Opini: Politisasi Ranah Sepakbola

Sepakbola telah menjadi cabang olahraga yang paling menarik hati di seantero bumi. Olahraga ini bisa

Oleh: Novendra Hidayat, Dosen dan Pembina Kelompok Kegiatan Olahraga dan Seni (K20S) FISIP UBB

Sepakbola telah menjadi cabang olahraga yang paling menarik hati di seantero bumi. Olahraga ini bisa dimainkan dan dinikmati oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun dengan cara amat sederhana.

Dengan realitas demikian pantaslah dikatakan sepakbola sebagai suatu bahasa universal. Tidak hanya sebagai olahraga, sepakbola dalam konteks global adalah bahasa pemersatu yang dapat merekatkan persaudaraan kehidupan antar bangsa.

Sebagai bahasa yang universal, sepakbola selalu saja terasa hingar-bingarnya. Sensasi olahraga sepakbola pun tak luput juga dinikmati masyarakat di Indonesia baik itu hanya sebatas bermain mengisi waktu senggang, hobi, amatiran hingga profesional-profesional yang hidup di sepakbola.

Geliat sepakbola di Indonesia sungguh menjadi sebuah harapan kita bersama akan hadirnya sepakbola yang bisa memanjakan seluruh masyarakat Indonesia. Memanjakan penonton karena hadirnya tontonan sepakbola yang berkualitas serta para pemain yang berimbas kepada hadirnya industri sepakbola.

Untuk mewujudkan ini semua kita membutuhkan sebuah komitmen bersama mengenai manajemen pengelolaan persepakbolaan yang bebas dari intervensi apapun. Urusan sepakbola tidak bisa dan jangan sampai menjadi alat-alat politis yang kental akan kepentingan-kepentingan jahat para pemodal maupun individu haus kuasa.

Sepakbola bukanlah menjadi olahraga kuasa mengkuasai, namun sepakbola berkaitan dengan bagaimana kita berusaha menyatukan kemajemukan kita bersama melalui sebuah kompetisi yang sehat, kompetitif tanpa mengabaikan nilai-nilai sportifitas.

Realitas yang kita hadapi bersama saat ini sungguh jauh berbeda dan mengecewakan harapan besar akan sepakbola. Hasrat kuasa acapkali menciderai dan memporak-porandakan agenda persepakbolaan Indonesia. Tak luput kebijakan-kebijakan sepakbola disisipi dengan kepentingan.

Sebagaiaman kita saksikan begitu buruknya nasib pesepakbola Indonesia mulain dari tunggakan gaji pemain, skandal pengaturan skor, lambannya pengembangan infrastruktur hingga pembentukan tim nasional yang disusupi kepentingan-kepentingan. Ini semua pada akhirnya menjadi jawaban awal kita semua akan nasib sepakbola Indonesia yang miskin akan prestasi.
Langkah-langkah penyelamatan oleh beberapa pihak dianggap perlu untuk dilakukan, yang pada akhirnya berujung kepada keluaranya sanksi dari FIFA sebagai otoritas tertinggi sepakbola dunia. Masyarakat sepakbola Indonesia pada akhirnya menjadi saksi dan korban akan pertunjukkan kuasa mengkuasai terlepas dari niatan baik perbaikan nasib sepakbola Indonesia. Lantas yang menjadi pertanyaan kita bersama, akan dibawah kemana sepakbola Indonesia? Ke sebuah tatanan sepakbola yang baik efek dari reformasi sepakbola yang keras didengungkan untuk diperjuangkan atau justru malah sebaliknya menuju mati surinya sepakbola Indonesia.

Menjamin kompetisi
Kesadaran kita bersama akan potensi sepakbola Indonesia harus segera ditindaklanjuti dengan sesegera mungkin dalam sebuah tata kelola yang menjamin sepakbola bisa dinikmati semua orang. Pemerintah harus menjamin hadirnya lapangan sepak bola disetiap daerah bahkan setiap desa, jangan biarkan rakyat kehilangan lapangan sepakbolanya dikarenakan ego pemutus kebijakan untuk dijadikan kawasan bisnis.
Pemikiran dimana sebenarnya kekurangan atau kelemahan PSSI dalam membina persepakbolaan di Indonesia tentu akan selalu menjadi perdebatan yang menarik. Penulis berusaha mengkaji berdasarkan teori Bompa (1983) dimana prestasi optimal dapat dicapai melalui pembinaan yang sinergis dan berkesinambungan seluruh komponen pendukung prestasi. Komponen pendukung tercapainya prestasi optimal satu diantaranya adalah dilaksanakannya kompetisi yang berkualitas.
Kualitas kompetisi yang rendah menyebabkan prestasi optimal yang menjadi tujuan organisasi atau klub belum dapat terwujud. Konflik pengelolaan klub dan kompetisi yang terjadi dalam tubuh PSSI selama tahun 2010-2011 sangat mempengaruhi kualitas kompetisi di Indonesia. Prestasi tim nasional dalam berbagai kejuaraan masih belum membanggakan, kinerja pengurus PSSI dan klub anggota dalam melaksanakan kompetisi teryata belum mampu membawa pengelolaan kompetisi sepakbola Indonesia berada di standar profesional (versi AFC).
Selain itu, pemutus otoritas sepakbola negeri ini harus bisa menjamin hadirnya sebuah kompetisi yang dipelopori masayarakat dalam sebuah ajang tanding antar kampung (tarkam). Jika ini semua sudah hadir pemerintah daerah tinggal mendukung melalui program-program penguatan sehingga akan muncul bibit-bibit muda terbaik nusantara melalui sebuah kompetisi dari level akar rumput.
Industri Sepakbola Indonesia
Dalam sebuah kesempatan mantan Ketua PSSI Nurdin Halid di era kepemimpinannya pernah mengatakan bahwa arah industri sepakbola dunia adalah masuk ke dalam arus sepakbola modern yang mengglobal. Sepakbola Indonesia harus terlibat dalam panggung raksasa persepakbolaan dunia yang semakin mengglobal dan kompetitif. Strategi dan tahapan untuk mencapai visi sepakbola industri dijabarkan lagi dalam berbagai program strategis yang tertuang di dalam blueprint sepakbola Indonesia 2007-2020, melaui kompetisi yang dikemas dalam industri PSSI berharap lahirnya prestasi tim nasional Indonesia.
Industri sepakbola selain bermanfaat bagi seluruh komponen yang terlibat langsung dalam kegiatan sepakbola juga sangat membantu program pemerintah untuk meningkatkan roda perekonomian. Firmansyah yang dikutip kompas (2009: 1) dalam iklim otonomi daerah diharapkan setiap pemerintah daerah dapat menggali potensi olahraga daerahnya. Olahraga tidak bisa dilihat sebagai alat pengembang sumber daya manusia saja, juga dilihat sebagai peluang dan sumber potensi ekonomi daerah.
Tanda-tanda atau indikator industrialisasi sepakbola atau pengelolaan klub dan kompetisi yang profesional di Indonesia menurut Subardi (2010: 4) sudah mulai terlihat. Kompetisi ISL (Indonesia Super League) atau LSI (Liga Super Indonesia) yang merupakan kompetisi sepakbola profesional di Indonesia pada musim kompetisi 2009-2010 dikuiti 18 tim. Pertandingan LSI berjumlah 306 selama satu musim, live TV: 113 pertandingan, melibatkan jumlah penonton sebanyak: 2.067.500 orang, rata-rata penonton tiap pertandingan: 10.712 orang dengan durasi selama 8 bulan. Liga Super Indonesia berhasil bekerja sama dengan PT. Djarum sebagai sponsor Utama. Perputaran uang dari industri sepakbola di Indonesia diperkirakan bisa menembus Rp. 3 triliun (Kompas, 2010: 29). Kompetisi Djarum LSI dan Liga Ti-phone Divisi Utama 2010 yang dikemas secara profesional diharapkan menjadi pendorong dan penarik terciptanya industri dengan nilai ekonomi tinggi. Klub peserta ISL jika selama 1 musim mengeluarkan rata-rata 20 miliar rupiah untuk menjalani kompetisi maka uang 360 milyar rupiah telah beredar untuk kegiatan sepakbola.
Edisi terakhir persepakbolaan Indonesia sebelum dibekukan FIFA juga menunjukkan geliat industri yang sama. Hal ini ditandai dengan hadirnya QNB perusahaan asing asal Qatar sebagai sponsor utama perputaran kompetisi sepakbola tertinggi negeri ini. selain itu, mengenai hak siarpun sudah ditangani dengan serius televisi berbayar asing. Hal ini semua menunjukkan telah berjalan dengan baik industrialisasi persepakbolaan Indonesia.
Pada akhirnya, kita semua berharap carut marut tata kelola serta tarik menarik kepentigan politis adalam persepakbolaan Indonesia segara berakhir. Kita semua merindukan hadirnya sepakbola Indonesia yang sehat, indah serta membanggakan dengan hadirnya prestasi-prestasi baik level klub maupun tim nasional di level regional asia maupun dunia. Majulah sepakbola Indonesia. (*)

Editor: emil
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved