Kamis, 11 Juni 2026

Menggugat “Adat Ketimuran”

BEBERAPA hari yang lalu saya mengadakan eksperimen yang sempat “menjatuhkan” martabat saya.

Tayang:
Editor: Dedy Purwadi
Oleh: Slamet Sunaryo
Staf pada Jurusan Gizi Poltekes Pangkalpinang

BEBERAPA hari yang lalu saya mengadakan eksperimen yang sempat “menjatuhkan” martabat saya. Saya katakan demikian karena memang harga diri saya pertaruhkan hanya demi opini orang terhadap diri saya. Waktu itu saya pulang ke Bangka dari Yogyakarta, kampung halaman saya. Perjalanan saya dari Yogya ke Jakarta menggunakan bus sedangkan Jakarta-Bangka menggunakan pesawat.

Eksperimen yang saya lakukan  tersebut adalah saya memakai sandal jepit seharga Rp. 10.000 dari Yogya ke Bangka. Kelihatannya sepele. Tetapi saya ingin menguji bagaimana komentar orang-orang dengan penampilan saya. Oya, waktu itu saya memakai celana jeans, kaos dan jaket merah organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM yang tentu saja tulisan UGM-nya bertengger cukup besar dan jelas meskipun dilihat dari jarak 5 meter.

Perjalanan dari Yogya ke Jakarta gagal mendapatkan opini orang tentang penampilan saya. Saya bisa memaklumi, karena kebanyakan dari penumpang bus tersebut mempunyai strata sosial yang sama dengan saya, orang desa yang mencari penghidupan di kota  baik apakah mereka sebagai buruh atau pedagang. Mereka masa bodoh dengan penampilan orang lain yang penting sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Barulah ketika perjalanan  dari Jakarta menuju Bangka, saya berhasil mendapatkan apa yang saya harapkan yakni ketika saya mendarat di Bandara Depati Amir, ada bapak-bapak dengan penampilan parlente dan memakai kacamata raibon menegur penampilan saya. Dikatakan oleh bapak itu kalau saya orang yang tidak empang papan (tidak mampu menempatkan diri) di mana naik pesawat hanya pakai sandal jepit murahan yang tidak lain adalah sandal WC! Apalagi ternyata beliau adalah alumnus UGM, kata beliau tindakan ini sungguh tidak mencerminkan penampilan seorang alumnus UGM!.
Pengalaman saya ini membuktikan bahwa kita masih dan mungkin tetap akan mempunyai paradigma bahwa fasilitas elit selayaknya diisi dengan orang-orang yang penampilannya elit juga. Penampilan elit itu telah dicirikan pada jenis barang biasanya dengan harga yang mahal.

Dalam salah satu seminar, Mahardi Sinambela, Menpora era Presiden Gus Dur, menyatakan dirinya pernah dilarang masuk ke istana lewat jalan depan karena  hanya naik mobil era tahun 95-an ketika Presiden SBY memintanya menghadap ke istana.

Paradigma ini rupanya merupakan refleksi dari distorsi pemikiran yang telah lama terbentuk karena berbagai fenomena sosial yang terjadi. Feodalisme dan kolonialisme telah meracuni pemikiran kita bahwa rakyat jelata tidak pantas untuk berdampingan dengan kaum priyayi, yang jika saat ini dapat dilihat bahwa barang tertentu meskipun layak dipandang dari berbagai norma yang kita anut namun tidak memenuhi unsur kepatutan digunakan dalam situasi tertentu dikarenakan harganya yang murah. Misalnya dalam kasus saya di atas.
Perang pemikiran dari budaya bangsa lain yang ditempatkan dalam bingkai gaya hidup (life style) juga menggerus budaya kita dan mengubah pemikiran kita, menerima sesuatu yang dahulu kita pandang sebagai sesuatu yang tidak layak, tidak sopan dan biadab menjadi suatu hal yang lumrah dan bisa dipahami.

Semen leven atau kumpul kebo dan free sex merupakan contoh yang konkrit. Dahulu gaya hidup seperti itu dipandang hina dan tercela. Namun sekarang  mungkin hal itu dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Kita cenderung bersikap apatis yang ditunjukan dengan tidak adanya konsekuensi sosial bagi pengamal gaya hidup seperti itu.

Melihat kondisi ini, sebenarnya  adat ketimuran yang selalu didengungkan sebagai parameter bahwa kita tidak bisa menerima sesuatu dari budaya bangsa lain karena tidak sesuai dengan adat ketimuran itu seperti apa? Apakah adat ketimuran itu terbentuk karena entitas kita sebagai satu agama, satu suku, atau satu bangsa?

Kita bukan negara agama yang melandaskan hukumnya pada salah satu agama saja. Kita tidak bisa mengharapkan pelaku hubungan free sex dihukum dengan rajam karena negara kita bukan negara Islam sebagaimana Arab Saudi.
Kita juga bukan satu suku saja, namun terbentuk atas beratus-ratus suku yang mempunyai adat istiadat dan budaya yang berbeda. Kita tidak bisa menepis bahwa ada beberapa suku yang hanya memakai pakaian yang tidak menutup auratnya. Kita juga tidak bisa menolak fakta bahwa ada suku yang mempraktekan kanibalisme sebagai cara mempererat persaudaraan.

Dengan demikian, meletakan adat ketimuran pada norma yang dianut oleh satu atau beberapa suku bukanlah hal yang dapat membentuk kaidah ketimuran itu.
Jika kita meletakkan adat ketimuran kita dalam satu bangsa, maka kita terganjal pada kebhinekaan kita yang belum sempat kita rumuskan seperti apa adat ketimuran itu.  Akhirnya, selama ini kita menakar adat ketimuran dari satu sisi saja entah suku atau agama tertentu.

Di sini, mungkin lebih bijak kita menakar adat ketimuran itu dengan pemikiran logis sebagai manusia seutuhnya. Artinya memandang manusia sebagai makhluk yang mempunyai martabat yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya. Keperbedaan itu dipandang sebagai sebab akibat karena adanya akal yang dititahkan Tuhan ke dalam otak kita. 
Secara umum akal adalah penjaga kehormatan dan martabat manusia. Upaya untuk meracuni akal agar menjatuhkan kehormatan dan martabat manusia itu sendiri hanya demi kepentingan komunal atau pribadi adalah upaya yang amoral yang harus dilawan dan dicegah.

Dengan demikian, mewakili sandal jepit saya seharga Rp.10.000,00 saya menyampaikan, sebenarnya kita lebih urgen manakah menilik ketidak-empanganpapan-an antara sandal dengan hot pan yang banyak dipakai cewek-cewek di Bandara atau pramugari dengan pakaian seksinya yang menggoda birahi laki-laki? Bukankah hot pan atau pakaian seksi itu adalah upaya yang menumbuhsuburkan tindakan pelecehan seksual? Tentu, kita sepakat pada akhirnya jenis pakaian itu menjatuhkan kehormatan diri manusia itu sendiri. Sedangkan sandal saya meskipun murahan justru membuat kaki saya aman dan nyaman. (*)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved