Kamis, 11 Juni 2026

Rampai Budaya Serumpun Sebalai

Diceritakan ada seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan.

Tayang:
Editor: Dedy Purwadi
Diceritakan ada seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan.

Seorang wartawan koran lokal melakukan wawancara dan menggali rahasia kesuksesan petani tersebut.

Wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.

"Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya ?" tanya wartawan dengan penuh rasa heran dan takjub.

"Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain?

Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang.

Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula", jawab petani.

Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.

Dalam kehidupan, mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan pada orang-orang di sekitarnya.

Jika Anda ingin bahagia, Anda harus menabur kebahagiaan untuk orang lain.

Jika Anda ingin hidup dengan kemakmuran, maka Anda harus berusaha meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitar Anda.

Anda tidak akan mungkin menjadi ketua tim yang hebat, jika Anda tidak berhasil meng-upgrade masing-masing anggota tim Anda.

Kualitas Anda ditentukan oleh komunitas di sekitar Anda.

Orang cerdas sejatinya adalah orang yang mencerdaskan orang lain. Begitu pula orang yang  baik adalah orang yang mau membaikkan orang lain.
(James Bender dalam How to Talk Well)

KUTIPAN James Bender dalam buku 'How to Talk Well' yang disharekan oleh owner Babel Kids Lily Kurniawati via BBM itu mengingatkan kita pada kesejatian perayaan hidup kita sebagai manusia multi dimensional.

Petani jagung itu juga mengingatkan kita pada  keagungan dan hikmah Ramadhan  yang berpuncak pada Idul Fitri 1433 H. Perayaan kemenangan itu Sabtu (25/8)  dimaknai secara khusus  melalui  halal bi halal  yang ditradisikan  salah satunya oleh  Datuk Seri Radindo Haji Emron Pangkapi, Sabtu (25/8) di Jl Balai.

Datuk Emron yang saya kenal 13 tahun lalu seperti biasanya senantiasa membuat sentakan-sentakan agar kita selalu mawas diri.  Kemarin Datuk Emron meresmikan Balaiirung Rampai Budaya seraya merevitalisasi kemelayuan Bangka Belitung sebagai identitas budaya dalam rangkuman keberagaman dan kebhinekaan Bangka Belitung.

Fungsionaris DPP PPP Yusroni Yazid mengapresiasi rumah adat yang dimodifikasi tangga depannya  oleh Datuk Emron itu sebagai rumah adat khas Babel yang mengekspresikan sikap keterbukaan masyaraka Babel.

Sedang  Kepala Kantor Kementerian Agama Perwakilan Bangka Belitung, Prof DR Hatamar M.Ag menyatakan perlunya Bangka Belitung sebagaimana bangsa-bangsa lain memperkuat identitas diri agar menjadi negeri yang terkemuka di dunia.

Bagi Datuk Emron budaya Melayu dalam heteroginitas Bangka Belitung perlu ditegakkan mengingat saat provinsi ini terbentuk Bangka Belitung ini tanpa dominasi kultur. Oleh karena itu perlu diambil setiap keunggulan yang terbaik dan dilestarikan.

Kekhasan budaya itu perlu bukan hanya sebagai pengabadi kejayaan masa lalu namun juga futuristik bagi penyiapan perekonomian pasca timah. Seraya bercerita kisah sukses pariwisata Belanda, Italia, Malaysia Datuk Emron meminta agar para elite fokus pada ekonomi kelimpahan timah  yang sejatinya bisa memakmurkan warga Babel.

"Dengan peredaran uang dari timah ratusan trilun di Babel, sesungguhnya tidak ada lagi kemiskinan di Bangka Belitung," tandas Pejuang Provinsi yang menjadi Ketua DPRD Babel pertama itu.

Last but not least. Penyerbukan kehidupan antar bibit unggul kebaikan memang hanya mungkin manakala kita berbagi benih unggul kebaikan pula. Dan sejatinya pula apa yang telah dikomtemplasikan selama Ramadhan dan ditenun dengan indah, janganlah diurai kembali.

Negeri Serumpun Sebalai dengan spirit pelanginya ingin terus bersemangat "Di situ bumi diinjak, di situ pula langit di junjung". Semoga!

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved