Minggu, 31 Mei 2026

Memperingati Hari Perempuan 8 Maret Cantik itu Barbie?

Siapa (perempuan) yang tidak mau cantik? Tentu tidak ada perempuan di dunia ini yang tidak mau cantik. Yah, perempuan dan kecantikan,

Tayang:

Opini: Luna Febriani, S.Sos, Alumni FISIP Universitas Bangka Belitung (UBB)

Siapa (perempuan) yang tidak mau cantik? Tentu tidak ada perempuan di dunia ini yang tidak mau cantik. Yah, perempuan dan kecantikan, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Terlebih di era modernisasi sekarang, kecantikkan atau menjadi cantik merupakan suatu kewajiban bagi gaya hidup perempuan. Jika pertanyaan bagaimana kriteria cantik bagi perempuan diajukan kepada perempuan itu sendiri, maka hampir mayoritas perempuan pasti akan mengatakan bahwa cantik itu: putih, tinggi, langsing, dan rambut panjang. Kriteria itulah yang banyak dijadikan indikator cantik bagi perempuan. Sehingga banyak dari perempuan-perempuan sekarang yang berlomba-lomba untuk menjadi cantik berdasarkan kriteria tersebut, baik itu dilakukan dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi, baik itu produk-produk kecantikan maupun pergi dan konsultasi ke klinik kecantikkan. Tapi, apakah kita (perempuan) menyadari tentang siapakah yang menciptakan indikator cantik ini, kita sendirikah? Tentu saja jawabnya tidak. Mengapa? Karena ini berkaitan tentang bisnis, yah bisnis kecantikkan.

Fenomena perempuan 'Berbie'

Era modernisasi yang membawa konsekuensi akan perkembangan teknologi dan informasi yang masif sekarang ini tentu saja membawa pengaruh positif bagi manusia. Dimana, tidak ada lagi batas antara ruang, jarak dan waktu yang dapat menghubungkan satu individu maupun kelompok dengan kelompok lainnya di berbagai belahan dunia. Dengan kata lain, informasi dan kemajuan teknologi dapat diakses dengan cepat oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Namun, tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi dan informasi ini juga membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi individu, terutama perempuan.

Merujuk ke belakang, perkembangan teknologi menjadi salah satu penyebab bagi perempuan (zaman dulu, mungkin hingga sekarang) ditempatkan di sektor informal saja. Revolusi industri yang memperkenankan penggunaan mesin (alat-alat teknologi) sebagai sarana efektifitas dan efisiensi pekerjaan, lebih banyak mempekerjakan laki-laki-laki sebagai tenaga kerja, karena konstruksi yang terbangun di masayarakat saat itu adalah perempuan tidak dapat menggunakan mesin dan alat teknologi lainnya.

Secara tidak langsung, fenomena ini menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat yang kemudian menjustifikasi bahwa laki-laki itu tempatnya di sektor formal atau tampil depan publik sementara perempuan ditempatkan di sektor informal (cukup urusan domestik saja). Meskipun sekarang ini fenomena ini sudah cukup memudar, namun tak dapat dipungkiri masih ada masyarakat yang menganggap ini sebagai kebenaran, yang hanya menempatkan perempuan di sektor informal saja.

Selain konsekuensi tersebut, perkembangan teknologi dan informasi sekarang ini juga membawa konsekuensi yang buruk bagi perempuan. Seperti dikatakan sebelumnya, berkembangnya teknologi dan informasi yang masif menjadikan arus informasi dengan cepat diterima oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Melalui teknologi manusia menjadikan segala sesuatu lebih efektif dan efisien, namun disisi lain perkembangan teknologi dan informasi yang masif ini juga dapat melahirkan akumulasi kapaital bagi para pemilik modal yang jika tidak pandai-pandai memfilternya maka kita akan menjadi korbannya.

Fenomena inilah yang kemudian banyak terjadi sekarang, dimana lagi-lagi menempatkan perempuan sebagai korbannya. Yah, fenomena tersebut ialah fenomena tentang kecantikkan perempuan, tentang teknologi kecantikkan yang menjamur sebagai konsekuensi dari konstruksi yang dibangun pada kata cantik. Tidak dapat dipungkiri, dari dulu hingga sekarang yang melekat pada kata cantik adalah tinggi, putih, langsing dan rambut panjang. Hal ini seakan mengeliminasi perempuan-perempuan yang memiliki ciri diluar indkator tersebut sebagai perempuan tidak cantik. Jika digambarkan, cantiknya perempuan ini identik akan kecantikkan yang dimiliki boneka asal Amerika, Barbie.

Boneka barbie memanglah menjadi icon bagi kecantikan perempuan dunia, tak heran banyak perempuan-perempuan yang ingin secantik berbie, begitu halnya dengan perempuan Indonesia. Maka tak heran jika sekarang banyak wajah perempuan Indonesia sekarang yang tiba-tiba putih, tilus, merona, alis tebal (bahkan, wajahnya hampir sama semua bentuknya) juga berbadan langsing. Fenomena ini terjadi di semua lapisan masyarakat, mulai dari selebritis, pekerja, mahasiwi, pelajar dan lain sebagainya berlomba-lomba menjadi barbie.

Konsekuensi dari konstruksi cantik ini menjadikan banyaknya perempuan yang menginginkan cantik ala barbie sehingga ini berdampak pula pada berkembangnya teknologi kecantikan. Hal ini dapat dilihat dari menjamurnya produk-produk kecantikan, salon dan klinik-klinik kecantikkan di Indonesia, yang katanya dapat menjadikan perempuan-perempuan cantik dengan indikator mereka.

Sifat dan jenis dari produk dan klinik kecantikkan itupun beragam seperti produk kecantikkan yang berupa obat, makanan dan minuman serta alat-alat elektronik yang dapat merubah bentuk tubuh, wajah hingga bentuk dari bagian privat perempuan. Dari segi ekonominya, produk dari teknologi dan klinik kecantikkan tersebut tentunya beragam, ada yang untuk masyarakat bawah, menengah dan tinggi semua tergantung calon pembeli.

Selain itu, untuk dapat terlihat cantik tidak bisa dilakukan sekali namun berkali-kali, hingga hal inilah yang kemudian menjadikan perempuan itu tergantung dengan produk atau teknologi kecantikkan tersebut. Karena pada dasarnya setiap perempuan ingin menjadi cantik, maka tak heran jika bisnis kecantikkan merupakan bisnis yang mencerahkan. Maka tak heran jika bisnis kecantikan merupakan bisnis yang menjanjikan, karena selama masih ada perempuan, kecantikkan dan bisnis kecantikkan takkan habis.

Tentu saja bisnis kecantikkan ini tidaklah berjalan sendiri, melainkan di support oleh teknologi media juga, baik itu media elektronik, cetak maupun media sosial. Dalam hal ini media berperan dalam menyerukan makna cantik (putih, tinggi, langsing atau rambut panjang) kepada halayak umum melalui iklan, film serta tayangan lainnya.

Sehingga tak heran model-model yang biasa tampak di media-media yang sering kita saksikan adalah mereka yang memiliki kriteria cantik (putih, tinggi, langsing atau rambut panjang) yang kapitalis dan media konstruksikan.
Disinilah kemudian perempuan menjadi korban, ironisnya kebanyakan dari perempuan justru tidak menyadari jika mereka telah menjadi korban.

Ketidaksadaran itu dapat dilihat dari banyaknya perempuan yang memanfaatkan teknologi kecantikkan karena dengan teknologi tersebut mereka dapat memperoleh apa yang mereka inginkan, yakni cantik. Padahal, menurut Herbert Marcuse, teknologi bukan merupakan sesuatu yang bebas nilai. Dengan kata lain, apa yang diinginkan oleh manusia hanyalah apa yang dikehendaki oleh sistem itu sendiri. Dalam kasus ini, yang dikehendaki oleh sistem adalah konsumsi yang massif dari perempuan, agar bisa tampil cantik, sehingga pemilik modal (kapitalis) mendapatkan keuntungan yang maksimal dari sistem ini.

Hingga pada tingkat lanjut, kapitalisme ini menciptakan kontrol sosial yang represif dan mengikat, dengan kata lain perempuan tidak dapat membuat dan memilih pilihan lain selain apa yang diangggap penting dan perlu oleh sistem tersebut. Hal inilah yang kemudian menjadikn perempun powerless atau tidak memiliki kekuatan unttuk tubuhnya sendiri, atau dengan kata lain segala sesuatu tentang tubuh perempuan distandarisasi oleh sistem kapitalis.

Sehingga segala sesuatu yang dikontruksi oleh para pemilik modal melalui media tentang kecantikkan selalu menjadi standar cantik yang baku bagi para perempuan itu sendiri. Maka, perempuan tidak dapat menentukan makna cantik bagi dirinya sendiri, karena itu telah dikonstruksi oleh bisnis. Ironis!

Kita bukan Barbie!
Melihat fenomena ini, ada satu pelajaran penting yang ingin saya sampaikan tentang keberadaan teknologi dan informasi bagi perempuan. Perkembangan teknologi dan informasi yang masif tentu saja membawa keuntungan dalam hal ini perempuan juga tidak boleh ketinggalan akan perkembangan tersebut, namun disisi lain perempuan harus jeli dan pandai dalam memanfaatkan perkembangan ini karena seperti yang dijelaskan di atas- jika tidak maka tubuh yang seharusnya menjadi otonomi bagi perempuan itu sendiri justru menjadi objek bagi pengakumulasian modal oleh para pemilik modal. Tidak masalah perempuan ingin menjadi cantik, tapi cantikkah atas criteria kita sendiri, cantiklah seusai keinginan kita bukan keinginan orang apalagi teknologi. Karena, tubuh perempuan adalah hak perempuan, bukanlah objek ekonomi!

Perlu ditegaskan, perempuan bukanlah barbie! Barbie diciptakan dari teknologi yang memang tujuannya sudah jelas untuk mendapatkan keuntungan dari hasil produksi boneka tersebut, sementara perempuan diciptakan oleh sang Penciptanya bukan untuk mendapatkan keuntungan. Selain itu, barbie diciptakan sama atau serupa yakni tinggi, putih, rambut panjang dan langsing, sementara perempuan berbeda ada yang berkulit coklat, hitam, putih, ada yang rambut panjang dan pendek, ada yang kurus, langsing dan gemuk.

Maka, mulai sekarang marilah kita menyadari bahwa sesungguhnya kita bukanlah barbie. Kita perempuan, kita bukan terlahir dari teknologi layaknya Barbie, dan kita semua terlahir dengan kecantikkan yang kita miliki masing-masing. Kita juga berbeda degan berbie, karena kita dianugerahi pencipta hati sementara Barbie tidak. Dan, dari hati yang kita miliki situ pula kita bias menjadi cantik. Jadi,s kita (perempuan) juga yang memiliki hak untuk menentukan makna cantik bagi dirinya sendiri bukan atas dasar teknologi. Karena, cantik yang dikonstruksi dari teknologi adalah mitos yang didengungkan untuk menarik keuntungan dari tubuh kita (perempuan). Selamat Hari Perempuan Internasional, perempuan!(*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved