Oleh: Ichsan Mokoginta Dasin
A n j i n g (Cerpen)
KAWANAN Anjing menyalak liar. Matanya merah, lidahnya menjulur-julur buas.
Tayang:
ANJING
Cerpen Oleh: Ichsan Mokoginta DasinKAWANAN Anjing menyalak liar. Matanya merah, lidahnya menjulur-julur buas. Tampak air liur menjijikkan menetes di sela-sela taringnya yang tajam.
Jumlahnya memang tak seberapa, hanya empat ekor saja. Tapi kegaduhan yang dibuat oleh Anjing-Anjing itu sangat luar biasa. Gonggongannya menggema, menindih bahkan melumat riuh aktivitas di siang yang terik itu. Di lihat dari caranya menggonggong, persis seperti hendak memangsa.
Tadi, sebelum si majikan pulang, suasana biasa-biasa saja. Anjing-Anjing itu tampak berjingkrak-jingkrak di halaman rumah megah berpagar beton. Sesekali mereka saling kejar dan kemudian saling bergumul nakal. Lepas dari gumulan kawannya, Anjing-Anjing berlari kian kemari, dan menyelinap di bawah rerimbunan pohon peneduh, seperti sedang bermain petak umpet.
Namun ketika si majikan pulang, Anjing seperti meradang. Keempatnya saling jaga dan saling gonggong tepat di depan pintu besi yang sudah ditutup rapat kembali. Demikianlah pemandangan yang saban hari dipertontonkan oleh Anjing-Anjing itu kepada kami. Terlebih ketika Pilkada di kampung kami tinggal menghitung hari, Anjing-Anjing sedemikian galaknya. Tetapi, ya seperti yang aku katakan tadi, Anjing-Anjing hanya menyalak liar. Matanya merah, lidahnya menjulur-julur buas, air liur menjijikkan menetes di sela-sela taringnya yang tajam, manakala majikannya pulang.
Seperti siang itu, sambil bermain ayunan yang terbuat dari ban bekas dan ditambang di dahan jambu depan rumah kami, aku dan Kiran (anak bontot ku), menyaksikan dengan seksama tingkah polah Anjing. Pemandangan itu sangat jelas karena jarak rumah gedong itu dengan kediaman kami hanya terpisah oleh gang sempit.
Bahkan Kiran, anak ku yang belum genap berumur dua tahun itu, sempat menjerit hesteris dan bergelantungan di leher ku ketika Anjing-Anjing menggonggong dan memamerkan taring-taring tajamnya ke arah kami.
Kawanan Anjing masih menyalak liar. Matanya merah, lidahnya menjulur-julur buas. Tampak air liur menjijikkan menetes di sela-sela taringnya yang tajam. Suasana baru mereda dan Anjing-Anjing kembali bermain manakala sang majikan pergi lagi.
***
TEPAT di ruang lobi rumah gedung di depan rumah kami yang hanya dipisahi gang sempit, Anjing-Anjing berkumpul. Kali ini jumlahnya lebih dari empat, mereka sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu. Ada yang duduk di kursi ada juga yang duduk di atas meja. Entah apa yang sedang mereka diskusikan, namun tiba-tiba mereka menyalak lagi ketika pagar pintu besi terbuka bertanda majikan pulang.
"Kenapa Anjing-Anjing menyalak lagi. Tak bisakah mereka berhenti...?" Kiran yang sempat tertidur dihelus angin sepoi di atas ayunan ban bekas terjaga.
"Apakah engkau merasa terganggu dengan gonggongan Anjing-Anjing itu, Nak....?" Aku mengelus ubun-ubun Kiran dan kemudian mengecup keningnya.
"Sangat. Sangat terganggu." Kiran memperbaiki cara dia berbaring, bokongnya digeser dan memilih tempat yang paling empuk di bagian paha ku yang sejajar dengan ban bekas tempat kami bermain ayunan.
"Kenapa justeru menjelang Pilkada dan ketika si majikan pulang, Anjing-Anjing di depan rumah kita menggonggong begitu ganasnya...?" Kiran melanjutkan pertanyaan.
"Bapak juga sedang mencari jawaban itu. Tapi yakinlah, besok usai pemilihan semua akan terjawab." Kiran sepertinya tak puas dengan jawabanku. Ia membuang muka.
***
SUASANA TPS sudah lengang. Orang-orang yang tadi menyaksikan proses penghitungan suara, juga para panitia sudah pulang ke rumah masing-masing. Ada yang berjingkrak-jingkrak bahagia, ada yang bermuka masam, ada pula yang marah-marah. Semua menjadi satu.
Sementara rumah gedung di depan rumah kami yang hanya dipisah oleh gang sempit tampak lengang. Anjing-Anjing yang semula menyalak buas, tak nampak batang hidungnya. Begitu juga si majikan, usai penghitungan suara, menghilang entah kemana. Di pintu besi, jalan satu-satunya menuju gedung itu ada tertulis kalimat yang digantung di atas secarik kertas: "Anjing-Anjing Penghianat...!!!".
***
"Apakah tadi Bapak juga menggunakan hak pilih sebagaimana yang Emak lakukan?" Kiran bertanya ketika aku merengkuhnya di atas ayunan terbuat dari ban bekas yang digantung di dahan jambu depan rumah kami.
"Sudah, Nak," jawabku seraya menunjukkan bekas tinta di jari kelingking kiri.
"Bapak tentu tidak memlih calon yang tadi malam memberikan kita 2 kg beras bukan...?"
"Beras yang tadi malam diantar kepada kita, sudah Bapak masak untuk Anjing-Anjing kita di kebun. Besok akan Bapak bawa," jawabku seraya mendekap Kiran kedalam pelukan yang hangat.
"Bapak Golput...?" Tanya Kiran Lagi.
"Memangnya kamu paham tentang Golput, Nak? Bukankkah usiamu belum genap dua tahun?" Aku merasa heran dengan pertanyaan Kiran.
"Inilah salahnya Bapak, selalu meremehkan anak-anak seusia saya. Bukankah Golput juga sebuah pilihan?" Kiran balik bertanya.
"Tepat. Golput juga sebuah pilihan. Tapi percayalah, pilihan Bapak persis seperti pilihan Ibumu," Kiran tampaknya puas dengan jawabanku.
"O ya Bapak. Saya tidak melihat Anjing-Anjing di depan rumah kita. Ada apa dengan Anjing-Anjing itu?"
"Nah, inilah jawaban dari pertanyaan mu kemarin."
"Maksudnya...?" Kiran tampak sedikit heran, ia mengernyitkan kening seakan memikirkan sesuatu.
"Nanti kamu akan tahu. Usia mu masih terlalu muda untuk mencerna filosopi Anjing."
Kiran sewot. Aku tahu kalau kali ini dia tidak puas dengan jawabanku. Ia memberontak. Bergegas ia melepas dekapanku dan berlari ke dalam sambil menghentak-hentak kakinya bertanda jengkel sekali.(*)
Mendobarat, April 2013