Penjualan Bahan Bangunan Merosot
Penjualan pasir, batu gunung dan bahan bangunan lainnya di toko bangunan (TB) milik Yuni di jalan Belanak Lima, Kelurahan Air Salemb
PANGKALPINANG, BANGKA POS -- Penjualan pasir, batu gunung dan bahan bangunan lainnya di toko bangunan (TB) milik Yuni di jalan Belanak Lima, Kelurahan Air Salemba, Kecamatan Gabek, merosot. Berkurangnya omzet penjualan ini sebagai dampak lesunya perekonomian Babel.
Menurut Yuni, penjualan pasir yang harganya Rp 120.000 per kubik dan batu gunung Rp 1.000.000 per mobil, perbulannya biasanya mencapai puluhan mobil kini kian sepi dari orderan. Akibat sepinya pembeli Yuni pun mengaku lesu bahkan akhir-akhir ini tak begitu berselera makan.
"Di bulan Maret untuk dua bahan bangunan itu (pasir dan batu gunung) sepi. Sekarang juga belum ada orderannya, kosong. Merosot semua, makanpun dak selera. Tengah keadaan seperti ini dek gak mau mikir lagi lah," ungkap Yuni, kepada harian ini, Selasa (7/4).
Yuni mengungkapkan dampak dari lesunya omset toko seorang karyawan yang bertugas sebagai sopir truk pengangkut bahan bangunan sering tidak masuk.
"Mana sekarang ni sopir kami gak masuk, dia sudah jarang masuk terkendala masalah ni lah," ungkap Yuni.
Yuni mengaku mengambil pasir dan batu gunung dari pengepul dan dijual secara eceran kepada pembeli. Itupun kebanyakan pembeli dari kalangan masyarakat biasa.
Penurunan omset penjualan juga dirasakan Musri (48), pemilik toko bangunan (TB) Graha Material di jalan Kampak, Pangkalpinang. Menurutnya penurunan jualan alat-alat dan bahan bangunan di tokonya itu sekitar 60 persen dan itu dirasakan sejak akhir tahun 2014.
Sebelumnya omset di toko bangunan milik Musri untuk pasir dan batu gunung per hari bisa mencapai sekitar 9 mobil.
"Sekarang satu hari bisa dua sampai tiga mobil, kadang juga tidak ada. Sekarang ni dapet Rp 50 ribu cukup lah dengan keadaan sekarang ni, sepi. Dalam masa ini jelas kita kalah di modal, tapi dari pada tidak kerja gak apa lah," ungkap Musri, kepada harian ini, sambil mengelus keningnya, Selasa (7/4).
Musri biasa membeli batu gunung Rp 900 ribu per mobil dari distributor di Sungailiat, Kabupaten Bangka dan Terak, kabupaten Bangka Tengah.
"Ngambil dari gunung, disitu langsung ada yang angkat. Untuk di Sungailiat biasa ambil dengan harga Rp 140.000 per kubik,"katanya.
Musri menambahkan, dalam keadaan ekonomi yang melemah sekarang ini, daya beli bahan bangunan berkurang.
"Seperti Closet udah lama belinya, berbulan-bulan panjang gak laku-laku. Awalnya saya pertama buka toko bangunan di sini sekarang udah ada sekitar tiga tempat. Namun kita yang modal kecil ini ketilep-ketilep lah," ujarnya. (n5)