Rabu, 10 Juni 2026

Sarjana dan Komitmen Kampus

Ada dua kebahagiaan bagi mahasiswa, pertama ketika diterima di perguruan tinggi dan kedua ketika mengikuti prosesi wisuda.

Tayang:
Editor: Dedy Purwadi
Oleh : Yusra Jamali
Dosen STAIN Babel

ADA dua kebahagiaan bagi mahasiswa, pertama ketika diterima di perguruan tinggi dan kedua ketika mengikuti prosesi wisuda. Saat-saat yang paling membahagiakan terjadi ketika  pemindahan kuncir toga oleh pimpinan perguruan tinggi yang disertai dengan penyerahan tabung yang berisi ijazah dan ikrar almamater. Kebanggaan itu akan menjadi hambar ketika berhadapan dengan peluang kerja, apalagi alumni yang dilahirkan tidak dibekali dengan skill dan keahlian yang memadai dibidangnya, untuk itu komitmen kampus perlu dipertegas.

Menjadi alumni dan menyandang gelar sarjana merupakan sebuah kebahagian sekaligus kebanggaan, namun sejurus dengan perjalan waktu, kebahagian akan menjadi beban, karena disebut pengangguran intelektual. Sedangkan kebanggaan akan sirna ditelan zaman, karena beban tanggungjawab yang terus bertambah, sementara gelar sarjana belum dapat membantu meringankan beban tersebut. Di sinilah, muncul rasa tidak percaya diri, bagi para sarjana ditambah lagi dengan keluarga yang selalu mempertanyakan, kapan sarjana jadi mandiri dan memperlihatkan keberhasilanya. Ketika itu terjadi, maka tradisi akademik dan uji kompetensi bagi kampus perlu dilakukan, baik kepada tenaga pendidik (dosen), tenaga kependidikan (staf dan karyawan), kurikulum, sarana dan prasarana belajar serta fasilisitas pendukung lainnya.

Filosofi Sarjana

Kehadiran sarjana seyogiyanya harus mampu menjawab berbagai persoalan di masyarakat, karena pada diri sarjana melekat sterio tipe sebagai insan intelektual yang siap bekerja. Seorang sarjana, tidak sekadar menjawab bagaimana...., justru harus mampu menjawab pertanyaan kenapa dan mengapa..., apabila mampu menjawab ketiga pertayaan tersebut maka ia akan menjadi pekerja professional dan pemimpin sejati.

Lalu, bagaimana caranya membekali mahasiswa agar mereka dapat menjawab pertanyaan bagaimana, kenapa dan mengapa ? Untuk mewujudkan keinginan itu, bukanlah hal yang gampang, justru itu perlu keseriusan tenaga pengajar dan ketekunan para mahasiswa dalam mengikuti proses pendidikan. Tenaga pengajar yang profesional, kurikulum yang tepat, sarana terpenuhi, persaingan mahasiswa yang kompetitif dan seterusnya, itu akan menjadi bagian terpenting dalam membangun tradisi akademik di kampus.

Kemegahan gedung belum dapat dijadikan sebagai simbol “menara keunggulan intelektual” justru itu menjadi pertaruhan untuk menjawab berbagai tantangan baik di internal kampus maupun di masyarakat luas. Letak kampus yang strategis, anggaran yang cukup, mahasiswa yang membludak, ternyata belum cukup untuk menyebutkan bahwa kampus itu elit dan alumninya bonafit. Ketersediaan tenaga pengajar yang profesional dan materi ajar yang aktual menjadi penting untuk menjawab kebutuhan pasar dan itu menjadi bekal bagi alumni (sarjana) untuk dapat bersaing secara sehat disetiap adaya lowongan kerja.

Lowongan untuk jadi PNS sesungguhnya bukanlah perkara mudah, di sana membutuhkan daya juang dan keilmuan yang multisiplin untuk menjawab berbagai soal ketika ujian seleksi. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan adalah dambaan dan cita-cita para sarjana, kesempatan untuk menjadi pegawai atau karyawan di instansi pemerintah atau perusahaan swasta masih sangat menjanjikan.

Komitmen Kampus

Persyaratan untuk memasuki dunia kerja semakin hari semakin kompetitif, dalam artian semua ijazah sarjana boleh mendaftar meskipun kadang-kadang kelihatannya tidak relevan dengan spesifikasi perkerjaan yang ditawarkan. Misalnya perusahaan pers, perbankan, asuransi, perhotelan, juga jadi guru sekalipun. Bagi dunia kerja yang dibutuhkan adalah tenaga yang siap bekerja dengan kemampuan subtantif berupa kemampuan psikomotorik bukan berarti keahlian kongnitif terabaikan. Justru, kemampuan akademik hanya dijadikan sebagai kemampuan dasar sebagai persyaratan untuk masuk dunia kerja.
Untuk menjawab tantangan kerja, hendaknya pihak kampus secara kolektif dan kolegial, perlu berpikir ke arah perbaikan mutu pendidikan dan distribusi alumni. Paling tidak dengan adanya alumni yang diterima di lembaga pemerintah atau swasta, kampus dapat eksis dan tersosialisasi secara rutin oleh alumni, di manapun mereka berada.

Pertama; raih dukungan dari pemerintah Daerah, dari tujuh Kabupaten/Kota di Bangka Belitung, sedianya setiap kampus perlu mengikat kerjasama dengan pemerintah daerah agar mengirimkan utusannya secara khusus untuk belajar di kampus STAIN, Politeknik, UBB dan kampus lain di pulau jawa dengan beasiswa dari pemda setempat. Kemudian Pemerintah Kabupaten/Kota termasuk pemerintah provinsi juga berkomitmen untuk menerima para alumninya menjadi PNS atau tenaga ekspert di lingkungan pemerintah masing-masing.

Kedua, Kampus perlu memperkuat jaringan dan relasi dengan pihak perusahaan swasta, BUMN, BUMD dan dunia bisnis lainnya agar setiap tahun sebagaian besar alumni dapat terserap. Hal ini, perlu terus disosialisasikan agar dunia usaha seperti perbankan, perhotelan dan pariwisata, asuransi, mall dapat secara sinergis menumbuhkan budaya kemitraan dengan komitmen saling menguntungkan.

Ketiga, Kampus perlu membangun komitmen dengan masyarakat, menjaga citra agar kepercayaan publik terus terajut, hal ini penting untuk mendongkrak peminat agar tamatan SMA bersedia masuk dan kuliah di perguruan tinggi lokal. Pihak kampus juga perlu memberi kenyamanan dan konstribusi kepada masyarakat di sekitar kampus, agar masyarakat sekitar merasa memiliki terhadap kampus.

Keempat, Kampus perlu menjaga tradisi akademik, setiap dosen perlu terus meningkatkan profesionalisme dalam proses belajar-mengajar, penelitian dan pegabdian. Hal ini perlu ditradisikan sebagai jati diri dosen sebagai insan intelektual, menjunjung tinggi nilai-nilai akademik dan tradisi saling menghargai baik di kampus maupun di masyarakat.

Kelima, Bebaskan kampus dari intrik politik, meskipun terasa agak bombastis, namun hal ini perlu dijadikan pertimbangan agar civitas akademika terasa lebih steril dan stabil dalam menjalankan rutinitasnya. Independensi kampus perlu ditunjukkan, agar wibawa dan demokrasi intelektual dapat terbagun ramah, sehat dengan mengedepankan tradisi ilmiah.

Kita yakin dan percaya dengan kehadiran perguruan tinggi negeri dan swasta di Bangka Belitung sudah memberikan warna baru dalam membangun tradisi intelektual, semangat kreativitas, penguatan ilmiah dan penyediaan sumber daya manusia. Para alumni perguruan tinggi akan lebih potensial untuk menjaga dan menjadikan kampus sebagai pusat intelektual, pendidikan moral dan melahirkan insan yang berpikir global dengan menjujung tinggi nilai-nilai kearifan lokal. (*)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved