauh hari. Seperti contoh keseharian, ketika seorang ibu yang bolak-balik ngerit bensin, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, memang itu halal namun secara etika mengambil hak waktu orang lain yang antre mengular, sedangkan bensinnya untuk kepentingan dijual kembali bukanlah suatu akhlak yang cantik. Sama halnya seorang oknum PNS yang sudah digaji namun masih ingin mengerit solar karena penghasilan yang menggiurkan, ini merupakan cerminan pribadi yang sakit “ rasa empatinya”
Untuk kasus seperti ini tak maulah mendebatnya karena yang terlintas dibenak saya adalah sedang berhadapan dengan sahabat yang terkena hipnotis korupsi karena tidak mau bersikap tegas terhadap rayuan birokrasi abu-abu dan terlanjur kadung menikmati gula-gula dari kesubhatan dan sistem yang korup sehingga akan menjadi debat kusir jika diladeni. Dan discourse negative semacam ini sering dijumpai di negeri kita mulai dari RT sampai ke pucuk elit penguasa, apalagi yang dibungkus dengan bahasa : uang lelah/ terima kasih, padahal hanya duduk di belakang meja tanpa mengeluarkan keringat karena ruangan AC yang dibiayai pake uang rakyat yang dilayaninya, pokoknya tahu sama tahu lah (TST).
Istidraj korupsi
Memang, siapapun mau hidup senang, bahagia, sukses, sehat tentram kartorojoso, kalau bisa banyak rezeki, panjang umur serta sehat selalu, meskipun yang dua terakhir merupakan do’anya Firaun (Ramses II). Namun, kebanyakan manusia tidak paham bahwa Tuhan memberikan kebahagiaan itu semua hanya dalam amal agama yang senantiasa diusahakan lewat keimanan (yakin) yang benar, baik dalam suasana ramai maupun sendiri bahwa ada yang mengamatinya. Sehingga suasana kaya - miskin, bahagia-sedih, luas-sempit, menikah-belum, gadis tua-bujang lapuk, atasan-bawahan dan semua keadaan yang melingkupi dirinya dinikmati dengan caranya sendiri ikhlas karena pada hakikatnya bukanlah gubuk derita atau sepiring berdua yang membuat kita menderita namun karena bathin yang miskin nilai - nilai luhur langitan (agama) lah yang membuat sesaknya hidup di era saat ini.
Istidraj adalah sebuah timbangan alat ukur paling menakjubkan agar kita tidak terjerembab dalam dosa yang tidak sadar telah dilakukan.
Maka, pembiasaan korupsi dan lingkungan apatis antikorupsi akan mengantar diri kita untuk berada dalam suasana istidraj korupsi. Padahal sebenarnya masyarakat kita masih menghargai bantuan orang lain yang mengurusi keperluannya dalam bahasa kearifan lokalnya ada perasaan lokal dan mereka pun bisa dididik untuk tidak memberi persekot bagi sesuatu yang tidak pantas untuk diberi, namun karena miskin dan rusaknya keyakinan oknum aparat sehingga takut rezeki yang sudah didepan mata hilang, maka tersambunglah lagi rantai syaithon korupsi yang tak berkesudahan akibat pembiaran (istidraj) dari diri yang lemah.
Untuk itu pertolongan pertama pada kerasukan korupsi (P3K) adalah segera tinggalkan (mundur untuk sementara) dari jabatan sosial yang diamanahkan kepada kita dikhawatirkan murka Tuhan kamu mengatakan hal yang tak kamu lakukan, selanjutnya perbanyak ingat maut, dan mohon kepada Tuhan untuk mengganti hati kita dengan yang lain jikalau hati ini sudah sekeras batu. (*)