Ramadhan: Tobat Nasuha vs Tobat Sambel
SEBAGAI julukan keunggulan melekat pada bulan Ramadhan, seiring datangnya semangat
Guru Bukit Semut/Pokjaluh Kemenag Bangka
SEBAGAI julukan keunggulan melekat pada bulan Ramadhan, seiring datangnya semangat mengamalkan dan menghidupkan suasana Ramadhan, seolah olah tanggungjawab kenabian teraplikasi semuanya dibulan turunnya Al Qur’an ini, mulai dari pesantren kilat anak dan remaja di sekolah maupun tempat ibadah, buka bareng berbagai komunitas masyarakat, berlomba-lomba orang memberikan santunan anak yatim dan fakir miskin yang menghiasi majalah dan koran, momen untuk berangkat umroh dan haji yang daftar tunggunya saja sampai keberangkatan tahun 2023 menunjukkan bahwa negeri ini kaya raya.
Benarkah ghiroh (semangat) pengamalan agama yang nampak terang benderang sehingga setan pun tak bisa bergerak terikat karena padatnya syiar agama ini berkorelasi dengan daya tahan untuk tidak maksiat setelah Ramadhan?.
Benarkah tadarusan kita dengan meresapi segala maknanya akan mengecharge batere keimanan kita setelah idul fitri nanti? Kuatkah pengaruh sebulan berpuasa kita untuk bekal 11 bulan menahan diri menghadapi rayuan “manusia” yang belum menemukan kemanusiaannya setelah fajar syawal nanti? akankah tangisan taubatan nasuha (menyesal untuk tidak mengulangi) di akhir ramadhan nanti di hapus oleh tertawa palsu karena ternyata itu hanya tobat sambel saja?.
Taubat kepada Allah SWT berarti pulang dan kembali ke haribaan-Nya serta tetap di pintuNya, karena pada dasarnya manusia harus bersama Allah SWT dan selalu berhubungan dengan-Nya,. Manusia tidak dapat membebaskan diri dari Allah SWT untuk memikirkan kehidupan fisiknya saja, juga tidak dapat membebaskan dirinya dari Allah SWT karena memikirkan kebutuhan hidup ruhaninya saja.
Bahkan kebutuhannya kepada Allah SWT di akhirat akan lebih besar dari kebutuhannya di dunia. Karena kehidupan dan kebutuhan fisik itu secara bersamaan juga dilakukan oleh binatang yang tidak dapat berpikir, sementara kebutuhnan ruhani adalah sisi yang menjadi ciri pembeda manusia dari hewan dan binatang.
Ketika manusia berbuat maksiat terhadap Rabbnya, maka posisi itu terbalik; sisi tanah mengalahkan sisi ruh, dan sisi materi yang rendah mengalahkan sisi Rabbani yang tinggi.
Maka manusia merendah dan menjadi lebih hina, serta menjauh dari Allah SWT sesuai dengan seberapa jauh dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan. Kemudian taubat memberikan kesempatan kepadanya untuk mencapai apa yang tidak ia dapatkan, serta meluruskan kembali perjalanan hidupnya. Taubat yang diperintahkan agar dilakukan oleh kaum mu’minin adalah taubat nasuha (yang semurni-murninya) seperti disebut dalam Al Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya: Tobat nasuha artinya adalah, tobat yang sebenarnya dan sepenuh hati, akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan sebelumnya, mengembalikan keaslian jiwa orang yang bertaubat, serta menghapus keburukan-keburukan yang dilakukannya.”
Tobat nasuha : mengembalikan harta korupsi
Jika hanya sekadar istighfar atau mengungkapkan taubat dengan lisan —tanpa janji dalam hati— itu adalah taubat para pendusta, seperti dikatakan oleh Dzun Nun al Mishri. Dan disentil juga oleh Sayyidah Rabi’ah al ‘Adawiyah: “istighfar kita membutuhkan istighfar lagi!” hingga sebagian mereka ada yang berkata: “aku beristighfar kepada Allah SWT dari ucapanku: ‘aku beristighfar kepada Allah SWT’”. Atau taubat yang hanya dengan lisan, tidak disertai dengan penyesalan dalam hati.
Sementara hakikat taubat adalah perbuatan akal, hati dan tubuh sekaligus. Dimulai dengan perbuatan akal, diikuti oleh perbuatan hati, dan menghasilkan perbuatan tubuh. Jika perbuatan tubuh merugikan uang rakyat lewat korupsi, maka semua harta korupsinya harus dikembalikan kepada yang berhak (Negara/rakyat) jika tidak, maka “penyucian dosa” lewat ibadah haji berkali kali atau umroh berulang ulang, atau ibadah puasa bertahun tahunpun rasa rasanya tidak akan dipandang oleh Allah SWT.
Karena jika mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan karena lalai dalam melaksanakan kehambaannya, insya Allah dengan sifat kerahiman Allah akan ampuni, namun jika berbuat dosa terhadap sesama baik lewat korupsi atau memanfaatkan kewenangan melalui “pungutan liar” yang bertebaran dimeja birokrasi maupun ketika melayani umat maka harta itu harus dikembalikan, sehingga barulah Hablum minannnasnya ( hubungan sesame manusianya) Insya Allah bersih, sebersih taubatan Nasuhanya. Mudah mudahan sadar sebelum ajal datang mendekat..**