BREAKING NEWS
Ada Makam Belanda DW Becking di Sungaiselan
Kelurahan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka-Belitung ternyata menyimpan sejarah peninggalan
Laporan Wartawan Bangka Pos, Iskandar
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Di wilayah Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka-Belitung ternyata menyimpan sejarah peninggalan era zaman penjajahan kolonial Belanda. Salah satunya adalah Makam Belanda DW Becking.
Makam DW Becking merupakan salah satu makam kolonial Belanda yang pernah menduduki kepulauan Bangka. Dimakamkan pada tahun 1851 di Desa Sungaiselan tepatnya di belakang asrama Polsek Sungaiselan Kecamatan Sungaiselan 65 km dari Koba Ibu Kota Kabupaten Bangka Tengah..
DW Becking adalah mayor infantri yang diangkat oleh Pemerintah kolonial Belanda untuk memimpin pertempuran melawan Depati Amir yang berlangsung sejak tahun 1848 s.d. 1851. DW Becking meninggal 1 bulan setelah Depati Amir diberangkatkan ke pembuangan di Kupang.
"Sering orang-orang berkunjung ke sini, melihat makan ini. Pernah ada orang barat, ada juga dari luar Bangka. Sejak saya buat rumah disini kondisi makam ini memang seperti ini tidak ada yang berubah," ujar Solmi (74) yang ditemui Bangkapos.com pada Jumat (8/11/2013).
Nenek yang merupakan warga kelahiran Desa Sungaiselan ini rumahnya tepat didepan makam tersebut, bahkan rumah dapurnya sudah berdempetan dengan makam. Ia menceritakan bahwa pada zaman kolonial Belanda dulu berdasarkan cerita dari nenek moyang mereka bahwa D W Becking meninggal karena bertempur dengan Batin Tikal yang merupakan pejuang asli daerah Bangka yang konon katanya memiliki kesaktian pada masa Depati Amir.
Kenapa bentuk makamnya tinggi, ada yang menceritakan bahwa Mayor ini dimakamkan dalam keadaan berdiri dan ada juga yang bilang dalam keadaan duduk.
"Pada zaman kami dulu ini masih hutan belum ada rumah, biasanya dibelakang makam itu digunakan tempat buang hajat oleh orang kampung, sebab waktu itu belum ada WC," ujar nenek yang menceritakan kehidupan pada waktu itu.
Seiring dengan pertambahan penduduk, sehingga banyak orang bikin rumah dan menjadi ramai. Akan tetapi makam itu tidak pernah diusil oleh orang desa.
Ia menceritakan bahwa pada zaman kolonial belanda kehidupan di Sungai Selan sangat sedih sekali. Mereka harus bersembunyi di Pulau Nangka agar tidak tahu oleh TKR.
"Apabila ada pesawat terbang kami di Pulau Nangka kami lari, sembunyi dihutan takut," ujarnya.
Ia mengatakan pernah ada kabar bahwa makam ini mau di pasang pagar, agar supaya terawat nantinya. Akan tetapi hingga sekarang belum juga dipasang pagar.
Pada makam itu masih jelas tertulis yang menggunakan bahasa Belanda yaitu Hear Rust DW Becking. Majoor Der Infanterie Mil Kommd Van Banka Ridder Der Mil. Will. Orde geb. te Weerdi 12 Maarl 1808. Overl te Soengei Slan, 25 Februarij 1851.
Nenek yang masih ingat betul pada zaman ia masih mengenyam zaman kolonial Belanda mengatakan bahwa tidak jauh dari Polsek Sungaiselan terdapat beberapa makan Belanda. Akan tetapi sudah tidak ada lagi, sebab sudah rata dengan tanah dibuat oleh warga dengan lapangan bola kecil dan kantor polsek.
"Masih ada dua sumur besar yang merupakan peninggalan Belanda. Sumur itu digunakan oleh warga untuk mandi, mencuci dan airnya bersih tidak pernah kering," ujarnya.