Baca Edisi Cetak Bangka Pos
Ambiguitas Makna "Seks Beresiko"
Iklan itu berbunyi sebagai berikut,"Jiwa yang Tegar No Narkoba, Hati yang Murni No Seks Beresiko."
Oleh: Slamet Sunaryo
Staf Pengajar pada Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang
TULISAN ini dibuat dalam rangka mengkritisi Iklan Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dalam memperingati Hari AIDS tanggal 1 Desember 2013. Iklan itu berbunyi sebagai berikut,"Jiwa yang Tegar No Narkoba, Hati yang Murni No Seks Beresiko."
Sekilas kalimat ini biasa saja, namun penulis sangat tertarik dengan idiom seks beresiko yang tertera dalam iklan promkes tersebut. Setelah penulis mencoba untuk mencari makna seks beresiko tersebut, ternyata maknanya adalah hubungan seks yang berisiko penularan penyakit atau kehamilan yang tidak direncanakan.
Secara estetika dan etika tidak ada masalah dengan penggunaan idiom tersebut karena memang idiom tersebut menyiratkan urgenitas bahwa seks yang tidak beresiko adalah yang tidak menimbulkan penyakit, selain itu mampu memenuhi kebutuhan biologis namun tidak menyebabkan kehamilan sehingga mampu mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.
Meskipun demikian tetap saja penulis merasa makna seks beresiko tersebut masih mengandung makna ganda alias ambigu. Keambiguannya terletak pada kedangkalan maknanya. Di satu sisi, jika hanya masalah tidak menimbulkan kehamilan maka cukuplah memakai kondom. Di sisi yang lain, tidak menimbulkan penyakit juga lebih ditujukan pada pemakaian kondom, meskipun kondom yang beredar saat ini terbuat dari latex, dan masih mempunyai pori yang kemungkinan virus seperti HIV masih bisa menembusnya.
Akan tetapi penulis tetap berfikir realistis kemungkinan yang dimaksud dengan seks beresiko dengan dua makna yakni tidak menimbulkan penyakit dan tidak menyebabkan kehamilan itu artinya tidak menyatu. Seks yang tidak menimbulkan penyakit kelamin adalah seks yang tidak beresiko dan seks yang tidak menimbulkan kehamilan terencana juga disebut dengan seks yang tidak beresiko. Sebaliknya seks yang menimbulkan penyakit disebut dengan seks yang beresiko dan seks yang menimbulkan kehamilan yang tidak direncanakan disebut dengan seks yang beresiko.
Namun, tentu saja ada banyak kejanggalan jika penafsiran seks beresiko adalah sebagai berikut. Sebab, mereka yang belum menikah dan melakukan hubungan seksual namun tidak sampai terjadi kehamilan bukan termasuk golongan seks beresiko. Padahal perilaku free sex adalah sumber penularan HIV AIDS dan penyakit menular seksual lainnya. (*)
Selengkapnya baca Bangka Pos Edisi Cetak, Kamis (9/1/2014)