Sabtu, 18 April 2026

ABG Asal Bangka, Dibayar Rp175 Ribu dan Dipaksa Layani 4 Pria di Bandung

Anak baru gede (ABG) berinisial LH ini mengaku setiap harinya dipaksa melayani tiga sampai empat lelaki dari berbagai usia

Editor: Hendra

BANGKAPOS.COM, BANDUNG, - Anak baru gede (ABG) berinisial LH ini mengaku setiap harinya dipaksa melayani tiga sampai empat lelaki dari berbagai usia. Ia mendapatkan upah sebesar Rp 175 ribu dari setiap kali kencan.

Namun ia hanya mendapatkan uang sebesar Rp 70 ribu dari setiap kali kencan setelah dipotong germonya. "Selama ini saya belum pernah dikasih uangnya. Untuk kehidupan sehari-hari mesti kas bon ke bos. Kalau sakit cuman dikasih jamu," ujar LH yang berstatus yatim piatu itu.

LH tercatat masih berumur 17 tahun dan kini sudah bernafas lega. Ia terbebas dari pekerjaan hina yang tak pernah diinginkannya selama hidupnya.

LH kelahiran Bangka Belitung kini berada di bawah pengamanan Polrestabes Bandung, Minggu (19/4/2015).
LH mengaku dipekerjakan sebagai wanita pekerja seks komersial (PSK) di Jalan Dewi Sartika, Gang Ijan No 55 Kelurahan Pungkur, Kecamatan Regol.

Gadis berparas manis ini sudah menjalani profesi itu hampir sebulan lamanya. "Saya sudah tidak tahan dengan pekerjaan ini dan saya tidak kuat dengan perlakukan tamu yang kasar," kata LH ketika berbincang dengan Tribun.
LH terjerumus dunia prostitusi bukan tanpa sebab.

Gadis yang besar di Cibinong, Kabupaten Bogor itu awalnya hanya ingin mencari pekerjaan di Kota Bandung.
Berbekal tekad dan nekad, LH justru dijebak seseorang temannya yang mengajaknya ke Kota Bandung.

"Tadinya saya kerja di Karawang di toko ponsel, tapi temen saya melalui facebook nawarin pekerjaan di Bandung. Lalu saya ke Bandung dan janjian bertemu di Tegallega. Sesampainya di sana teman saya tak kujung datang," kata LH.

Rasa cemas dan gelisah menghantui LH yang datang sendirian ke Tegallega. Ia pun mondar-mandir di sekitar kawasan Tegallega. Lantas ia beristirahat di warung kopi yang ada di pinggir jalan.

Dengan wajah kebingungan, ia pun ditanya tujuan dan tempat tinggal oleh ibu yang menjaga warung kopi tersebut.
"Karena saya sudah tidak ada ongkos. Ibu warung menawarkan saya untuk jaga warung. Saya pun mau. Sampai tiga hari, lalu ada anak angkatnya. Dia kemudian membawa saya ke rumah kost yang ada di belakang ITC," kata LH.

Di rumah sewaan itu, LH mengaku bertemu dengan seorang wanita bernama Yuli. LH pun ditawari pekerjaan sebagai penjaga toko di kawasan Dewi Sartika.

Ia pun langsung mengiyakan tawaran tersebut lantaran sudah tak punya lagi ongkos untuk sehari-hari. "Awalnya tidak tahu, tapi ternyata di gang itu saya terus dipaksa untuk melayani laki-laki. Saya mau keluar tapi ditahan karena saya punya hutang karena bekerja di situ," ujar LH seraya menyebutkan setiap harinya tak bisa keluar dari rumah kontrakan di lokasi prostitusi itu.

LH berhasil kabur dari lokasi prostitusi ilegal itu setelah mengelabui penjaga rumah kontrakan. Ia menyebut akan ada polisi yang merazia Jalan Dewi Sartika. Lantas ia pun langsung kabur begitu pintu rumah kontrakannya terbuka.
"Setelah itu saya melapor ke polisi tapi tidak tahu dari mana. Saya kaburnya Jumat 17 April 2015 sekitar pukul 00.00," kata LH.

LH mengaku setiap harinya dipaksa melayani tiga sampai empat lelaki dari berbagai usia. Ia mendapatkan upah sebesar Rp 175 ribu dari setiap kali kencan.

Namun ia hanya mendapatkan uang sebesar Rp 70 ribu dari setiap kali kencan setelah dipotong germonya. "Selama ini saya belum pernah dikasih uangnya. Untuk kehidupan sehari-hari mesti kas bon ke bos. Kalau sakit cuman dikasih jamu," ujar LH yang berstatus yatim piatu itu.

Sebelumnya diberitakan, DM (35), H (38), NO (38), BD (33), TM (49), dan Euis 57, tertunduk malu di Markas Polrestabes Bandung, Jalan Jawa, Minggu (19/4/2015).

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved