Kamis, 23 April 2026

Opini: Ramadan Momentum Meningkatkan Karya dan Takwa

ALLAH SWT telah memilih Ramadhan sebagai bulan istimewa. Nabi menyampaikan bahwa seorang muslim harus

TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Ilustrasi: Umat Muslim melaksanakan salat Tarawih di Masjid Agung, Medan bulan suci Ramadan 1436 H. 

Opini: Heriyanto, Guru PAI SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur

ALLAH SWT telah memilih Ramadhan sebagai bulan istimewa. Nabi menyampaikan bahwa seorang muslim harus bergembira bila bertemu dengan bulan mulia tersebut. Karena bila seseorang mengetahui keutamaan bulan Ramadhan, dia ingin setiap bulan adalah bulan Ramadhan.

Allah pun memilih beberapa peristiwa penting dalam bulan Ramadhan. Allah melantik nabi pada bulan Ramadhan. Alquran pun diturunkan pada bulan Ramadhan. Di bulan ini juga ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam lailatul qadr. Saat itu, malaikat Jibril memimpin barisan malaikat Allah turun ke bumi dan mendoakan para manusia yang mengharapkan ridho Allah.

Dalam hal ibadah pun, pahalanya jauh lebih besar dibandingkan beribadah di bulan-bulan lainnya. Dimaksud ibadah di sini tidak hanya ibadah ritual, tetapi juga perbuatan baik lainnya, seperti kepada lingkungan, teman, saudara, keluarga, dan lainnya. Bila dilakukan di bulan Ramadhan, semuanya memiliki nilai kebaikan yang tinggi.

Di bidang penelitian pun, banyak karya-karya monumental dibuat di bulan Ramadhan. Imam Malik dan Imam Syafi'i beberapa contohnya. Mereka memanfaatkan Ramadhan untuk melahirkan karya tulis yang sangat monumental. Buku Imam Syafi'i karyanya terus dibaca orang banyak, meskipun sudah berusia 1.400 tahun. Banyak peristiwa sejarah yang terjadi di bulan Ramadhan.

Termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 pun, jatuh di bulan Ramadhan. Bagaimana pun, bulan prestasi yang dicetak umat Islam ada dalam bulan Ramadhan.

Shaum bulan Ramadhan diperintahkan oleh Allah pada tahun ketiga kenabian Rasulullah. Meskipun begitu, tradisi shaum sudah dikenal oleh Rasulullah sebelum perintah ini turun, yaitu Shaum Arafah pada bulan Dzulhijjah. Saat ini, ibadah tersebut menjadi shaum sunnah.

Ada dua shaum yang diwajibkan dalam Islam, yaitu shaum di bulan Ramadhan dan shaum Qadha. Shaum Qadha adalah shaum pengganti ketika tidak mampu melakukan shaum ketika bulan Ramadhan. Ada beberapa kondisi yang memperbolehkan hal ini, yaitu ketika seorang wanita sedang nifas, ketika seorang ibu sedang hamil dan menyusui, dan ketika seorang muslim berada dalam perjalanan jauh.

Dalam kasus rumah tangga, apabila seorang suami mengharamkan istrinya, maka wajib bagi suami berpuasa 3 hari. Ada juga shaum 10 hari, yaitu pada haji Tamattu dan Khiram. Pada saat di Mina, jamaah haji wajib melakukan kurban 1 ekor kambing.

Sembilan puluh delapan persen jamaah haji Indonesia melakukan haji Tamattu. Bila tidak mampu melakukan kurban, maka wajib baginya berpuasa 3 hari di tanah suci, dan 7 hari ketika kembali di negerinya sendiri. Ada juga shaum Khifarat berjumlah 60 hari dan harus dilakukan terus menerus serta tidak boleh terputus.

Mereka yang harus melakukan shaum ini adalah seseorang yang telah membunuh orang lain. Selain itu, suami yang mengharamkan istrinya seharam bersetubuh dengan ibunya, wajib melakukan shaum ini. Pihak lainnya yang harus melakukan shaum ini adalah pasangan suami-istri yang melakukan hubungan badan di siang hari di Bulan Ramadhan.

Puasa juga pernah diwajibkan untuk umat sebelum umat Muhammad SAW. Umat nabi Musa diwajibkan shaum selama 60 hari lamanya. Sedangkan nabi Zakaria diperintahkan berpuasa dengan tidak berbicara berhari-hari. Hal ini karena ketika dia berusia 80 tahun dan istrinya yang berusia 70 tahun melahirkan bayi bernama Yahya. Pada saat itu, umatnya meributkan hal ini, sehingga Zakaria diperintahkan untuk shaum berbicara.

Siti Maryam ketika melahirkan Isa pun pernah diperintahkan untuk shaum bicara ini. Ketika datang malaikat Jibril kepadanya untuk menyampaikan bahwa dirinya akan melahirkan seorang putra, Maryam kebingungan dan mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya yang akan memfitnahnya.

Maka Siti Maryam pun diperintahkan untuk shaum tidak berbicara ini. Nabi Adam sendiri pada saat terusir dari surga, diperintahkan untuk melakukan shaum.

Nabi Nuh ketika berada di atas bahtera tatkala banjir merendam dunia, pun diperintahkan untuk melakukan shaum. Nabi Ibrahim ketika dibakar oleh kaumnya, dia pun melakukan shaum. Nabi Yusuf ketika berada di dalam penjara diperintahkan untuk shaum. Para nabi diperintahkan untuk shaum untuk membangkitkan perjuangan dalam dirinya. Selain itu, shaum juga untuk mendorong keinginan yang ingin diperoleh.

Puasa targetnya adalah ketakwaan. Menurut Alquran, indikator takwa yang pertama, selain iman dan punya kepedulian sosial, yaitu pengendalian emosi. Orang yang bertakwa memiliki emosi yang stabil. Indikator kedua dari orang yang bertakwa adalah berjiwa besar, dan bukan pendendam.

Sedangkan yang ketiga, orang yang bertakwa selalu konsisten memenuhi janjinya. Karena barang siapa yang berjanji dan memiliki niat serta tekad untuk memenuhinya, maka Allah akan memberikan kemudahan.

Namun, barang siapa yang berjanji tetapi tidak ada niat untuk memenuhinya, makan Allah akan memberikan kesulitan. Kaitannya dengan hutang piutang, barang siapa yang berhutang dan berniat untuk melunaskannya, maka Allah akan membantunya.

Sedangkan barang siapa yang berhutang tetapi tidak berniat melunasinya, maka Allah akan memberikan kesulitan. Bagaimana pun, memenuhi janji adalah salah satu ciri orang yang bertakwa.

Target ibadah shaum adalah sabar dalam menghadapi kekurangan rezeki dan ketika mendapatkan musibah. Selain itu, shaum mencetak manusia untuk ulet dalam mengerjakan sesuatu. Bila berbuat dosa dan salah, orang yang shaum akan sportif mengakui kesalahannya dan tidak pernah bangga dengan dosanya.

Bila ini jadi ukuran ibadah shaum, karakter unggulan ini tidak hanya sekedar berhenti pada tidak makan dan minum serta yang hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga berhenti melakukan hal-hal yang mengurangi ibadah shaum.

Oleh karena itu, untuk menggapai puasa yang berkualitas, tidak hanya menahan terhadap hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga berhenti total dari perasaan-perasaan yang berbuat dosa. Sehingga pikiran, perasaan, dan imajinasinya pun adalah hal-hal yang baik.

Bagaimana pun, amal yang paling baik adalah puasa yang berhenti dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan kesucian Ramadhan. Shaum Ramadhan harus dikawal kesuciannya. Banyaknya shaum rusak karena lidahnya. Maka dari itu, kita harus banyak membaca Alquran dan menyebut nama Allah.

Pada bulan Ramadhan, Alquran harus banyak dibaca dibandingkan bulan lainnya, serta nama Allah pun harus lebih banyak disebut melebihi di bulan lain. Pada Ramadhan ini juga kita harus sering-sering bersilaturahmi ke rumah Allah.

Kita juga harus membangun keakraban dengan sesama manusia. Selain itu, Ramadhan juga tidak boleh ada aksi anarkis dan tidak boleh juga ada orang yang dirugikan.(*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Cerpen: Aaah !

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved