Jumat, 5 Juni 2026

Mengembangkan Karakter melalui Matematika

Karakter merupakan perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan

Tayang:

Opini: Ati Lasmanawati, M.Pd, Guru Matematika SMA Negeri 1 Sungailiat

Karakter merupakan perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat (Depdiknas, 2010). Sementara itu, orang yang perilakunya sesuai dengan norma-norma disebut insan berkarakter mulia.

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, dan Ratna Megawangi (2004) sebagai pencetus pendidikan karakter di Indonesia telah menyusun karakter mulia yang selayaknya diajarkan kepada siswa, yang kemudian disebut sebagai 9 pilar yaitu: 1) cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya; 2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; 3) kejujuran; 4) hormat dan santun; 5) kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama; 6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; 7) keadilan dan kepemimpinan; 8) baik dan rendah hati; dan 9) toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Sejak 2500 tahun yang lalu, Socrates telah berkata bahwa tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi "good and smart". Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik (beramal shaleh), dan dapat hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan berkelu-arga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara. Oleh karenanya, sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat.

Oleh karena itu, tujuan pembelajaran dalam paradigma baru pendidikan di Indonesia, bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, namun salah satunya adalah untuk membentuk karakter siswa, dengan fokus pembelajarannya adalah pada 'mempelajari cara belajar' (learning how to learn) dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran. Karakter yang dimaksud adalah kemampuan siswa dalam berpikir untuk membedakan yang baik dan benar, mengalami emosi-emosi moral (bersalah, empati, sadar diri), melibatkan diri dalam tindakan-tindakan (berbagi, berderma, berbuat jujur), meyakini moralitas yang beradab dan bermartabat, dan menunjukkan kejujuran, kebaikan hati, dan tanggung jawab (Kemdiknas, 2010).

Matematika merupakan suatu ilmu yang membutuhkan pemikiran logis, rasional, kritis, jujur, efektif dan efisien. Proses pembelajaran matematika tidak akan pernah terlepas dari pengembangan nilai-nilai karakter siswa. Pembelajaran matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau bahkan nilai yang bersinergis dengan nilai-nilai karakter. Bahkan dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran matematika memiliki peran yang besar dalam mewujudkan karakter siswa. Nilai karakter yang ada pada pembelajaran matematika adalah jujur, disiplin, kreatif, komunikatif, tanggung jawab, rasa ingin tahu, mandiri dan kerja keras. Apabila siswa mampu menerapkan nilai-nilai karakter tersebut maka matematika akan menjadi suatu pelajaran yang bermakna bagi kehidupannya.

Oleh karena itulah, pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya dimaksudkan untuk membekali siswa agar menguasai matematika dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, namun lebih dari itu, pembelajaran matematika juga dimaksudkan untuk menata nalar siswa dan membentuk kepribadiannya yang sesuai dengan nilai-nilai karakter mulia. Pembelajaran matematika hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak hanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dalam ranah pengetahuan, tetapi juga untuk mencapai tujuan dalam ranah sikap dan keterampilan.

Pembelajaran matematika yang baik tidak hanya dimaksudkan untuk mencerdaskan siswa, tetapi juga dimaksudkan untuk menghasilkan siswa yang berkepribadian baik. Diharapkan seorang guru matematika dapat merancang pembelajaran matematika sedemikian rupa, sehingga dapat membantu siswa dalam mengembangkan sikap dan kemampuan intelektualnya, dan produk dari pembelajaran matematika tampak pada pola pikir yang sistematis, kritis, kreatif, disiplin diri, dan pribadi yang konsisten.

Pengaruh pembelajaran matematika yang dilakukan sebagian guru selama ini ternyata masih didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada dorongan untuk mengoptimalkan potensi diri siswa, mengembangkan penalaran maupun kreativitasnya. Lebih parahnya adalah adanya anggapan bahwa seolah-olah pembelajaran matematika lepas dari pengembangan kepribadian siswa. Pembelajaran matematika dianggap hanya menekankan faktor pengetahuan saja, padahal pengembangan kepribadian sebagai bagian dari kecakapan hidup merupakan tugas semua mata pelajaran di sekolah. Pembelajaran yang demikian menjauhkan siswa dari sifat kemanusiaannya. Siswa seolah-olah dipandang sebagai robot atau benda/alat yang dipersiapkan untuk mengerjakan atau menghasilkan sesuatu, tidak peduli bentuk kepribadian apa yang berkembang dari diri seorang siswa.

Hal inilah yang diharapkan muncul dari pemikiran seorang guru matematika, bagaimana seorang guru matematika dapat mendesain pembelajaran matematika yang memungkinkan di dalamnya terdapat aktivitas-aktivitas yang dapat mendukung tumbuh kembangnya kepribadian siswa, seiring dengan berkembangnya nilai-nilai karakter yang ada dalam diri siswa saat belajar matematika. Nilai-nilai yang dibelajarkan kepada siswa di kelas sedapat mungkin juga mencakup nilai-nilai yang berkembang di masyarakat secara umum. Misalnya, melalui aktivitas diskusi, siswa dilatih untuk menghargai dan mengkritisi pendapat orang lain, menghargai kesepakatan, dan berlatih mengemukakan pendapat dengan argumentasi yang kuat. Nilai-nilai ini sebenarnya merupakan bagian kompetensi sikap yang harus dicapai siswa sesuai dengan tuntutan dalam kompetensi inti pertama dan kedua (sikap spritual dan sosial).

Pembelajaran matematika harus mengubah citra dari pembelajaran hanya berkutat pada aspek pengetahuan (dalam KTSP 2006 dikenal dengan aspek kognitif), menjadi pembelajaran yang akan selalu menyeimbangkan antara aspek pengetahuan, keterampilan terutama aspek kepribadian dan sosial. Proses pembelajaran matematika harus dapat menempatkan siswa sebagai subjek untuk membangun pengetahuannya dengan memahami kondisi-kondisi, baik dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Pengetahuan matematika tidak terbentuk dengan menerima atau menghafal rumus-rumus dan prosedur-prosedur, tetapi dengan membangun makna dari apa yang sedang dipelajari.

Proses pembelajaran matematika yang sebaiknya selalu dikembangkan oleh seorang guru adalah dengan mengajak siswa aktif mencari, menyelidiki, merumuskan, membuktikan, mengaplikasikan apa yang dipelajari. Siswa juga mungkin melakukan kesalahan dan dapat belajar dari kesalahan tanpa takut untuk berbuat salah dengan melakukan ujicoba atau eksperimen. Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Guru menumbuhkan motivasi dalam diri siswa untuk mempelajari dan memahami matematika secara bermakna serta memberikan dorongan dan fasilitas untuk belajar mandiri maupun kelompok.

Proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek pengetahuan saja, tetapi juga perlu adanya pengembangan nilai intuisi dan kreativitas siswa. Pembelajaran matematika yang dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi, akan membentuk nilai-nilai kemanusiaan dalam diri siswa. Selain memahami dan menguasai konsep matematika, siswa akan terlatih bekerja mandiri maupun bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, konsisten, berpikir logis, sistematis, menghargai pendapat, jujur, percaya diri, dan bertanggung jawab.

Model-model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar, tanpa disadari atau tidak menjadi saran untuk mengembangkan nilai-nilai karakter siswa. Melalui penggunaan model-model pembelajaranlah, seorang guru dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membantu dalam menyelesaikan masalah, membantu siswa melihat matematika sebagai studi terhadap pola-pola, termasuk aspek keindahan dan kreativitas, dan membantu siswa mengembangkan sikap-sikap percaya diri, mandiri, penasaran (curiosity), rasa ingin tahu, suka menolong, pemecah masalah, kerja keras, tertantang, dan apresiatif.

Namun pada hakekatnya, pengembangan nilai-nilai karakter siswa melalui matematika, bukan hanya dapat dilakukan saat proses pembelajaran sedang berlangsung.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved