Sabtu, 13 Juni 2026

Alasan Mencintai Tuhan

Kalau kita ditanya, siapakah yang paling kita cintai dalam arena kehidupan ini?

Tayang:
Editor: Dedy Purwadi
Oleh: Zaprulkhan MSi.
Dosen STAIN SAS Bangka Belitung

Sulit mungkin untuk mendekati idealisme cinta kepada Tuhan.........

KALAU kita ditanya, siapakah yang paling kita cintai dalam arena kehidupan ini? Niscaya kita akan menjawabnya dengan nada yakin: Allah, sebab agama kita memerintahkan demikian. Tapi persoalanya adalah mengapa Allah harus kita cintai melebihi segalanya? Dengan kata lain, apa alasannya sehingga Allah mesti menjadi prioritas cinta setiap hamba-Nya?

Dalam Ihya Ulumuddin, pada bab Kitabul Mahabbah, walaupun tidak terhitung banyaknya alasan untuk mencintai Tuhan, secara garis besar Imam Ghazali memberikan lima argumentasi.  

Pertama, kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri, kesempurnaan, dan keabadian hidupnya serta kebenciannya kepada kebinasaan, kemusnahan, dan hal-hal yang mengurangi kesempurnaannya. Dari cinta inilah, kita ingin agar diri kita selamat, wujud kita sempurna dan tak tersentuh kebinasaan. Ternyata kita menyadari bahwa keselamatan, kekekalan, dan kesempurnaan wujud kita bergantung kepada Allah. Kita hidup dan tumbuh dewasa karena bantuan Allah, bahkan muara perjalanan hidup kita adalah kembali kepada-Nya.

Minallah, wabillah, wailallah, dari Allah, dengan Allah, dan kembali kepada Allah.

Maka ketika kesadaran ini tersingkap bahwa kehidupan, kebahagiaan, dan kesempurnaan kita bergantung kepada Allah, maka dalam diri kita akan tumbuh keyakinan bahwa Allah-lah yang paling layak sebagai tempat kita melabuhkan cinta. Bukankah keselamatan dan kesejahteraan hidup kita bergantung pada bantuan Allah? Kesehatan yang kita nikmati; kekuasaan yang kita rasakan; kedamaian hidup yang kita alami; bahkan setiap tarikan nafas yang kita hirup merupakan karunia Allah yang tak terhingga. Karena itu, jika kita betul-betul mencintai diri sendiri niscaya kita juga mencintai Allah.

Kedua, karena kecintaan seseorang kepada orang yang berbuat baik kepadanya. Setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan membenci orang yang berbuat jahat kepadanya. Jika ada seseorang yang menolong kita dengan hartanya, kebaikan tutur sapanya, kekuatannya, dan menolak musuh-musuh yang mengganggu kenyamanan hidup kita, maka sudah pasti penolong tersebut akan kita cintai.

Padahal menurut Imam Ghazali, kebanyakan manusia hanya berbuat baik kepada orang yang dia cintai dan sulit mencintai seorang yang ia benci. Cinta manusia adalah cinta diskriminatif, cinta pilih kasih. Berbeda dengan cinta Allah yang komprehensif dan inklusif, meliputi dan menyentuh seluruh makhluk-Nya. Itulah yang dinamakan unlimited love, cinta tak terbatas atau unconditional love yaitu cinta yang tak bersyarat; tidak mencintai karena ôsesuatuö tetapi mencintai karena cinta itu sendiri.

Makanya salah satu asma Allah adalah As-Shabur, Tuhan Yang Maha Penyabar. Artinya, meskipun ditentang dan didurhakai, Dia tetap menyayangi hamba-hamba-Nya. Setiap hari anugerah dan nikmat-Nya turun kepada kita, kendati pada hari yang sama maksiat dan kejahatan kita naik kepada-Nya. Setiap hari perlindungan dan pemeliharaan-Nya selalu memayungi kita, sekalipun pada saat yang sama kita menentang-Nya dengan dosa-dosa dan kejelekan kita.

Ketiga, karena manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai orang yang berbuat baik, walaupun kebaikannya tidak sampai kepadanya. Secara psikologis kita mempunyai tendensi untuk mencintai orang yang melakukan kebaikan, meskipun kebaikan itu tidak kita rasakan. Secara nurani mungkin kita menaruh simpati kepada Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Dalai Lama, dan Nelson Mandela yang melakukan kebajikan secara mengagumkan walaupun kebaikannya tidak sampai kepada kita.    

Sekarang bandingkan dengan kebaikan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Rasakanlah kebaikan Allah kepada umat manusia. Dia berikan karunia-Nya kepada manusia tanpa harapan dan pilih kasih. Bentuk cinta Allah kepada kita sebagai hamba-Nya adalah cinta walaupun bukan cita karena. Pujangga Perancis mengartikulasikan makna tersebut, Lamour nest pas parce que mais malgre, hakikat cinta itu bukan “karena” tetapi “walaupun”. Karena itu, Allah paling pantas dicintai oleh kita, kendati sebagian di antara kita terkadang tidak mampu melihat kebaikan-Nya.

Keempat, karena kecenderungan manusia untuk mencintai keindahan. Manusia adalah makhluk idealis yang selalu mendambakan segalanya dalam bentuk keindahan paripurna. Secara istingtif, kita selalu mengejar keelokan hakiki agar bisa memuaskan dahaga jiwa kita. Kecenderungan untuk mengejar kesempurnaan ini begitu universal dimiliki oleh manusia sepanjang zaman, apapun kebangsaan ataupun rasnya pasti mencintai kesempurnaan sebagai bagian dari fitrahnya. Padahal keindahan hakiki itu tidak lain adalah Allah. Dari aspek ini, maka yang paling layak dicintai adalah Allah, karena Dialah
Keindahan Paripurna sekaligus sumber segala keindahan.

Kelima, karena dalam manusia ditiupkan ruh ciptaan Allah sehingga memiliki potensi untuk meneladani Allah dalam sifat-sifat-Nya. Menurut Imam Ghazali, kedekatan antara dua hal akan menciptakan daya tarik satu sama lain. Dalam ilmu psikologi modern, ternyata mengenalkan sebuah teori bahwa manusia akan tertarik pada orang-orang di sekitarnya apabila di antara mereka terdapat kesamaan. Peribahasa Inggris merangkum konsep ini, Like begets like, yang serupa itu akan saling menarik satu sama lain.

Kedekatan manusia dengan Allah adalah dari sisi akhlak dan sifat-sifatnya yang bersandar pada kondisi ruhaniahnya. Karena alasan ini Allah memerintahkan manusia untuk meneladani akhlak-Nya dalam surat Al-Qashash ayat.77: “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”.

Secara eksplisit, di sini Allah memerintahkan kita untuk meneladani kebaikan-Nya. Maka kita mempunyai potensi untuk meneladani sifat-sifat Allah sejauh kapasitas yang kita dimiliki. Karena kedekatan-kedekatan inilah, maka hanya Allah pula yang paling berhak dicintainya. Pada konteks inilah, menurut Imam Ghazali, Allah adalah mustahiq lil mahabbah, Tuhan yang paling berhak menerima kecintaan siapapun melebihi segala sesuatu.

Melalui uraian di atas, kiranya tidak berlebihan bila kita semua memang mesti belajar kepada Imam Ghazali untuk menumbuhkembangkan benih-benih cinta kepada Tuhan dalam relung-relung jiwa kita. Sulit mungkin untuk mendekati idealisme cinta kepada Tuhan, tapi kita tidak boleh putus asa untuk terus berusaha melandasi setiap ibadah yang kita kerjakan dengan motif cinta terhadap Tuhan. Satu saat kelak, semoga Allah berkenan meneteskan setitik keagungan cinta-Nya ke dalam hati kita sehingga tak satu pun pengabdian kita yang tidak didasari oleh cinta terhadap-Nya. ***

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved